Reyno menutup laptopnya saat itu juga. Moodnya memburuk. Ia melepas jasnya, melempar sekenanya sambil melipat lengan bajunya.
Ia tak menyangka bahwa Diana akan datang tiba-tiba. Dia hampir lupa dengan pertunangan sialnya. Pertunangan yang hanya dilakukan untuk kepentingan politik semata.
Dulu memang semua tak menjadi masalah baginya, karena Diana adalah teman kecil sekaligus kekasih yang sempat ia cintai, tapi sekarang semua telah berubah. Ada seseorang yang kini mengisi hatinya. Yang mulai ia sayangi.
Wajah Annora seketika terpintas di benaknya. Wajah gugup dan merah merona ketika ia menggodanya.
Ia sadar, Diana tak akan lagi menjadi sesuatu yang menganggu pikirannya, tidak untuk kedua kali. Ia memang tidak membenci wanita itu, tapi perasaannya telah sirna. Tak akan lagi ia memberi apapun pada wanita itu.
Dan ia sudah memutuskan.
***
Reyno beranjak keluar dari ruangannya. Anya sempat menangkap Reyno berjalan cepat melewatinya dan langsung menuju lift, tidak menyapa seperti biasa dan ada yang berbeda dengan ekspresinya.
Mata Anya masih mengerling. Bos-nya tidak pernah bersikap seperti itu, ia sempat bingung. Niatnya untuk bertanya pun urung. Sejam lagi meeting akan di mulai, mudah-mudahan pria itu tidak lupa, pikir Anya sambil melirik pintu lift yang tertutup.
Lift terbuka di lantai dasar. Reyno melangkah cepat melewati ballroom tanpa menyapa bagian resepsionis, ia terus berjalan ke arah pintu keluar.
Beberapa pegawai tampak berpikir serupa Anya dan memperhatikannya. Tapi langkahnya semakin cepat. Ia berjalan keluar menyusuri trotoar meninggalkan hotel itu di belakang.
Ia menghela dalam langkah-langkah panjang. Pikirannya berkecamuk dengan hal-hal di benaknya. Dirinya, ayahnya dan juga Diana.
Ia berakhir di sebuah mini bar terdekat. Memang hari ini masih terlalu pagi. Tapi langkahnya menuntunnya ke sana. Mini bar yang buka 24 jam itu memang tak pernah sepi, tamu-tamu hotel di sekitaran sini selalu berkunjung. Reyno pun masuk dan mengambil kursi tepat di depan bartender.
Ia menyebut beberapa nama, dan bertender wanita itu mengangguk. Tiga buah sloki tersaji tepat di hadapannya. Ia meneguk cepat dan hanya berselang lima detik.
Ah! dia benci melakukan ini. Tapi kepalanya benar-benar penuh. Ia teringat ucapan Diana sebelum pergi. Wanita itu memang keras kepala dan watak itu tak pernah lepas darinya sejak kecil.
Lambat laun kepalanya mulai terasa pusing, namun juga sedikit ringan. Mungkin ketiga campuran itu membuatnya naik dengan cepat.
"Hei, aku seperti pernah melihatmu." Sapa batender wanita itu seketika. Matanya kini menatap Reyno menggoda, ia tertarik melihat pria di hadapannya, berpakaian rapih, dan berwajah tak biasa.
Reyno tersenyum kecil. Ia balik melirik wanita itu.
"Ini pertama kalinya aku ke sini. Mungkin kau salah orang." Balasnya sambil menyisir rambutnya asal. Sepertinya efek minuman itu mulai bereaksi. Kepalanya semakin terasa ringan.
"Oh, benarkah?" wanita itu terkikik. "Kau, lumayan juga." Wanita itu tersenyum kecil. "Aku ... bisa menemanimu kalau kau mau."
Wanita itu membungkukan tubuh, sambil menopang wajahnya. Bajunya yang berkerah rendah dan ketat itu, menampakan dadanya yang penuh di hadapan Reyno. Ia tampak menunggu reaksi pria di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomantiekHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
