Tok Tok
"Masuk ..." Aku masih sibuk mengecek beberapa berkas-berkas penjualan, pembelian dan lainnya.
"Maaf, Pak, bisa minta waktunya sebentar?" kata wanita dengan rambut panjang dan berparas cantik itu.
"Kau bisa datang 15 menit lagi." Aku tetap tidak mengalihkan pandanganku dari berkas-berkas itu.
Wanita itu kemudian perlahan keluar. "Terima kasih, Pak."
Aku membuka lembaran demi lembaran, mengecek beberapa data di laptop dan membuka email. Jari-jariku sibuk membalas satu persatu email di sana.
Hampir 15 menit berlalu dan kudengar pintu kembali diketuk. Anya kembali masuk dan meminta waktu.
"Anya, tolong sampaikan kepada kepala promosi dan marketing untuk hadir jam satu siang ini." Ucapku sambil menutup laptop dan beberapa berkas laporan itu. "Kita akan rapat."
"Baik, Pak, akan segera saya konfirmasi, permisi." Anya berlalu dengan cepat.
Dia adalah sekertarisku. Banyak hal yang kuandalkan darinya. Selain smart dia juga cantik dan menarik. Tapi hanya sebatas itu. Kita bekerja secara profesional.
Aku memang pria yang dingin dan serius. Tapi di balik semua itu aku pun seorang pria yang ramah dan perhatian, namun tak semua orang bisa melihat sisi itu dari diriku.
Aku juga seorang yang idealis dan perfeksionis, aku cukup ambisius dan sedikit tempramen, sangat tegas pada hal-hal yang menurutku salah dan tidak benar. Aku pun selalu memegang prinsipku dan berpendirian kuat.
Sebagai General Manager dari sebuah hotel ternama, aku terbiasa dengan kedisiplinan dan tanggung jawab. Sudah hampir empat tahun aku duduk di jabatan ini, dan atas jerih payahku sendiri.
Banyak juga yang iri dengan posisi dan jabatanku, tapi mereka selalu kubungkam dengan prestasi dan pekerjaan.
Walapun aku adalah bakal pewaris dari hotel ini, tapi aku tak pernah sedikit pun menyalahgunakan jabatan dan kekuasaanku di sini. Papa mendidikku dengan ketat sejak kecil. Selama 27 tahun aku dibesarkan dengan rasa disiplin, tanggung jawab dan etika yang baik.
Aku bersandar pada kursi besar berbahan kulit hitam itu. Kubuka kacamata, dan menekan pangkal alis. Akhir-akhir ini aku memang kurang tidur. Kegiatan diam-diamku sebagai barista mulai menyita aktifitas. Walaupun aku sangat menikmatinya, tapi hal lain yaitu jam tidur terpaksa kukorbankan. Aku tersenyum, ada kepuasan batin ketika melakukan hal itu, yang memang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Salah satu hobby dan passion yang merupakan keegoisan yang kuikuti saat ini, tak ada yang mengetahuinya, hanya segelintir orang-orang yang kupercaya.
Aku lalu meraih ponsel dengan latte art karyaku sebagai screensaver nya. Mungkin agak sedikit narsis pada yang satu ini.
***
Siang itu aku memutuskan untuk membeli beberapa cemilan di Mart terdekat. Aku berjalan 100 meter dari kantorku dan satu kali menaiki angkutan umum.
Dennis, kepala receptionist, sempat beberapa kali memaksa untuk mengantarku dengan mobil, tapi aku tersenyum dan menolak. Jabatan bukanlah sesuatu yang membuatku seolah seseorang yang perlu di elu-elu kan, terlepas dari orang tuaku sebagai pemilik saham terbesar di hotel ini.
Mereka hanya tertegun ketika aku dengan santai melangkah keluar. Tak satupun tamu yang sadar siapa aku, terkecuali para pegawai dan staff di sini.
Jabatanku dan siapa aku hanya berlaku ketika aku bekerja secara profesional, di luar itu, aku hanya seorang pria biasa berusia 27 tahun, yang mempunyai kehidupan sendiri dan menyukai dunia barista.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
