Disruption

2.6K 148 3
                                        

Reyno pulang begitu larut, ia melihat jam tangannya sepintas. Sudah lebih dari pukul satu pagi. Kedua matanya terasa berat, dan fisiknya lelah. Ia bahkan melewatkan makan malam.

Benaknya masih penuh dengan pria itu, yah, ia mungkin sedikit lega. Tapi juga merasa tidak enak. Mengetahui sesuatu tanpa persetujuan Annora.
Namun, setidaknya kini ia tahu apa yang sebenarnya dialami kekasihnya itu, dan bagaimana ia akan bertindak selanjutnya.

Reyno mengunci kendaraannya di basement. Dengan sebelah tangan memijit pangkal alis, ia berjalan masuk ke dalam lift, menggesek kartu id-nya dan menekan angka 10.

Pintu lift terbuka di dalam apartemen. Dilepasnya sepatu sneaker dan tanpa merapihkannya, ia langsung menuju dapur, mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Hanya selang beberapa detik ia sudah meneguk dua gelas yang terisi penuh. Tenggorokannya kering, dan pusing di pangkal alisnya juga tak kunjung mereda.

Mungkin memang lebih baik ia segera tidur. Pikirannya terlalu penuh hari ini. Bahkan rasa laparnya sama sekali hilang.

Reyno berjalan gontai menaiki tangga. Namun, baru beberapa anak tangga, mendadak ia berhenti. Reyno menyadari sesuatu. Kepalanya menengadah ke atas sambil kakinya perlahan melangkah.

Dugaannya benar, matanya melebar, menghadap ke kanan, melihat seseorang sudah duduk manis di atas ranjang.

"Surprise ..." Sapa wanita itu sambil tersenyum simpul. Wajahnya menyinggung sedikit senyuman angkuh. Khas dirinya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Reyno menatapnya datar, berjalan ke arah meja di sebelah kiri dan melemparkan tas ranselnya. Ia menyesal melupakan bahwa duplikat kartu id miliknya ternyata masih berada di wanita itu.

"Apakah itu ucapan sambutanmu?" Wanita itu tersenyum lagi sambil menyilangkan kaki jenjangnya dengan
anggun.

Reyno melirik sebuah koper besar di samping ranjang. Wajahnya seketika mengeras.

"Apa yang kau pikirkan, Diana?" kali ini Reyno sedikit menyentak, ia menatap wanita itu tajam. Ekspresinya sedikit mengeras ditambah sakit kepala yang tak kunjung mereda. Benar-benar perpaduan yang buruk.

"Sudah kubilang, aku masih tunanganmu saat ini." Diana membalas santai lalu bangkit dan berjalan mendekati Reyno.

Tubuhnya yang terbalut mini dress putih dengan belahan rendah itu, tidak cukup menarik untuk membuat Reyno tak membuang mukanya. Emosinya mendadak terpancing dan ia memilih tak menatap wajah wanita itu.

Diana semakin mendekat dan tangannya langsung menyentuh dada Reyno. Ia menyandarkan kepalanya perlahan, lalu menghela.

"Aku merindukanmu ..." Ujarnya perlahan. Namun, Reyno hanya berdecak.

"Aku tahu, aku memang salah." Diana menurunkan tangannya dan kali ini ia merangkul pinggang Reyno. "Bisakah kau maafkan aku ...?" kepalanya menengadah, menguatkan pelukannya.

"Maaf ..." Reyno menghela, sambil menarik tangan Diana dan melepaskan rangkulannya. Diana terdiam. Tampak dirinya benar-benar terpukul dengan penolakan ini.

"Diana, sampai kapanpun jawabanku tetap sama. Jadi percuma saja kau bersikeras seperti ini."

Ia terkekeh, wajahnya menunduk menyembunyikan senyuman getir. "Tapi aku belum menyerah." Ujarnya ketus dan menengadah membalas tatapan Reyno.

"Lalu apa yang kau inginkan?" Reyno mengerutkan alis. Matanya memicing mengunci wanita itu.

Diana mendengus. Ia tak mungkin menjawab bahwa dirinya masih menginginkan pria ini. Ego dan gengsinya terlalu tinggi, dan Reyno tahu persis akan hal itu.

JUST ONE BELIEVE (complete)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang