Aku sudah sangat siap ketika detik itu namaku dipanggil, dan dengan baju toga yang agak kebesaran di tubuh kecilku dan heels yang sebenarnya hanya empat sentimeter. Tapi melewati jajaran kursi dan kemudian sampai di bagian tengah aula, berjalan sendiri beralas karpet merah menuju ke arah panggung, rasanya super berat dan menegangkan.
Aku berjalan dengan penuh debar, mendengar sorak soray dan samar-samar kulihat Reyno di jajaran kiri, duduk berdampingan dengan Papa dan Mama. Ia berdiri di antara kumpulan para wali, tersenyum hangat. Begitu pula Papa, ia semangat sekali bertepuk tangan. Sama sekali tidak membuat perasaanku semakin baik. Tapi mau tak mau aku terus melangkah hingga ke atas panggung.
Beberapa detik itu ketika seorang rektor menjabat tanganku, kemudian mengalungkan piagam dan memberikan map kelululusan, perasaanku pun berubah menjadi bahagia bercampur bangga. Seorang MC mengucapkan namaku dan kata-kata cumlaude lalu lainnya yang tidak terdengar karena aku terlalu sibuk menyeka air mata.
***
"Mama Papa kembali saja dulu ke hotel, nanti kita bertemu lagi saat jam makan malam. Aku dan Annora akan
menjemput." Reyno berujar santai ketika mengantar Papa dan Mama menuju taksi yang telah ia pesan sore itu, dan tentu saja hotel miliknya yang telah ia book jauh-jauh hari.
"Terima kasih banyak, Nak Reyno." Mama tersenyum bahagia. Sedangkan Papa hanya tersenyum lembut.
Mereka pun masuk ke dalam taksi dan kemudian berlalu. Sedangkan aku masih terdiam menatap kendaraan itu menjauh, dengan baju toga yang kebesaran, piagam dan tiga buket bunga di pelukan. Milik adikku Daryl yang paling besar. Ia mengirimnya langsung dari online, karena sayangnya tak bisa hadir, milik Papa dan Mama berukuran sedang dan Reyno justru yang paling kecil dan simpel.
"Kau lihat Gwen?" Aku masih melihat kiri kanan mencari teman seperjuanganku itu. Reyno mengarahkan telunjuknya ke belakangku.
"Annora!" belum sempat berbalik, ketika pelukan langsung menghujam tubuhku dari belakang.
"Gwen!" Kami pun saling berpelukan. Gwen menitikan air mata sedang aku tetap memeluknya.
"Kita harus tetap kontak, ya! jangan lupa sama aku, lho!" Aku mengangguk dan tersenyum. "Kau juga Reyno, jangan lupa hire aku jika sampai jadi ..." Gwen mendadak terdiam ketika Reyno terkekeh.
"Hei, apa yang kalian bicarakan?" Aku menatap curiga pada keduanya.
"Annora, kau pasti bakal terkejut. Ah, kutunggu undangan kalian!" Gwen kembali memeluk aku, kali ini sambil mengecup pipiku.
"Gwen, kita masih di kota yang sama, dan besok juga kita masih janji bertemu, jangan lebay, ah!" aku tertawa dan mendengus lalu melirik Reyno yang tersenyum kecil.
Aku menuntut jawaban padanya dengan tatapan, tapi Reyno hanya mengedik.
Menyebalkan. Mereka bicara apa sih tadi?
***
"Hei, mau sampai kapan tidur terus, sebentar lagi kita harus bersiap menjemput Papa dan Mama," ujar Reyno yang tengah memilah pakaian di depan lemari, lalu menarik sebuah kaos putih dan dikenakannya dengan cepat. Rambutnya masih basah karena ia baru saja mandi. Aku menatapnya dari belakang.
"Sebentar lagi, aku masih ngantuk sekali," balasku sambil leyeh-leyeh di atas kasur dan tetap menatap tubuh menawan Reyno.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
