Malam itu aku memilih istirahat setelah Vivian dan Calvin masuk ke kamar bawah. Mereka ... tidur bersama sepertinya.
Ck! apa sih yang aku pikirkan?
Dengan wajah menghangat aku melangkah naik meninggalkan Reyno di bawah yang dari tadi masih sibuk mengirim email untuk mantan sekertarisnya itu.
Entah kenapa aku agak malas menyebut namanya. Terserah jika Reyno merasa aku kekanakan. Jujur aku memang sedikit cemburu.
Sudah hampir beberapa bulan ini Reyno menahan keinginannya, dan sebenarnya tak hanya dia. Aku juga ingin berpelukan semalaman, dan melakukan ... hal lainnya.
Vivian dan Calvin memang masih hangat-hangatnya. Saling menatap kagum. Terutama Calvin. Ia selalu mengusap kepala, punggung atau sekedar memberi kecupan kecil pada Vivian, hingga diam-diam membuat aku membayangkan Reyno melakukannya padaku.
Payah!
Tapi ... memang ia juga masih melakukannya bukan? apa aku saja yang tidak sadar?
Ck! bicara apa sih aku?!
Setelah sampai atas aku langsung menjatuhkan diri terlentang di kasur. Menatap langit-langit dan bengong beberapa detik.
Aku kenapa sih?
Sudah pukul tiga pagi, dan ini menjadi rekor pertama kami bergadang beramai-ramai. Vivian yang sudah beberapa kali menguap akhirnya menyerah dan beranjak ke kamar, Calvin pun sepertinya tidak mau membiarkan pacarnya itu sendiri berlama-lama, ia langsung menyusul beberapa detik kemudian. Reyno hanya tersenyum dan memintaku untuk ikut istirahat jika sudah lelah. Tapi ia tidak bilang apa-apa lagi setelahnya dan malah kembali menatap laptop.
Menyebalkan ...
Memang sejak kapan ia pura-pura tidak sensitif?
Sudah hampir satu jam mataku tak juga bisa terpejam. Aku gelisah sendiri dengan pemikiran tadi. Entah gara-gara ada Calvin dan Vivian, tapi rasanya aku memang jadi aneh.
Aku kembali bangkit dan memilih pakaian yang lebih nyaman. Kaos dan celana panjang tadi rasanya agak lengket setelah semalaman, dan untuk mandi juga sudah tidak mungkin, jadi akhirnya aku menarik sebuah daster berbahan satin dengan tangan kutung yang panjangnya selutut. Satu-satunya daster yang aku punya.
Setelah kembali ke ranjang, aku pun menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit ...
Ah, aku benar-benar tidak bisa tidur!
Aku pun bangkit duduk dan ...
"Kau belum tidur juga?" Reyno sudah di hadapanku, dan tengah melepas kaosnya. Sepertinya ia juga agak gerah. Malam ini entah kenapa sedikit panas.
"Tidak bisa ...," ujarku ragu dan Reyno menatapku sejenak. "A-aku ... entah kenapa rasanya sedikit aneh." Reyno pun tidak jadi mengambil kaos dan malah menghampiriku topless.
"Ada apa denganmu?" tanyanya dan langsung mengambil tempat di sampingku, seolah ... ia akan tidur juga di sana ...
"Eh, e-entahlah ... "
Sial! kenapa jantungku malah berdebar tak karuan?! Jangan bilang gara-gara kehadiran Rey.
Aku terkesiap ketika Reyno meletakan tangannya di keningku, lalu turun ke arah pipi.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
