Zach terbangun pagi itu. Kepalanya serasa mau pecah. Ia mengucek matanya dan menatap sekeliling sambil memijat keningnya. Bahkan ia tak ingat bagaimana dirinya bisa sampai di sini.
Yang ia ingat hanya Reyno memarahinya berkali-kali dalam mimpi. Dan entah kenapa kakaknya berada di sana.
Diliatnya layar ponsel, 10 misscall, dengan nama Reyno, lalu beberapa pesan, yang salah satunya juga dengan nama kakaknya, sedangkan sisanya adalah beberapa model baru dari agency-nya, yang menemani pesta semalaman.
"Ck! jangan-jangan yang kudengar tadi malam memang benar-benar suara Reyno?" Zach terkekeh sambil melempar ponselnya ke kasur.
***
Di lain ruangan, Reyno tengah sibuk di mejanya. Menatap layar laptop dari balik kacamata berbingkai hitam, jarinya mengetik cepat. Di sampingnya, Anya berdiri menunggu, dengan beberapa dokumen yang perlu di tanda tangani.
"Anya, kau sudah menanyakan perihal storyboard kepada bagian promosi? tampaknya beberapa bagian perlu di revisi ulang." Reyno mengambil spidol, dan menggores lingkaran-lingkaran kecil di atas laporan itu, "dua hari lagi harus selesai. Senin aturkan kembali meeting untuk membahas ini."
"Baik, Pak, akan segera saya siapkan." Reyno mengangguk lalu mengambil beberapa sisa dokumen di sebelah kirinya, membaca sepintas dan memberi tanda tangan. Ia lalu menggeser tumpukan itu. Anya dengan sigap mengambil dan beranjak keluar.
Reyno mengangkat gagang telepon, ketika pintu tertutup, dan menekan satu angka di sana. Seorang wanita menjawab.
"Tolong sambungkan ke kamar 579, Lia, terimakasih." Wanita itu merespon dan langsung melakukan perintah.
"Hallo?" suara Zach di seberang sana masih terdengar parau.
"Get your ass up, Zach, i'll wait you downstair."
"Rey? what do you ...?"
Namun, tanpa menunggu jawaban, Reyno langsung memutus sambungan. Zach berdecak sambil menutup teleponnya.
"Ck! that dude ..." Ia membuka kaosnya dan melangkah ke kamar mandi.
***
Zach hampir menyemburkan minumannya ketika Reyno selesai menjelaskan.
"Re-really?" tanyanya dengan wajah tak percaya, dan Reyno hanya mengangguk.
"Damn, Man! " Ia menghentakkan kakinya yang beralaskan sendal hotel. Tangannya beberapa kali mengusap wajahnya sambil memijat kening, kebiasanya ketika merasa malu.
"Jadi kuharap, kau menjaga sikap selama berada di sini, dan berhenti membuat sensasi lagi." Sambung Reyno sambil menyesap pelan minumannya.
"Sorry, aku benar-benar gak menyangka separah itu. Mereka memang keterlaluan. Beberapa kali aku kalah bermain, dan beberapa kali itu juga dipaksa meneguk empat gelas besar yang entah berisi apa, ketiga wanita itu juga sempat mengerjaiku. Untungnya aku bisa menghindar dan pulang dengan taxi." Zach mengedikan bahunya. "Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi."
Reyno hanya terkekeh mendengar cerita adiknya.
"Hei, aku bukannya tidak kuat minum. Tapi beberapa campuran dalam satu gelas? that's crazy, Man! " Zach mengacak rambutnya lalu mendengus.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
