Entahlah keputusan ini benar atau tidak. Tapi akhirnya aku setuju membantunya. Dia memang menyebalkan. Tapi hati kecilku sebenarnya tak terlalu membencinya. Sejak apa yang ia lakukan hari ini dan kesabarannya, pandanganku padanya kini agak berubah. Tak sering aku bersikap sinis padanya, dan yang ia lakukan hanya tertawa dan tersenyum. Mengingatkan aku pada kakaknya.
Kendaraan itu mengarah ke hotel. Hotel Reyno. Aku sempat bingung. Zach hanya mengatakan seseorang ingin bertemu denganku. Namun, siapa itu aku tidak juga diberi tahu.
Mungkinkah Reyno? tapi untuk apa melakukan hal seperti ini? dia bisa menjemput atau berkata padaku langsung. Kecuali jika ...
"Orang itu ... bukan Reyno, kan?" Zach tidak mengangguk ataupun menggeleng, ia masih memutar setir memarkirkan kendaraannya. Kita sudah berada di basement.
"Annora, kau cuma tinggal bertemu dengannya sebentar saja, kok." Ia tersenyum lagi, lalu mematikan mesin.
Aku terdiam. Perasaanku tidak enak. Zach bukan orang seperti itu. Aku yakin.
"Yuk, keluar, ikuti aku." Ia melepas sabuknya dan sabukku.
Dari basement kita naik lift menuju lobby. Kemudian keluar dan berjalan ke arah lift lainnya di sebelah kanan, melewati resepsionis. Zach menekan angka tiga, dan pintu pun menutup. Aku masih bergeming di sampingnya.
Baru pukul empat seperempat. Kalau tidak lama, aku masih bisa mengejar waktu sebelum shift sore. Tapi entah kenapa sejak tadi dadaku terus berdegup. Jujur aku penasaran.
Sampai di lantai itu, kami berjalan ke arah kiri. Terdapat plang besi di tembok, berangka 300 - 315. Langkah Zach yang panjang agak sulit kuimbangi. Namun, tak jauh beberapa kamar kami lewati, akhirnya kita berhenti di pintu kedua dari ujung kiri. Kamar nomor 302.
Zach baru akan menempelkan kartunya membuka pintu, ketika aku tiba-tiba saja menarik tangannya.
"Apa maksudnya ini? kenapa harus masuk ke kamar?" kuratap wajahnya serius, perasaanku semakin tidak nyaman sekarang.
"Karena tidak mungkin bisa bertemu denganmu dengan santai di lobby, atau tempat lainnya." Zach terkekeh.
"Maksudnya? memang siapa sih orang ini?" kali ini nada suaraku sedikit tegas.
"Santai, Annora. Aku akan menemanimu. Tidak akan lama." Ia terkekeh lagi.
"Jangan-jangan kau mau menjebakku? apa di dalam sana banyak pria hidung belang? aku gak ngerti sekarang?!" anehnya semakin aku marah, semakin jadi tawanya.
"Tidak-tidak, jangan berpikir aneh-aneh ... hahaha ..." Ia memegang perutnya geli. Wajahnya merah menahan tawa sambil menatapku.
"Kenapa kau tertawa?" emosiku tak juga mereda karena gelagatnya. "Aku serius!" sebelah tangan Zach perlahan menepuk pundakku. Ia akhirnya berusaha tenang dan kembali tersenyum. Walau aku tahu, ia mati-matian menahan tawa.
Ini menjengkelkan!
"Dengar, bukan seperti yang kau pikirkan, ok? dan ingat, aku tidak akan pernah melakukan hal serendah itu. Hanya membantu seseorang yang sangat ingin bertemu denganmu. Itu saja." Alisku tetap berkerut. "Aku berjanji padanya untuk tidak membuka identitasnya dulu sebelum kau datang, jadi tolong bantulah aku, Annora." Semakin bingung sekarang. Hanya helaan dan sedikit anggukan yang akhirnya kulakukan. Zach pun kembali menekan kartu itu di sensor, dan pintu terbuka.
Kamar itu tidak besar, ukuran deluxe, dan tampak kosong. Tidak ada siapapun di sana. Zach masuk lebih dahulu, lalu menyalakan semua lampu. Ia menoleh ke belakang, mengisyaratkan aku untuk ikut ke dalam. Kakiku rasanya enggan melangkah.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
