Rasanya seperti mimpi. Menatap kembali jendela berkaca luas, memberi pemandangan yang bergerak cepat, menampakan pepohonan rindang, sungai lalu jembatan. Bunyi mesin yang khas, dan rentetan tempat duduk yang beraturan tertata dua banjar kiri dan kanan.
Aku terjaga sejak subuh tadi. Kereta pagi satu-satunya rute perjalanan ke tujuanku untuk hari ini.
Kulirik seseorang di samping yang tetap terlelap, bahkan baru lima menit duduk, ia langsung pergi ke alam mimpi. Akhir-akhir ini ia selalu pulang kelelahan dan aku menyadari itu. Namun bukannya aku tidak peduli.
Tangan kananku masih berada di genggamannya hingga berasa lembab. Seakan menjagaku agar tak pergi jauh-jauh atau meninggalkannya kala ia terlelap. Aku tersenyum menatap. Pria yang sudah setahun ini mengisi penuh hatiku, dan aku semakin mencintainya.
***
"Hey, sudah sampai," bisikku perlahan. Reyno pun langsung tersadar. Matanya masih agak merah, ia usap perlahan, dan sambil menarik napas, ia menggeliat sejenak lalu pandangannya menyapu sekitar.
"Oh, apa aku tertidur selama itu?" kekehannya mencairkan suasana. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Maaf ya, aku tahu kau lelah, nanti kau bisa beristirahat lagi jika sudah sampai." Namun Reyno mendadak tertawa.
"Kau pikir aku bisa istirahat dengan tenang di rumah camer? rasa tegangku saja tak henti walau diselangi tidur." mataku melebar menahan rasa terkejut dan tertawa.
"Benarkah?" Rey melirik tajam, lalu mencubit hidungku.
"Dasar. Ayo ambil barang kita dan turun, apa kau mau terbawa ke destinasi selanjutnya?" Reyno mengubah arah pembicaraan, meraih ranselnya juga milikku, lalu menarik tanganku dan kami berdua menyusuri gerbong itu, mencari jalan turun.
"Apa kau merasa gugup?" aku terkikik dari belakang. Namun Reyno hanya membisu. Ia tetap berjalan sambil tetap menggenggam tanganku.
"Awas ya." Sedetik ia melirik ke belakang, dan akhirnya aku tak bisa lagi menahan tawa. Wajah pria yang biasa cool itu, kini nampak aneh.
Reyno memang benar-benar merasa seperti itu. Oh, seorang Reyno? aku merasa tersanjung seketika.
***
Langkahku terhenti setelah beberapa meter, meninggalkan Reyno di belakang yang tengah membayar taksi.
Bangunan itu, warna pagar, dinding kayu dan pilarnya yang senada berwarna putih, semua masih sama.
Jalan setapak berhias batu yang juga berwarna putih, hamparan tanaman mawar putih dan rerumputan hijau yang dipangkas begitu rapih, semua masih seperti terakhir kali aku tinggalkan.
"Annora, kau ... baik-baik saja?" Rey perlahan menghampiri aku yang membeku. Mataku mulai berlinang, dan bibirku ikut bergetar. Kutahan isak dengan melipat mulut erat-erat.
"Rumahmu ternyata indah, aku tak tahu kau punya kampung halaman senyaman ini." Aku mengangguk perlahan sambil berusaha menghapus bulir-bulir yang bergulir.
Reyno menarik pundakku kepelukan, bibirnya seperti biasa mengecup puncak kepalaku. Ia tahu dengan melihat keadaanku bahwa saat ini tak perlu banyak bertanya.
"Warna putih adalah kesukaan mama, sedangkan papa menyukai nuansa pedesaan yang tenang dan dekat dengan alam." Reyno mengangguk. Matanya bergulir menyapu landscape itu. Halaman rumahku memang luas. Papa membelinya dan membangun sendiri rumah itu untuk mama. Aku besar dan tumbuh di sana bersama hal-hal manis di sekelilingnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
