Sama seperti malam sebelumnya. Aku terbangun dalam diam. Tak ada yang kuingat, selalu terasa hampa. Sudah beberapa hari, seperti dejavu.
Perasaan yang juga terjadi saat kepergian Adrian ...
Aku membuka mata dan langsung menatap layar televisi dihadapanku yang telah mati. Cahaya terang dari sela-sela tirai yang telah terbuka, cemilan semalam yang sudah tertata rapih disudut kanan, dan ...
Aroma kopi?
Mataku tidak salah lagi menangkap apa yang kulihat. Sambil tersenyum dengan segelas kopinya, ia berjalan santai menghampiri.
"Sudah bangun?" sapanya hangat. Sehangat kopi di cangkirnya yang aromanya telah menyeruak mengisi ruangan.
"Apa yang ...?" entah kalimat pertanyaan apa yang cocok aku lontarkan.
Sejak kapan? bagaimana bisa? apa yang terjadi? kenapa?
Bunyi gemericik kunci yang di gerakan di depan wajahku seketika membuat lamunanku buyar.
"Kunci Vivian ..." Terjawab sudah beberapa pertanyaanku.
"Kau sudah tertidur malam itu. Ketika kembang api serentak menyala, dan bunyi terompet nyaring bersuara." Reyno tersenyum sambil perlahan menyeruput kopinya. Tapi aku malah mendadak kesal.
"Kenapa tidak bangunkan aku? kenapa
tidak bilang akan datang? kenapa
tidak menghubungiku? kenapa ..."
Aku mendadak terhempas ke depan, ketika kedua tangannya langsung menarik dan memeluk tubuhku. Pelukan yang kuat, dan hangat. Tapi begitu kesalnya aku hingga tak balik membalas. Walaupun jujur aku merindukannya.
"I miss you too." Rey tersenyum seraya mengecup keningku. Seolah membaca pikiranku.
"Aku tidak bilang apa-apa." Balasku sambil membuang muka. Tapi ia malah terkekeh.
"Aku tahu." Lagi-lagi senyumannya membuatku tambah kesal. Aku mendengus sambil beranjak dari pelukan berniat meninggalkannya, namun Reyno menarik kembali tubuhku begitu ringan dan ia kembali merangkul dari belakang, kali ini lebih erat.
"I'm sorry, ok ..." Ia berbisik sambil mengecup tengkukku. "I mean it, i'm
sorry ... Annora ..." Lalu bibirnya semakin turun ke leher.
Apa yang bisa kulakukan selain diam lalu menghela. Semua yang dilakukannya sangat kurindukan,
melihatnya saja sudah cukup membuatku bahagia.
"Menyebalkan." Ucapku pasrah.
Reyno pun tertawa. Pelukannya menguat membuat aku semakin melekat di tubuhnya.
"Iya memang aku menyebalkan." Kecupan lagi kali ini di pipi, dan selalu saja berhasil membuatku merona.
"Makan yuk." Bisiknya lagi.
***
Memang tak ada yang lebih membahagiakan dalam sebulan ini, selain duduk berdampingan di dalam Mart, dan menatap pemandangan di luar sana dari balik kaca besar.
Reyno dengan sandwich dan espresso-nya, aku seperti biasa, ramen ditemani green tea.
Namun ia masih saja menatapku tak henti, mungkin tak percaya tawaran makan siangnya bisa berakhir di sini. Tentu saja karena aku yang bersikeras. Walau awalnya dia ragu, namun melihat gelagatku membuatnya luruh.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
