Malam itu kami tertidur di atas sofa, kepalaku terkulai di satu sisi bahunya, satu tangannya merangkul ringan pundakku. Namun mata ini enggan tertutup, pikiranku melayang-layang.
Rasanya masih bimbang dengan pernyataan itu. Tapi ia nampak berusaha tetap tenang, dengan senyum dan kejahilannya seperti biasa. Beberapa kali aku harus merasa bersalah.
Memang aku membutuhkan waktu, dan untuk masuk ke tahap 'itu', aku masih belum ...
"Kau terbangun?" Rey yang tersadar, membuyarkan lamunanku.
"A-aku tak bisa tidur." Sebelah tangannya segera membelai rambutku.
"Tak usah terlalu dipikirkan," ujarnya santai. "Anggap aku tidak mengatakan apa-apa."
Dan sekarang mendengarnya berkata begitu, juga membuat perasaanku sesak.
"Kau ... benar-benar yakin padaku?" tanyaku setengah ragu.
"Selalu saja mengajukan pertanyaan yang sama." Rey menghela panjang.
"Bukan begitu, aku merasa, bahwa aku ..."
"Bahwa kau tak yakin? tak sebanding atau tak pantas denganku? apalagi Annora?" ia tersenyum tipis, sangatlah mudah baginya menebak jalan pikiranku. "Belajarlah menghargai dirimu sendiri." Aku menggigit bibir dan menunduk. Selalu saja skak mat.
Apa yang tak bisa ia tebak. Mungkin ia sudah bosan dengan pembicaraan seperti ini, yang terus berulang.
"Aku sayang padamu. Karena wajah ini, kepribadian ini dan karena itu dirimu." Satu tangannya menengadahkan wajah meronaku menghadapnya. Ingin sekali menepisnya. "Apa yang menjadi tolak ukur untukmu sehingga aku tidak layak?" pertanyaanya malah membuat lidahku kelu.
Bukan kau yang tidak layak ... tapi aku ...
"Kita ... berbeda."
Susah payah rasanya mengucapkan dua kata itu. Aku takut menyakiti dirinya. Tapi lebih baik sebelum semua terlambat.
Pria itu menghela sambil memejamkan mata.
"Baiklah, jika memang perkiraanku benar, maka aku tak punya pilihan selain segera mengubah semuanya."
Ia terdiam sejenak seolah menyimpulkan sesuatu. Dapat kulihat sorot matanya yang menerawang jauh melewati aku.
"Sebenarnya tinggal menunggu waktu, aku sudah memikirkan opsi ini jauh sebelumnya."
"Maksudmu?" aku benar-benar tak mengerti apa yang ia bicarakan.
"Kelak kau akan lebih mudah untuk menerimaku," jawabnya mengambang.
Hah?
Mataku membulat. Perasaanku pun semakin bergejolak.
Apakah aku telah salah mengucapkan kata-kata, sehingga membuat segalanya semakin rumit sekarang?
Bodoh kau, Annora!
"Tolong jangan berkorban atau melakukan apa-apa lagi untukku ... "
Reyno tersenyum dan mengecup keningku seketika. Perlakuannya berhasil membungkamku.
"Aku tidak berkoban, Annora, aku berusaha."
Rey ...
Kedua tanganku mengepal di balik badan. Tak ada yang bisa kulakukan selain menatapnya.
"Kali ini, beri aku waktu lagi." Ia mengakhirinya dengan tersenyum tipis, namun tak lagi menyentuh matanya.
Aku tahu ia kecewa.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
