Someone Known

2.8K 153 0
                                        

Ahh ... hari apa sih ini ...?
Aku mengeluh dalam hati sambil berjalan kesana kemari membawa nampan dan mengantarkan pesanan yang tak ada habisnya.

Elsa juga sibuk menyiapkan makanan. Sedangkan Gavin sudah pulang lebih dulu.

"Table four!" suara Reyno kembali kudengar lagi, padahal baru saja ia mengatakan table ten, dua menit yang lalu.

"Coming ..." Aku menghampiri meja pantry itu dan mengambil dua cangkir americano, dan satu ice vanilla latte.

Aku sempat menangkap senyuman Reyno di balik bayangan topi cap-nya.
Tangannya mengepal naik, seperti mengatakan "semangat" kepadaku. Aku tersenyum sambil menghela, dan diam-diam menyukai tindakannya tadi.

"Silahkan." Kataku sambil meletakan pesanan di meja empat.

"Eh, Annora?" seseorang dengan slank yang khas di meja itu menatapku tampak mengenali. Aku pun menoleh kearahnya.

"Benarkan itu kau ...?" pria berwajah menarik, berkulit cerah dan berambut hazel itu pun kini tertawa lebar.

"Eh ... Calvin ..." Aku menggaruk pipiku canggung. Pria itu kini menarik kursi di sebelahnya sambil masih tersenyum lebar menatapku lekat-lekat. Kedua temannya yang sama-sama bermata biru pun tampak tertarik.

"Duduk Annora!" ujar pria itu bersemangat. Aku pun terduduk kaku.
Cukup membuat beberapa sorot mata di sekitar cafe, tertuju ke sini, tepatnya ke arah tiga orang pria yang tampak mencolok di meja ini.

"Sejak kapan kau bekerja di sini? dan apa kabarmu ? aku tak percaya bisa bertemu denganmu ..." Aku tertawa mendengarnya, pria ini memang tak berubah, dia tetap cerewet seperti biasa. Logatnya mungkin sedikit lebih baik. Ia semakin lancar berbahasa indonesia.

"Dan kau tetap tak berubah, Cal, selalu ceria." Aku menatap balik pria bermata hazel itu, senada dengan rambutnya. Pria itu tampak tersipu.

"Annora kita harus berbicara banyak ..." Wajah pria itu kali ini lebih ekspresif. "Apa kau ada waktu? jam berapa kau pulang?" Annora agak  menyesal mengambil tawaran Calvin untuk duduk di kursi itu, ia terus diberondongi pertanyaan.

"Mungkin tidak sekarang, uhm, nanti aku akan mengabarimu." Annora mulai menyadari beberapa menit sudah berlalu sejak ia duduk di meja itu, sementara beberapa pesanan, masih menunggunya.

"Ok, then give me your phone number?" Calvin menyodorkan ponselnya, dan aku langsung sigap mengambilnya dan memasukkan nomor kontakku.

"Sorry Calvin, aku harus kembali bekerja, kau bisa mengirimku pesan, dan aku akan membalas secepatnya, ok." Aku menyerahkan ponselnya dan Calvin mengangguk sambil tersenyum.

Aku langsung mengambil nampanku dan kembali mengambil pesanan di meja pantry. Beberapa cangkir sudah berjajar. Reyno sempat melirikku beberapa saat, sebelumnya ia pun diam-diam mengamatiku, tapi aku terlalu sibuk mengangkat cangkir itu.

***

Kuluruskan kakiku di kursi sambil menggeliat panjang. Hari ini benar-benar melelahkan. Aku menumbuk pundak kananku.

Sebuah tangan meluncur dari atas kanan, meletakkan secangkir hot tea tepat di hadapanku. Aku menengadah, dan melihat Reyno yang masih lengkap dengan seragamnya. Lalu berjalan melewatiku ke arah loker.

"Camomile tea, minum itu, dan tubuhmu akan lebih rileks." Ia menoleh sambil tersenyum kecil, lalu kembali menatap lokernya.

"Thank you ..." Aku tersenyum sambil menjawab canggung, lalu perlahan menyesap teh itu.

"Ah ... nikmat." Aku menghela sambil kembali menggeliat. "Kau tidak minum juga?" tanyaku sambil menatap Reyno yang mulai melepas celemek dan membuka kancing kemejanya.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang