Words That Filled

3.1K 154 1
                                        

Tanganku masih terdiam canggung mencengkram ujung celananya, masih menatapnya. Menggigit bibirku dan pandanganku seperti seorang gadis yang melihat segelas fruit parfait dengan taburan buah-buahan yang segar, ditambah whipcream yang menggoda. Ah entah penjabaran apalagi yang pantas.

Reyno menyungging senyuman kecil di bibirnya. Bukan senyuman khasnya, bukan juga senyuman jahilnya. Ini berbeda, aku tahu, karena jantungku merespon tindakannya.

"Apa yang kau pikirkan, Annora ..." Ia memandangku lurus, tepat di mataku. Membekukan seketika.

Aku mendadak ingin memotong sebelah tanganku saat ini juga karena berbuat seenaknya. Arghhh!!!

"Jang ..." Aku menggertakan gigiku, menahan kata-kata di mulutku.

"Jang ...?" Reyno kini membalikan badannya menghadap ke arahku. Senyuman anehnya masih menghiasi bibirnya. Bibir yang meninggalkan jejak besar di bibirku. Membuatku limbung.

"Ah! lupakan." Aku melepaskan cengkramanku. Lalu menarik selimut itu sampai menutupi seluruh wajahku.
Bekas cengkramanku masih terbentuk jelas di ujung celananya tadi.

"Hei ... apa yang kau lakukan?" kali ini suaranya kembali seperti sebelumnya, suara dengan nada jahilnya, menikmati tingkah konyolku, yang selalu membuatnya tertarik.

Aku masih mengubur diri di balik selimut itu.

"Aku menunggumu ..." lanjutnya menggoda.

"Aku mau tidur," potongku mengakhiri.

"Kalau begitu aku turun sekarang."

Aku langsung menarik selimut itu.
Menyembulkan lagi wajahku yang matang dengan rambut yang tak beraturan, dan menatapnya frustasi.

"Rey ..." Aku membuka mulut memanggilnya ragu-ragu.

Apa sih yang kulakukan?!

Cepat katakan saja kalo kau tak ingin dia pergi! katakan kalo kau masih ingin bersamanya!

Huff ... aku menghela napas panjang. Tak semudah itu ...

Reyno kembali menoleh dan langsung berjalan ke arahku. Berjongkok tepat di sampingku dan wajahnya kini sejajar menatapku. Ia tersenyum lagi. Senyum yang seolah berkata "Hai".

Sebelah tangannya terangkat lalu telunjuknya menyentil keningku.

"Aw!" aku menyentuh bekas sentilannya yang tak sakit. Lebih ke arah terkejut.

"Coba kau pikir. Dua orang berbeda gender, setengah mabuk, di dalam sebuah kamar yang sama," ucapnya sambil memangku sebelah wajahnya.

"Aku menyukaimu," sambungnya santai, sangat to-the-point.  Tapi itu tak santai buatku. Degupan jantungku menjelaskannya. "Tadi itu salahku. Aku terbawa perasaan begitu menatapmu, dengan wajah, dan rambut yang seperti ini ..." Matanya menyusuriku, dan ia tampak tenang walau aku menyadarinya.

"Annora yang kulihat sekarang, agak berbeda dengan yang biasa kulihat di cafe." Ia menyisir rambutnya yang mulai terjatuh lagi di wajahnya.

"Aku pria dewasa yang normal." Ia berdecak. "Kau tahu betapa frustasinya aku menahan semua ini?" Ia terkekeh.

Mataku kini menatap ekspresinya. Ada lagi keresahan di wajahnya. Sama seperti saat ia akan menciumku di bawah tadi.

"Aku menyukaimu Annora." Ia kini menghela panjang. "Aku tak ingin kau salah mengerti," lanjutnya.

Tiga kali iya mengucapkannya.
Dan sesuatu di dadaku semakin terisi penuh, bahkan hampir tumpah.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang