Aku menghampiri Reyno detik itu juga, sambil sesekali mengawasi wanita itu. Namun, ternyata Reyno seperti sudah menungguku sejak tadi. Ia menghadap ke arahku yang tengah menghampirinya.
"Rey, tadi aku ..." Tanpa menunggu Reyno langsung menarik sebelah tangan dan membawaku ke belakang cafe, menuju ke ruangan staff.
"A-ada apa?" aku mendadak bingung dengan gelagatnya. Ia menarik kursi dan melempar tubuhnya.
"Damn it!" Reyno menumbuk meja itu seketika. Namun rasa penasaran dan bingung membuat aku perlahan ikut menarik kursi di sampingnya.
"Entah dari mana dia tahu tempat ini. Sial. Aku sudah kecolongan." Ia berdecak sambil menekan pelipisnya.
"Apa maksudmu wanita yang tadi kulayani? kau melihatnya?" Reyno mengangguk pelan.
"Wanita itu tadi mencarimu ..." Dengan hati-hati aku mulai bicara. "Jujur aku agak curiga." Reyno mulai melirikku. "Aku bilang tidak ada yang bernama Reyno di sini, dan aku langsung meninggalkannya."
"Reaksimu bagus." Ia sedikit tersenyum lalu menatapku. "Dia itu tunanganku, Diana." Aku membeku seketika.
"Dia ... tunanganmu ...?" aku masih fokus pada kata-kata itu. Dan pikiranku langsung penuh dengan wanita itu. Tatapannya, seringainya, lalu nada sinisnya.
"Aku tidak menyangka dia sampai melakukan sejauh ini." Reyno berdecak lagi. "Masalah ini bisa jadi panjang." Aku terdiam. "Mungkin aku harus pergi sekarang, sebelum ia menemukanku di sini." Reyno mulai melepaskan apron.
"Tapi bukannya aku sudah bilang tidak ada yang bernama ..."
"Diana tidak akan percaya semudah itu, Sayang." Wajahku seketika menghangat. Reyno tersenyum kecil lalu mengusap pipiku. "Percayalah, dia akan melakukan apapun." Aku lagi-lagi terdiam. Kata-kata Reyno membuatku membayangkan karakter seperti apa tunangannya itu. Bersitegang sebentar saja tadi, aku sudah merasa risih.
"Lalu kau mau pergi ke mana ...?" kugigit bibirku menatap Reyno yang mulai melepas seragamnya.
"Aku akan menyelesaikannya, Annora. Ini adalah urusanku dengan Diana. Aku tidak ingin kau ikut terseret." Kepalaku menunduk. Entah kenapa rasanya sedih.
Apakah aku ini jahat? aku telah menjadi orang ketiga di antara mereka bukan ...?
"Jangan berpikir ke mana-mana." Reyno menyentil pelan keningku, membuatku menengadah dan menatapnya yang tersenyum. "Aku sudah lama melupakannya, bahkan jauh sebelum aku bertemu denganmu." Reyno menarik kaos polos hitamnya, mengenakan jaket dan menyeleting ranselnya.
"Katakan pada Gavin, aku harus pergi karena ada keperluan mendadak, dan jika Louise juga bertanya, kau bisa mengatakan yang sebenarnya. Dia sudah tahu semuanya." Aku mengangguk enggan. Reyno menghampiriku, lalu perlahan mengecup keningku lagi.
"Maaf, Annora, aku akan mengabarimu secepatnya." Dan aku hanya menghela.
"Bye ..." Reyno pun berlalu keluar setelah mengusap kepalaku sesaat. Aku menatap punggung lebarnya berjalan menjauh.
Entah kenapa, rasanya seolah aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Dadaku seketika terasa sesak.
***
Drama itu sudah memutar CD kedua pada episode ke sepuluh, namun sejak awal aku sama sekali tidak memperhatikannya. Vivian sibuk komentar sana-sini, tapi aku hanya terdiam, bahkan tidak mendengar jelas apa yang Vivian ucapkan.
"Lihat deh baju ceweknya, model baju dengan macam-macam patch seperti itu sedang musim loh, keren, yah?" celoteh Vivian lagi sambil mengunyah keripik kentang. "Aku sempat lihat di beberapa toko, memang fashion seperti itu sedang happening." Lanjutnya lagi, dan tetap tak ada reaksi dariku.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomansaHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
