Malam itu Reyno pergi meninggalkan aku di apartemennya. Ia langsung melaju dengan kendaraannya tanpa berpikir untuk mengganti pakaian.
"Kau sudah di mana?" ujarnya berbicara dengan handset.
"Aku sudah di hotel sejak tadi, kenapa kau lama sekali?" Zach protes dari seberang sana.
"Tetap diam di tempatmu sampai aku datang. Papa juga akan segera menyusul."
"Memangnya ada apa sih, Papa sampai datang segala? Ck! Diana, simpan tanganmu baik-baik." Zach menahan salah satu lengan Diana yang tengah bergerak jahil menyisir rambutnya yang sudah berubah warna.
"Kau ... bersama dia?" Reyno berdecak sepintas. Masalah ini seharusnya hanya dibicarakan mereka bertiga.
"Kau ingin aku menyuruhnya pulang?" Zach memandang Diana sambil terkekeh. Wanita itu langsung melipat tangannya dan menautkan alis. Ia menarik ponsel Zach kasar.
"Hei, kau berpikir untuk mengusirku, Rey?" Diana agak membesarkan suaranya agar Reyno mendengarnya lebih jelas dari seberang sana. "Kenapa begitu membenciku sampai seperti ini, sih? aku kan sudah tak mengganggumu lagi?!"
"Hei, hei kembalikan padaku." Zach menarik kembali ponselnya, lalu menatap wajah Diana yang merah padam dengan matanya yang berlinang, "jangan salah paham dulu, ini memang tak ada urusannya denganmu, hanya aku, Rey dan Papa, jadi kau boleh pulang sekarang atau mau kupanggilkan taksi?" Zach menawarkan Diana yang masih memberenggut, ia tahu tak ada gunanya, wanita itu pasti akan pergi sendiri.
"Urus sana urusan kalian! dasar laki-laki egois! jangan hubungi aku lagi!" Diana beranjak bangkit dan pergi. Ia langsung keluar tanpa memesan taksi di lobby. Zach hanya bisa menghela. Ia sudah hapal tabiat wanita itu.
"Sudah selesai dramanya?" sindir Reyno dingin.
"Jangan salahkan aku, dia sudah begitu sejak bersamamu." Zach terkekeh kesal.
"Ia sudah begitu sejak kecil, dan kau harus extra sabar bersamanya." Kini Reyno ikut terkekeh.
"Sial kau, Rey. Oh, Papa baru saja sampai, buruan kemari, lama sekali kau!" Zach memutuskan sambungan.
***
"Omong kosong apa ini?!" Zach menendang kursi di sampingnya dengan boot hitamnya.
"Zach, kau perlu dididik untuk menjadi lebih dewasa, bertanggung jawab dan memiliki mental yang baik." Papa menegaskan dari sudut kanan meja panjang itu.
"Pa, kenapa harus aku? kenapa begitu mendadak?" Zach masih bersikukuh dan ia nampak agak frustasi.
"Kenapa? kau tidak siap diberikan tanggung jawab besar? meninggalkan gaya hidup flamboyanmu? atau profesi murahanmu itu?" Papa kali ini agak sinis. Ia sebenarnya juga sudah lelah membuat anak keduanya ini mengerti dan menjadi lebih dewasa. Tidak seperti kakaknya Reyno, yang sejak awal selalu patuh dan akhirnya sukses, ia selalu bangga pada anak sulungnya itu.
"Tapi aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri." Zach mendengus kesal. Ia menatap Reyno yang hanya diam, "apa kau yang merencanakan ini, Kak?" Reyno mengangguk singkat, "kau mau menghancurkanku apa?" Emosi Zach seketika membuncah.
"Hei, coba kau pikir dulu baik-baik sebelum marah dan menyimpulkan. Apakah aku hancur ketika berada di posisi ini? kau bisa lihat aku sebagai perbandingan. Tak ada yang salah dengan semua ini. Kau yang bermasalah sekarang, dan aku mencoba membantumu." Zach akhirnya bergeming. Ia menatap kosong ke arah meja. Wajahnya masih kecut. Tangannya mengepal kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
Storie d'amoreHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
