[au] Hujan amunisi di Insa-dong hari itu lah yang akhirnya membawa Jisoo pada Taeyong, dengan segala cerita yang mengikutinya.
#####
Tell My Yearn to The Rain versi revisi.
[folder asli TMYTTR masih tersedia di bab terakhir jika ingin membaca]
Keesokan harinya setelah seharian bersama Lisa, Jisoo melanjutkan tulisannya di perpustakaan. Doyoung dan Jinyoung baru saja pulang. Perihal kemarin, Jisoo belum memberitahunya. Mungkin nanti, baru ia akan benar-benar memberitahu mereka. Saat sedang fokus mengetik, tiba-tiba seseorang menghampiri bangkunya.
"Permisi, boleh aku duduk di sini?" tanyanya.
Jisoo melirik ke arah mahasiswi tersebut, kemudian mempersilakan gadis itu duduk di seberangnya. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing selama beberapa waktu. Lalu gadis itu membuka percakapan.
"Kau ... dari fakultas mana?"
Jisoo menyahut. "Seni dan sastra. Kau?"
Gadis itu manggut-manggut. "Aku dari kelautan."
Jisoo ber-oh ria. Mereka bertukar senyum singkat.
"Namaku Jennie." gadis itu mengulurkan tangan.
Jisoo menjabatnya ragu. "Kim Jisoo. Senang bertemu denganmu, Jennie-ssi."
Mereka kembali bertukar senyum, lalu terdiam. Jennie nampaknya sedang mengerjakan tugas, begitupun Jisoo yang kembali mengetik. Tak lama Jennie pamit.
"Aku duluan ya. Sampai ketemu lagi Jisoo!" ujarnya ramah sembari menyunggingkan senyum. Jisoo balas tersenyum.
Sekarang, datang Taeyong. Jisoo lagi-lagi harus mengalihkan perhatian dari tulisannya. Taeyong berjalan menghampirinya. Jisoo langsung tidak fokus mengetik dan memilih mematikan laptopnya. Ia mengemas barang-barangnya kemudian beranjak.
"Hai, Jisoo-ssi! Kau sudah mau pulang?" sapa Taeyong seakan sudah lama kenal.
"Ya. Ada apa?" Jisoo berusaha nampak cuek.
"Um ... tak ada. Tadi aku bertemu Doyoung di jalan. Dia bilang kau ada di sini ... "
"Lalu?"
"Aku ... ingin meminta bantuanmu."
Apa lagi? Jisoo terdiam.
"Ayo kita ke kantin. Akan kujelaskan di jalan." ajaknya. Taeyong mendahului Jisoo yang langsung mengekor.
Taeyong mulai menjelaskan bahwa ia ingin membuat sebuah sajak. Katanya sajak itu akan ia berikan pada sepupunya sebagai hadiah ulang tahun. Terserahlah. Jisoo diam mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Nilai sastra Doyoung lebih tinggi dariku, btw." sahut Jisoo.
Taeyong terkesiap. "Ah, begitu ya."
"Tapi tak apa ... akan kubantu sebisaku."
Mereka tiba di kantin yang cukup ramai. Taeyong melihat segerombol mahasiswa yang ternyata kawan-kawannya. Mereka saling melambaikan tangan, kemudian Taeyong mengajak Jisoo bergabung.
"Ini teman-temanku. Eunwoo, Jaehyun, Yuta, Mingyu." Taeyong memperkenalkan mereka bergantian.
Jisoo membungkukkan badan. Apa-apaan ini? Kemarin Lisa, sekarang Taeyong? Apa mereka akan tanggung jawab jika para mahasiswi penggemar mereka menghajar Jisoo karena tidak terima? Cih, bahkan Doyoung pun tak pernah bilang kalau berteman dengan mereka. Apa sih mau mereka? Bukannya Jisoo tak suka. Hanya saja ... ia bukanlah siapa-siapa. Dan ia tak pantas berada di sini sekarang, walau mereka nampak baik-baik saja dengan kehadirannya. Don'tjudgebookbyit'scover?
"Kau mau makan?" Taeyong menawari selagi mereka duduk.
Jisoo menggeleng. "Tidak usah."
Ini konyol. Ia satu-satunya wanita di antara Taeyong dan teman-temannya. Berpasang mata telah menatapnya iri. Jisoo hanya bisa menyembunyikan wajahnya.
"Baiklah." Taeyong manggut-manggut. Ia kemudian mengambil dan menyerahkan bukunya pada Jisoo.
Pagi ini hujan Hujan seperti semalam Embun dan fajar mengatakan kerinduan Rindu pada sang sajak dan elegi
Lalu siapakah aku ini? Apa aku hanya ilusi? Delusi pribadi yang menyakiti?
Bukan.
Tak ada yang pernah mengatakan siapa sejatinya diriku Tak ada yang sanggup mengatakan, karena aku tahu Aku tahu diriku palsu Tempatku bukan di sini Bukan juga di dunia fana Tempatku bukan di mana-mana Aku hanya hidup bergantung pada elegi
Intinya aku bukanlah sesiapa Aku bukanlah sang sajak Aku bukanlah elegi yang ada Mereka memantrai pasang mata dengan pesonanya Meluluhkan tiap air mata yang ditelan kata-kata Ucapannya bak samurai, membelah batin tak berperisai Keduanya memekakan telinga, memukau tiap eksistensi dan raga
Pagi ini sayu Kopi dan rotiku sudah kumakan habis Pagi ini bisu Pagi ini tak sedingin senja kemarin Kemarinkaladisapagerimis Kemarinkalarindusajakdanelegi
Jisoo termenung. Ini tulisan Taeyong? Walau ia tak paham tulisan ini ditujukan pada siapa nantinya, tapi ia cukup terpukau. Pria seperti Taeyong ternyata melankolis juga. Apa dia sedang putus cinta? Atau ... tentang hubungannya dengan Lisa? Sebenarnya ada apa mereka?
"Bagaimana? Menggelikan?" tanya Taeyong.
Jisoo menggeleng. "Bagus."
Ia diam.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.