The Apartment

4.7K 206 3
                                        

Seseorang menggendong dan membawa tubuhku di lengannya yang kuat. Badanku seakan begitu ringan hingga tak membuatnya goyah sama sekali.

Aku tidak dapat melihat wajahnya. Hanya dapat merasakan degup jantungnya. Kusandarkan diriku ke dadanya. Entah kenapa begitu nyaman.

Aku menekan-nekan bantal, dan mendadak mataku terbuka.

Hah..?!

Aku merasakan hangat, di bawah sebuah selimut bedcover besar berwarna abu-abu tua. Di atas sebuah kasur berukuran king size.

Aku merubah posisi ke arah telentang. Sebuah atap putih, dengan dekorasi kayu berwarna coklat tua, yang di bentuk lurus memanjang berjajar, ke arah horizontal dan vertikal, seperti kotak-kotak, dan di tengah-tengahnya, terdapat lampu bulat bercaya kuning berpendar teduh.

Sebentar ... aku ini sebenarnya ada di mana ...?!

Aku mendadak bangkit dan terduduk, lalu entah kenapa buru-buru aku membuka selimut dan melihat pakaianku. Aku pun menghela lega.

Jaket sudah tidak kupakai, hanya tinggal kaos t-shirt putih yang kugunakan sebelumnya, dan celana jeans yang masih pada tempatnya.

Haha ... apa sih yang kupikirkan ... ?
Aku tertawa sendiri.
Sial, Annora! kau terlalu banyak nonton drama.
Kuketuk kepalaku.

Mataku menatap sekeliling menyisiri ruangan. Kamar ini terletak di lantai dua, yang tidak bersekat tembok. Di pinggiran kirinya, terdapat pembatas yang berupa pagar sekat yang dibuat dari pipa-pipa besi solid yang tersusun berjajar dan tertancap pada dinding di ujung-ujungnya, tampak minimalis.

Dari sana aku dapat langsung melihat lantai bawah. Sedangkan di sebelah kanan terdapat sebuah jendela besar kaca, yang setengah tertutup tirai berwarna hitam, memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di malam hari.

Baru saja aku berniat bangkit menghampiri jendela, ketika kulihat seseorang menaiki tangga di ujung depan kiriku.

Pria itu datang dengan sebuah nampan di tangannya. Ia menoleh padaku yang menatapnya tak berkedip. Seorang pria dengan rambut hitam kecoklatan, berkulit putih cerah, berperawakan tinggi, dengan tubuh yang atletis. Kali ini ia hanya menggunakan kaos coklat polos dan celana jeans pendek.

Pria itu lagi ... aku tercekat.
Apakah dia yang ...

"Kau sudah siuman ..." Ia tersenyum sambil mendekat dan menaruh nampannya di atas nakas, di sebelah kiriku.

Aku melihat dua buah pancake, dengan saus mapple di atasnya, dan segelas susu hangat.

"Makanlah sedikit." Ia meneruskan. Aku hanya mengangguk dan sedikit bergidik ketika ia melewatiku.

Aroma parfum ini lagi ...
Aku memejamkan mataku, ketika menarik napas.

Ia kemudian duduk di atas kasur, tepat di depanku. Ia menatap diriku lekat-lekat. Dapat kulihat kali ini, matanya yang berwarna coklat muda, alisnya yang tebal, dan hidungnya yang lancip.
Aku seketika salah tingkah dan mengalihkan mata.

Ia mengulurkan tangannya perlahan menyentuh keningku.

"Masih panas ..." Tatapanya agak khawatir.

"Aku tidak apa-apa ..." Ujarku sambil tersenyum kaku. Entah kenapa wajahku memanas, yang jelas bukan karena demam.

"Ma-maaf sudah merepotkan." Kataku gugup.

"Aku sebelumnya memang agak demam, dan punya darah rendah, jadi tadi itu ..." Aku berusaha meneruskan, tapi ketika aku meliriknya lagi, pria itu kini menatapku dengan lebih tajam.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang