[au] Hujan amunisi di Insa-dong hari itu lah yang akhirnya membawa Jisoo pada Taeyong, dengan segala cerita yang mengikutinya.
#####
Tell My Yearn to The Rain versi revisi.
[folder asli TMYTTR masih tersedia di bab terakhir jika ingin membaca]
" ... dan aku merasa tak berguna. Jadi bukan salahku jika aku pergi." rutuk kawan Jisoo di sepanjang koridor. Mereka tengah membicarakan pasal kedekatan kawannya itu dengan Zhou Jie Qiong.
"Kalau begitu kau melakukan hal yang seharusnya kau lakukan." sahut Jisoo.
"Maka dari itu ... "
Jisoo meliriknya. "Kau menyesal?"
"Tidak! Jelas dia tak menginginkanku. Aku bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan dia."
"Jie Qiong itu ... teman Lalisa, kan?"
Kawannya mengangguk.
"Hai Doyoung!" sapa seorang mahasiswa yang lewat pada kawan Jisoo—Doyoung.
Jisoo membulatkan mulutnya. "Kau lumayan terkenal ya."
"Terkenal apanya. Dia temanku di SMA dulu." Doyoung menyengir.
Jisoo mendengus. "Kukira dia fansmu."
"Fansku laki-laki?"
"Fanboy,"
Doyoung mendengus. Pandangannya ia alihkan, dan malah bertemu dengan Taeyong. Mereka mengangkat tangan saling sapa. Jisoo yang melihatnya hanya bisa terdiam linglung.
"Santai saja. Dia masih jomblo kok." Doyoung menepuk bahu Taeyong.
"Temui aku di perpustakaan, Jisoo. Aku duluan!" ujarnya, kemudian pergi.
Jisoo masih terdiam di tempatnya. Mereka saling kenal? Apa Doyoung juga berteman dengan mahasiswa populer lainnya? Well, ia tak ada apa-apanya dibandingkan mereka semua. Apa jangan-jangan ... Doyoung juga mahasiswa populer?
"Maaf karena kita harus bertemu lagi di saat seperti ini." ucap Taeyong. "Aku tadi mencari di kelasmu, tapi ternyata sudah kosong."
"A-ada apa?" Jisoo menggaruk tengkuknya.
"Aku ingin menanyakan bukuku ... apa tertinggal di rumahmu?"
"Buku?" Jisoo nampak berpikir. Ia mengingat-ingat kembali apakah ada buku asing yang tertinggal. "Rasanya tidak."