Waktu benar-benar cepat berlalu. Minggu demi minggu, bulan demi bulan. Hingga tak terasa aku sudah melewati sidang akhir dan tengah mempersiapkan kelulusan yang hanya tinggal satu bulan lagi.
Hasil dari sidang itu pun memuaskan. Tak sia-sia kerja kerasku selama ini. Peranan Reyno pun tak luput, mengingat studi kasus yang kuangkat banyak mengambil dari hotelnya, membuat pria itu amat bersemangat membantu.
Tak lupa juga Zach, yah, orang itu juga ikut andil karena posisinya kini sudah seratus persen ia jalankan, tentu saja masih dengan kakaknya yang terus memantau dan bertindak sebagai konsultan pribadinya.
Aku sendiri masih berkerja di cafe, namun Reyno pada akhirnya resign dua bulan lalu untuk suatu alasan yang hanya Pak Louise yang tahu. Alasan yang tak pernah mau mereka ungkapkan hingga detik ini, entah apa maksud kedua orang itu, kompak sekali mereka.
Kadang menyebalkan merasa penasaran akan sesuatu, dan sejujurnya kadang aku mempunyai feeling yang akhir-akhir ini selalu membuatku gugup. Mungkin sebaiknya aku mulai menyiapkan hati, fisik dan juga mental.
"Kau tidak ke kampus?" aku terlonjak di depan kulkas ketika suara Reyno menyapa di belakang. Lamunanku buyar, aku sampai lupa mau mengambil apa di kulkas dan malah kembali menutupnya setelah beberapa saat.
"Tidak ada lagi yang perlu kulakukan." Senyumanku menjawab kebebasanku.
Mengulang kelas? perbaikan nilai? atau tugas susulan? tidak ada di dalam kamusku. Semua sudah kuselesaikan dengan baik, dan memang hanya tinggal menunggu kelulusan.
Reyno ikut tersenyum lalu melipat tangannya. "Benar juga, sepertinya kau akan menjadi lulusan terbaik tahun ini, Annora." Wajahku seketika memanas.
"Itu bonus," ujarku singkat menutup rasa malu, "dan terima kasih telah membantuku selama ini, Rey, materi, data, semangat dan semuanya, aku tidak akan bisa mencapai semua ini jika bukan karena ..."
Reyno membungkam bibirku begitu saja, kemudian berhenti lalu menatapku dengan wajah jahilnya.
"Sudah kuambil hadiahnya." Lalu ia terkekeh.
"Selalu saja," ujarku kembali membuang muka. Reyno tertawa menanggapi.
"Aku sangat bangga padamu, Annora, juga kagum."
"Kau bisa membuatku besar kepala," protesku tanpa melihatnya, dan Reyno kembali terkekeh.
"Tapi itu benar, dari awal aku sudah memperhatikanmu, apa adanya, mandiri dan yang mengejutkan adalah otakmu yang encer, belum lagi segala hal dan beban yang kau tanggung sendiri." Reyno menatapku yang terdiam, "kau juga perlahan menerima dan membuat aku berubah menjadi lebih baik, sejujurnya aku selalu nyaman setiap bersamamu, hingga saat ini ..." Reyno kembali mendekat dan menyejajarkan wajahnya. Jarinya menengadah wajahku perlahan, menatap rona di pipiku. "Annora, aku tidak akan pernah berhenti sampai aku benar-benar memilikimu."
"Aku menunggunya, dan menunggu itu menyebalkan," ujarku lalu tertunduk. Reyno tersenyum lagi, lalu mengecup kening dan pipiku sambil menahan tawanya.
Oh, aku ingin memeluknya erat jika tak benar-benar kutahan!
***
Cafe sore itu tidak sepenuh biasanya. Gavin kini menggantikan posisi Reyno di sana. Sedang Elsa dan aku bergantian mengisi sisanya. Hanya tinggal kami bertiga, dan dua bulan sejak Reyno mengundurkan diri. Tentu saja amat mengejutkan. Gavin pun protes paling keras. Ia merasa amat kehilangan karena Reyno banyak andil dalam karirnya hingga menjadi barista.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
