Patience And Expectation

3.4K 167 9
                                        

Kendaraan hitam ini kembali kutumpangi. Seseorang di sampingku, sedari tadi berwajah serius, terlihat menahan emosi, namun matanya tetap hangat ketika menatapku. Tangan kirinya terus menggenggam tanganku dan tak dilepasnya sejak tadi. Satu kata yang terus ia ucapkan. Maaf. Berkali-kali ia katakan itu. Responku mengangguk, dan mengangguk lagi.

"Sebulan lagi, Annora. Bersabarlah." Akhirnya sebuah kalimat ia lontarkan.
"Maaf aku telah membuatmu seperti ini. Aku terlalu egois." Kali ini ia berdecak mengutuk dirinya.

"Jangan salahkan dirimu, dan hentikan terus meminta maaf." Kugenggam balik tangan yang tak biasanya terasa dingin. "Apa yang terjadi barusan aku sudah tidak peduli. Itu resiko bagiku karena tetap ingin bersamamu." Senyum tipis menghiasi bibirku. "Aku juga egois. Kita sama-sama egois karena saling ingin memiliki." Reyno menoleh lalu  ikut tersenyum tipis. Tangannya bergerak naik mengacak-acak rambutku.

"Jadi maksudmu kita pasangan egois?" ia terkekeh. Aku mengedik dan tetap tersenyum.

***

Kami akhirnya berhasil mengejar shift sore itu. Itu pun karena aku bersikeras. Sedangkan Reyno sedikit tidak yakin dengan kondisiku. Tapi lagi-lagi aku meyakinkannya. Masalah Diana tadi siang bukanlah apa-apa. Pipiku baik-baik saja. Aku hanya tak ingin mengingatnya.

Terbesit Zach yang seharian mengantarku, dan meminta tolong untuk ternyata bertemu ... wanita itu. Masih mengganjal sebenarnya. Jujur aku merasa sangat kesal.

Kenapa dia harus membantu Diana?

Aku terpaksa merahasiakan ini dari Reyno. Bisa runyam jika dia sampai tahu. Apalagi hubungan dengan adiknya tak terlalu baik.

Shift malam di cafe berjalan normal. Reyno pun ikut berada di sana setelah absen beberapa hari. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan murung di wajahku. Begitu juga dengannya. Beberapa kali ia terlihat melamun memikirkan sesuatu. Ia memilih menyembunyikan di balik topi cap hitamnya.

***

Malam itu kendaraan Reyno sudah terparkir di depan apartemen kecilku. Tampaknya ia masih saja merasa bersalah. Vivian tidak ada sejak dua hari yang lalu, ia mengambil cuti seminggu dan pulang ke rumahnya. Reyno sudah mengambil posisi duduk berselonjor di depan kasur dan terdiam di sana.

"Kau mau minum apa?" tanyaku sambil melepas jaket dan menggantungnya.

"Tidak usah." Jawabnya singkat. Aku pun menghela lalu berjalan menghampiri dan duduk di sampingnya.

"Rey ... sudahlah ... kau tidak perlu seperti ini. Aku sudah tidak apa-apa." Kurangkul sebelah lengannya, lalu bersandar. Ada aroma yang kusukai. Mataku terpejam sambil menghirup pelan.

"Semakin lama, semakin ia melakukan segala cara. Ini harus secepatnya berakhir. Masih satu bulan lagi ..." Ia menekan pangkal alis.

Aku memilih diam. Emosinya masih tersisa, sejak sore memang ia susah payah meredamnya.

"Tahun depan, Annora." Reyno menoleh ke arahku.

"Hmm? kenapa tahun depan?" matanya begitu lekat menatapku. Seperti ada sesuatu di sana yang ingin ia kemukakan.

"Tahun depan ... persiapkan dirimu."

Hah?

Reyno langsung memelukku tanpa aba-aba. Dekapannya begitu erat. Tapi aku masih bingung dan menerka-nerka.

"Kuharap itu sesuatu yang positif." Ujarku dalam pelukannya. Reyno membalas dengan usapan di rambutku. Lalu mundur dan kembali menatapku.
Satu tangannya membelai pipiku lembut. Seolah memastikan tidak ada bekas apapun tadi siang.

"Akan kupastikan ia tidak akan berani menyentuhmu lagi."

Entah kenapa dadaku mendadak berdegup. Dan sebelum aku bertanya, bibirnya perlahan mendekat lalu menekan bibirku. Tangannya kembali mendekapku dan membawa lekat ke pelukannya. Dadaku semakin bergemuruh diiringi dirinya yang bergerak menimpa tubuhku, lalu membawa ke atas kasur.

Ciumannya semakin intens. Napasnya terus berderu. Aku balas memeluk tubuh hangatnya di atasku, tak kalah erat. Namun, perlahan Reyno berhenti. Ia terdiam tepat di atasku. Ekspresinya tak bisa kubaca. Tapi aku tahu, ia sangat menginginkanku. Seperti aku juga menginginkannya.

"Will you ... stay, tonight? ..." ujarku sebelum ia membuka mulut. Mataku ragu-ragu menatapnya.

"I want it ... so badly." Ia menghela dengan senyum yang sendu. "But i can't" Tubuhnya bangkit terduduk. 

Aku tersenyum.

Sudah kuduga. Aku tahu dia sibuk. Tapi dasar, aku tetap saja ...

"Satu bulan lagi, Annora." Reyno kembali menegaskan hal itu, " just wait for me, and i'll do my best." Aku terdiam sebelum akhirnya mengangguk dan tertunduk menyembunyikan rona, "and that blush too ..." lanjutnya sambil memperhatikan aku yang tersipu.

"Menyebalkan ..." Senyumnya perlahan kembali. Aku bisa menemukan kembali kedua lesung dan mata hangat itu.

"Ya, aku memang menyebalkan." Ia pun tertawa.

***

Di tempat lain seseorang masih tertahan dan tak bisa beranjak keluar dari kamar. Seseorang lainnya tampak menahan.

Zach masih memeluk wanita itu di atas ranjang. Keduanya hanya tertutup selapis selimut hingga dada. Wanita itu memunggunginya. Pipinya agak merona. Tapi ia tak ingin pria di bekakangnya melihat. Ia benci terintimidasi.

"Aku lapar." Ujarnya sembari melepas lengan yang sedari tadi melingkar di tubuhnya. Lalu duduk membelakangi pria itu. Memaparkan punggung mulusnya yang polos.

"Mau makan apa?" Zach bertanya tanpa melepas pandangannya. Ia menikmati apa yang dilihat.

"Apapun." Diana pun bangkit berdiri. Kali ini Zach semakin terpaku. Wanita itu berjalan santai melewatinya, sambil merapihkan rambut panjangnya yang tergerai.

"Kau pikir sudah berapa lama tadi?"
ia melirik sinis pria itu. "Apa kau kelainan?" decaknya sambil masuk ke dalam kamar mandi dan menutupnya kasar.

Zach terkekeh sambil ikut terduduk. Ia termenung sejenak. Beberapa gambaran dan adegan di benaknya masih terukir jelas. Zach tidak ingin ini segera berakhir. Wanita itu sekali lagi, tak akan ia lepaskan. Zach yakin itu tindakan tepat untuk menghentikannya. Wanita ini terlalu liar seorang diri.

Senyumannya perlahan melengkung. Ia mengangkat gagang telepon di atas nakas, dan menekan satu tombol. Seseorang menjawab di seberang sana. "Malam, saya mau order makanan untuk kamar 302."

***

Di kamar itu aku tidur meringkuk. Bantal dan guling tidak berhasil membantuku membuat nyaman. Aku masih terjaga dan penasaran dengan pernyataan Reyno tentang tahun depan. Dadaku terus berdegup. Sisi lain diriku berharap sesuatu. Namun, secara logika aku hanya bisa bersabar.

Bersabar, lalu sedikit berharap. Entahlah. Selalu berakhir dilema. Sudah tepat pukul dua pagi. Tapi mataku masih tidak mau tertutup.

***

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang