Malam itu, dinginnya Pegunungan Alpen seolah menembus kaca besar resor, menyisakan keheningan yang aneh di dalam kamar. Aurora berdiri menatap hamparan salju di luar, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang tidak menentu. Logika yang biasanya ia agungkan menguap begitu saja. Bermalam di tempat terpencil dengan pria yang baru ditemuinya beberapa kali jelas tidak pernah ada dalam kamus hidupnya.
Aurora paham betul reputasi Nicholas. Tidak hanya sebagai predator di lantai bursa Wall Street, tetapi juga sebagai pria yang terbiasa mendikte wanita. Paras tampannya yang maskulin sering kali berseliweran di majalah bisnis hingga majalah fashion. Sexiest man alive. Banyak orang melabelinya demikian.
Aurora memejamkan mata sesaat ketika imajinasi liar yang biasa ia baca di novel-novel dark romance miliknya mendadak berputar di kepala, menampilkan sosok Nicholas sebagai pemeran utamanya. Sial, aku harus membuang semua koleksi novelku setelah ini, rutuknya dalam hati.
Enggan larut dalam pikiran gila itu, Aurora memutuskan untuk berendam di onsen privat resor guna melemaskan otot-ototnya yang tegang. Masalahnya, ia tidak punya pakaian ganti selain kemeja Nicholas yang melekat di tubuhnya sekarang. Sembari mencoba peruntungannya, Aurora kembali melangkah masuk ke dalam walk-in closet kamar itu. Kali ini, matanya menangkap beberapa paper bag mewah yang tampaknya baru saja diletakkan di atas salah satu laci konter tengah. Rasa penasaran membuatnya membongkar isi tas tersebut.
Detik berikutnya, wajah Aurora memanas. Di balik tumpukan pakaian formal, ia menemukan sepotong lingerie sutra hitam tipis dan g-string dari Victoria’s Secret dengan potongan yang teramat minim. "Tampaknya kamu sangat menyukai pilihan pakaian dalam dari stafku," sebuah suara baritone berat tiba-tiba memecah keheningan dari arah belakang.
Aurora tersentak. Secara refleks, ia menyembunyikan pakaian dalam seksi itu di balik punggungnya, lalu berbalik cepat. Di ambang pintu walk-in closet, Nicholas berdiri bersandar pada kusen. Pria itu sudah menanggalkan kemejanya, yang tersisa kini hanya bathrobe hitam longgar yang memperlihatkan sebagian dada bidangnya yang kecokelatan. "Apa yang coba kamu sembunyikan, Aurora?" tanya Nicholas rendah. Sebuah seringai licik terukir di wajah tampannya, sementara sepasang matanya yang tajam menatap Aurora dengan intensitas yang mengunci pergerakan wanita itu.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun," sanggah Aurora, berusaha keras menstabilkan suaranya meski rona merah di pipinya tidak bisa berbohong.
Nicholas terkekeh. Ia menegakkan tubuhnya, melangkah maju perlahan tanpa melepas pandangannya dari Aurora. Jarak di antara mereka menipis, menyisakan atmosfer pekat yang dipenuhi ketegangan sensual dalam ruangan itu."Jangan berbohong padaku.!" bisik Nicholas begitu tubuhnya sudah berdiri tepat di depan Aurora, mengurung wanita itu di antara laci konter dan postur tegapnya. Ia menunduk sedikit, mengembuskan napas hangatnya di dekat pelipis Aurora. "Show me what you got." Ujar pria itu serak.
Aurora menahan napas, dagunya terangkat menantang meski jantungnya berdegup gila. Ia menolak untuk terlihat lemah di bawah dominasi Nicholas.
"Ini bukan urusanmu, Nicholas. Mundur!" desis Aurora tegas, mencoba mempertahankan pertahanannya yang mulai terkikis oleh aroma maskulin yang menguar dari tubuh pria itu.
Nicholas tidak mundur. Sebaliknya, ia menyeringai lebih lebar, menyukai binar perlawanan di mata Aurora yang justru semakin memicu gairah yang mati-matian ia coba tahan.
Nicholas tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru mengulurkan tangan kanannya ke belakang pinggang Aurora, dengan mudah merebut potongan kain sutra tipis itu dari cengkeraman jemari Aurora. Nicholas mengangkat kain hitam itu di depan wajah mereka, menatapnya sekilas sebelum kembali mengunci tatapan Aurora.
"Black lace. Pilihan yang berani." bisik Nicholas, suaranya merendah satu oktav. Ia menjatuhkan lingerie itu begitu saja ke atas lantai marmer, lalu menyusupkan jemarinya ke sela rambut panjang Aurora, memaksa wanita itu mendongak. "Tapi aku lebih suka melihatmu tidak mengenakan apapun Aurora."
Aurora mencengkeram erat kerah bathrobe Nicholas, mencoba menahan guncangan di dadanya. "In your dreams, Nicholas. Aku mau ke onsen, sendirian. Jadi tolong minggir."
"Onsen?" Nicholas menaikkan sebelah alisnya, seringai liciknya kembali terlihat. "Kebetulan sekali. Aku juga baru mau ke sana. Let’s go together, babe."
"Nicholas—" Sebelum Aurora sempat melayangkan protes atau tamparan kedua, Nicholas sudah merangkul pinggangnya dengan posesif, menuntunnya keluar dari walk-in closet menuju area belakang resor yang terhubung langsung dengan kolam air hangat privat.
Suasana di luar sangat kontras. Udara dingin Aspen yang menusuk kulit beradu dengan uap hangat yang membubung tinggi dari permukaan air onsen yang jernih. Di sekeliling mereka, batuan alam dan salju yang menumpuk menciptakan privasi mutlak.
Aurora masih mengenakan kemeja kebesaran milik Nicholas saat kakinya menyentuh tepian onsen. Nicholas, tanpa ragu sedikit pun, langsung melepas bathrobe hitamnya hingga menyisakan celana pendek hitam, lalu melangkah masuk ke dalam air hangat yang mengepul. Postur tubuhnya yang atletis dan terpahat sempurna terlihat begitu kontras di bawah temaram lampu luar. "Masuklah, udara di luar terlalu dingin untuk tubuhmu," ujar Nicholas, menyandarkan kedua lengannya di tepi batu onsen, menatap Aurora yang masih terpaku di atas.
Aurora menelan ludah samar. Menolak sekarang hanya akan membuatnya terlihat seperti pengecut yang ketakutan. Dengan gerakan pelan, ia melepas kancing kemejanya satu per satu, menyisakan pakaian dalam minimalis yang melekat di tubuhnya, lalu segera menenggelamkan dirinya ke dalam air hangat untuk menyembunyikan rasa malunya.
Sensasi hangat onsen seketika merilekskan tubuhnya, namun kehadiran Nicholas yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya membuat seluruh tubuhnya menegang.
Nicholas bergerak mendekat secara perlahan di dalam air, membuat riak-riak kecil yang menyentuh kulit telanjang Aurora. Ia berhenti tepat di depan wanita itu, memerangkap tubuh Aurora di antara kedua lengan kekarnya yang bertumpu pada batuan onsen.
"Kamu masih kelihatan tegang, babe," bisik Nicholas. Jemarinya yang basah perlahan menyentuh bahu polos Aurora, mengusapnya dengan gerakan memutar yang lembut..
Aurora memejamkan mata sesaat, merasakan sensasi panas menjalar dari sentuhan tangan Nicholas ke seluruh tubuhnya. Efek air hangat dan dominasi pria ini benar-benar mengacaukan akal sehatnya. "Nicholas, kita sudah membuat sebuah kesepakatan di kamar tadi," desis Aurora, mencoba mengingatkan dengan sisa ketegasannya yang makin menipis.
"Kesepakatan itu berlaku di atas ranjang, Aurora," balas Nicholas rendah, wajahnya mendekat hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Napasnya yang hangat terasa begitu intim di wajah Aurora. "Dan sekarang, kita sedang berada didalam air."Nicholas memiringkan kepalanya, menatap bibir Aurora yang sedikit terbuka. Di bawah siraman cahaya bulan dan uap onsen yang samar, ketegangan di antara mereka sudah berada di ambang batas. Nicholas tidak dapat lagi menahan diri; ia merapatkan tubuh mereka di dalam air, membiarkan kulit mereka saling bersentuhan, siap untuk mengklaim bibir wanita itu sekali lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aurora Is Mine
RomansaAurora Kiera Loredan Wanita berparas cantik, memiliki khidupan sempurna dan juga memiliki segalanya . Harus menghadapi kenyataan pahit. Penghianatan dari calon tunanganya. Yang terpergok berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ketika hatinya teng...
