Bunyi alarm menyapaku pagi itu.
Aku langsung bangun dan terduduk. Mengambil jam, dan melihat angka 07.00 A.M, di layarnya.
"Kuliah pagi lagi ...!" aku berteriak sendiri sambil bangkit berdiri, berjalan ke kamar mandi, dan menutup pintunya.
Hari ini badanku agak sedikit tidak enak, aku sampai di rumah sekitar jam 10 semalam, dan dengan jaket yang basah untuk kedua kalinya. Setelah mengganti baju, aku langsung tertidur pulas. Namun, entah kenapa pagi ini badanku masih terasa tidak fit, tulang-tulang di tubuhku terasa ngilu.
Aku memilih kemeja putih panjang, dan celana jeans leging hitam. Rambutku kuurai, entah kenapa aku hanya ingin memperbaiki moodku. Memang sudah hampir beberapa hari ini aku tidak bermimpi tentang Adrian lagi.
Ahh banyak tugas hari ini ...
Aku mulai mengingat, dan bergegas ketika kulihat jarum jam menunjuk angka delapan. Tanpa mengikat tali sepatu, aku langsung dan beranjak pergi.
"Wah, buru-buru sekali?" sapa Kellan yang kulihat sedang memberi makan kucing peliharaanya.
"Iya, aku hampir kesiangan." kuputar kunci kamar lalu akhirnya mengikat tali sepatu itu asal." Kellan tersenyum melihatku yang terburu-buru.
"Hati-hati, Ann!" Ia melambai dari belakang, ketika aku langsung bergegas pergi.
***
"Makalahmu sudah beres Ann?" Gwen menyapaku pagi itu ketika aku masuk bersamaan dengan bunyi bel.
Aku mengangguk, lalu duduk di sebelahnya, mengeluarkan beberapa jilid makalah, dan melipat jaket.
"Hebat sekali! apa yang tidak pernah tak kau kerjakan." Wajah Gwen tampak pasrah sambil membuka lembaran demi lembaran makalahku.
"Memang punyamu kenapa?" Aku bertanya sambil menyisir rambutku dengan tangan.
"Aku kesulitan di kesimpulan ..." Wajah Gwen memelas menatap bab kesimpulan di makalahku.
"Kau harus memahami isi makalahmu dulu, barulah kau buat kesimpulan." Aku nyengir sambil mengacak-acak poni Gwen.
Tak lama kemudian dosen mata kuliah jurnalistik pun datang. Pelajaran tampak berjalan khidmat. Semua anak tampak konsen memperhatikan. Aku berusaha menyerap dan mencatat apapun yang penting. Kulihat Gwen sibuk sendiri berpikir dan menimang-nimang apa yang akan ia tulis di bab kesimpulannya.
***
Istirahat siang itu aku berjalan terhuyung ke arah kantin. Saat itu Gwen tidak makan bersamaku, karena ia mau menyusulkan makalahnya siang ini. Aku melangkah ke arah meja prasmanan, mengambil nampan, dan memilih beberapa sayur dan lauk. Kepalaku mendadak terasa berat. Badanku agak berkeringat, dan rasanya sedikit lemas.
Aku membayar dan memilih meja terdekat. Sambil meneguk air mineral, aku melihat Vivian dari kejauhan masuk ke dalam kantin. Ia melambaikan tangan padaku, dan disambut dengan lambaianku.
"Annoraaa ..." Ia menghampiri dan memelukku seperti biasa. "Sudah kuduga kau ada di sini." Lalu
cipika-cipiki.
"Loh? badanmu panas sekali!" Vivian menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
"Kau baik-baik saja Ann? wajahmu agak pucat nih ...?" Vivian duduk di hadapanku sambil menatapku.
Ia menggunakan blazer coklat berbahan kulit, kaos putih, celana skinny jeans hitam, dan flat shoes. Rambutnya dicempol acak ke atas. Vivian memang sangat cantik dan fashionable.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja kok. Semalam aku kehujanan, mungkin sedikit flu, tapi kemarin aku sudah dapat tempat kerja baru, nanti kau main ke sana ya?" aku tersenyum sambil mengunyah makananku.
KAMU SEDANG MEMBACA
JUST ONE BELIEVE (complete)
RomanceHampir setahun lebih Annora terkungkung dengan masa lalu dan mimpi buruk. Dan karena rasa frustasi untuk berusaha lepas dari dilema itu, akhirnya ia memilih untuk pergi menjauh dan hidup seorang diri. Belajar dan bekerja dilakoninya sekaligus. Ia be...
