Last Chapter

1.3K 78 5
                                        

Dear Diary,

Dua puluh delapan hari telah berlalu sejak terakhir kami berpelukan. Just once, Rey terus saja memperingatiku yang tidak terlalu ambil pusing =p

Mungkin hal ini menjadi lucu, mengingat aku tidak pernah seagresif dan se-craving ini terhadap sesuatu, dan itu akhirnya pada pacarku sendiri yang hampir dua tahun lebih ini menemaniku, baik senang, sedih, tertawa dan menangis.

Mungkin aku jarang menangis karena sedih tapi lebih karena bahagia, memang aneh, tapi itu yang kudapat selama dua puluh tujuh bulan bersamanya.

Reyno adalah seseorang yang dikirim Tuhan untukku. Dia mungkin seorang dengan hati malaikat, aku tidak tahu penilaian apa yang pantas selain aku sangat mencintai pria ini, baik itu dalam ungkapan kata mau pun hati. Aku tidak bisa menjabarkan apa-apa. Mungkin tidak pantas juga diucapkan oleh seorang aku yang bukan apa-apa, dan dia yang siapa-siapa.

Bersama kami mampu menjalani hidup dengan masa lalu dan menerima semuanya dengan ikhlas, bersamanya juga aku banyak mendapatkan pelajaran berharga. Mengejar mimpi, konsistensi dan mencintai tanpa menuntut.

Yah, Reyno tidak pernah menuntut apa pun. Tidak sekali pun. Ia hanya punya dua mata yang selalu menatap aku dengan hangat dan bibir yang selalu tersenyum dengan lembut, lalu memberikan seluruh hati dan perhatiannya padaku. Semua, sampai rasanya pusing, sampai tidak ingin bangun lagi dari mimpi ini walau ternyata semua ini memang kenyataan yang bagaikan mimpi.

Setelah segala pencapaiannya yang selalu mengagumkan itu, ia pun tetap menatap aku dan ingin mengakhiri pencariannya juga untuk bersamaku.

Aku menerimanya, pasti, bahkan tanpa ia minta atau seandaianya jika aku juga bukan pilihannya, Reyno adalah seseorang yang tak mungkin terlupakan. Ketulusan serta pengertiannya, tak akan bisa tergantikan.

Dan menjelang pengucapan janji suci yang abadi, aku hanya berharap kami berdua selalu diberi lindungan dan berkat dari-Nya. Apa pun itu, aku sangat bersyukur telah dipertemukan dengannya.

Kuharap cinta dan perasaan ini akan terus terjaga dan terpelihara selama sisa umur kami hingga menua bersama.

-Annora Alisha-

***

27 April 2018

"Bagian penerima tamu, apa sudah siap di tempat? halo, halo? ok! bagaimana dengan buku tamunya? coba yang sebelah sana, geser sedikit lighting di lantai itu ke arah dalam." Vivian mondar-mandir dengan roger-nya, melakukan pengecekan di berbagai bagian.

"Kau sudah cek bagian sound system?" Calvin menghampiri pacarnya itu agak tergesa. Vivian pun mengangguk pasti. "Oh, syukurlah, tadi aku lihat bagian band pengisi acara sudah datang untuk check sound sebentar dan persiapan dua jam lagi."

"Cal, coba kau tanya Ibu Anya untuk jumlah survenir dan penataan meja VIP, lihat stand dan dekor yang kau buat itu, apa sudah sesuai? aku mau check bagian makanan."

Vivian pun berlari kecil tanpa menunggu jawaban dengan heels enam sentimeternya. Ia bahkan belum dandan dan berganti pakaian. Calvin terkekeh menatap pacar strong-nya itu, ia memang tidak salah pilih sejak awal.

Di ruangan lain, dengan wajah yang telah di make-up dan rambut yang sudah tertata cantik, aku masih terdiam duduk di sana, menatap gaun putih yang begitu indah itu tergantung rapih.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang