Cafe akhirnya tutup setengah jam lebih telat. Beberapa konsumen memilih menunggu hujan dan tetap berdiam di dalam cafe, sehingga mau tak mau aku, Elsa dan Gavin harus menunggu hingga keadaan benar-benar sepi.
Pak Louise sendiri terpaksa turun tangan dengan pengumuman singkat melalui speaker, bukan mengusir, tapi memberitahukan bahwa cafe akan tutup sebentar lagi. Dan akhirnya sukses membuat beberapa konsumen itu beranjak pergi, walaupun masih berada di halaman cafe.
"Ahh ... benar-benar merepotkan." Elsa menggerutu sambil mengelap beberapa meja dan menyemprotkan pembersih.
"Untung Pak Louise segera bertindak." Kuangkat beberapa piring dan gelas kotor, dan menyusunnya di atas nampan.
Pak Louise sempat memberikan beberapa gift kecil-kecilan berupa bingkisan biskuit, agar orang-orang itu tidak protes ataupun mengomel. Lucu sekali.
"Hujan masih belum juga berhenti." Elsa mengela sambil memeras lap basah ke dalam sebuah ember kecil di lantai.
Mataku mengerling ke arah dinding kaca. Deru hujan masih terdengar deras. Bulir-bulir air masih berlomba mengalir turun tumpang tindih.
Aku hanya terdiam.
Percuma saja berusaha kututupi, ketika tak sengaja memikirkannya, hati ini terasa sepi.
Aku ingin bertemu ...
"Kau pulang sendiri, Ann?" aku mengangguk tanpa menjawab. "Bawa payung tidak?" dan aku menggeleng. "Jadi kau akan menunggu hujan sampai larut malam?" aku hanya tersenyum tipis lalu meletakan nampan.
"Kontrakanku tidak jauh, bis masih ada sampai jam 12 malam, tenang saja, aku bisa panggil taksi jika perlu." Kuambil sapu di dekat kamar mandi dan mulai menyapu bagian bawah meja.
"Reyno ke mana sih ...? kasian Annora ... " raungan Elsa seolah mewakilkan perasaanku. "Cafe ini terasa sepi tanpa dia." Senyuman tipis kembali menghiasi bibirku kala memunggungi Elsa.
"Dia masih sibuk, ada sesuatu yang perlu ia selesaikan." Elsa mengerutkan alis.
"Apa kau tidak kangen padanya? sudah hampir seminggu."
"Tentu saja. Tapi aku akan tetap menunggu." Elsa memutar mata. Jawabanku terlalu naif untuknya.
"Kalau aku jadi kau, aku akan datang padanya. Buat apa menunggu? lakukan sesuatu dengan spontan tanpa muluk-muluk. Kalau ingin bertemu ya tinggal bertemu. Apa susahnya?" tangannya bertolak pinggang menatap aku yang terdiam.
"Aku setuju dengan Elsa, setidaknya aku juga tahu sampai kapan akan terus menggantikannya?" Gavin tertawa kecil memamerkan sederet giginya.
"Ck! kalian ini memang sengaja mengomporiku kan?" aku mendengus menatap keduanya.
"Habisnya kau tidak bertindak apapun, aku gemas." Aku terkekeh melihat gelagat Elsa. "Aku saja khawatir ke mana pacarmu pergi, eh kau malah ..."
"Kau khawatir dengan Reyno?" Gavin tiba-tiba menyecar dari belakang. "Lalu bagaimana denganku? kau lebih mengkhawatirkan orang lain dari pada aku? hei, Elsa?" Elsa terkikik pelan sambil menatapku namun tetap membelakangi Gavin.
"Maksudku bukan begitu ..." Bibir Elsa menggerutu kesal membelakangi Gavin. Kali ini aku yang terkikik.
"Bukan begitu bagaimana?" Gavin semakin nyolot.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomantizmHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
