[au] Hujan amunisi di Insa-dong hari itu lah yang akhirnya membawa Jisoo pada Taeyong, dengan segala cerita yang mengikutinya.
#####
Tell My Yearn to The Rain versi revisi.
[folder asli TMYTTR masih tersedia di bab terakhir jika ingin membaca]
Menjadi bintang kampus memang menyenangkan. Siapa yang tak mau menjadi idola semua orang? Sudah sejak sekolah menengah pertama dulu Taeyong diberi label 'idola' oleh seluruh penghuni sekolah. Banyak siswi yang tergila-gila olehnya, bahkan ada yang sering memberi Taeyong hadiah. Seperti halnya saat ini, ketika para mahasiswi ganas memblokade jalannya.
"Maaf, aku terburu-buru." tuturnya entah keberapa kalinya. Ia kewalahan dan mulai merasa putus asa.
Tiba-tiba seruan seseorang meredam teriakan para mahasiswi tersebut. Taeyong mencari sumber suara, dan mendapati kawannya tengah membelah lautan manusia itu menghampirinya.
"Maaf, Nona-nona. Taeyong sedang dikejar deadline. Permisi ... permisi ... " ucap kawannya itu seraya menarik lengan Taeyong menjauh.
Saat hampir mencapai ujung, seorang mahasiswi menyodorkan sebatang coklat pada Taeyong. Taeyong menerimanya, tetapi tak sempat mengucapkan terima kasih karena kawannya menyeretnya terlalu cepat. Ia hanya sempat mengingat wajah mahasiswi itu hingga mereka sudah berada jauh dari kerumunan.
"Dari mana saja kau?!" gerutu Taeyong kesal.
"Aku masih ada telepon tadi. Maaf." kawan Taeyong merapikan pakaiannya.
"Eunwoo oppa!!!" teriak seseorang.
Eunwoo—kawan Taeyong tersebut—menoleh dan melambaikan tangannya asal. Mahasiswi yang meneriakkan namanya tadi nampak senang bukan main.
Taeyong mendecak heran. "Kau masih sempat tebar pesona?"
"Masalah bagimu?" celoteh Eunwoo.
Taeyong memutar mata jengah.
Dari arah berlawanan, datang segerombol mahasiswa yang tengah membuntuti seorang gadis. Ya, benar. Idola kampus yang lain. Gadis cantik itu melambaikan tangan ke arah Taeyong. Spontan, ekspresi Taeyong dan Eunwoo mengeras.
"Hereyoucome, nenek sihir." desis Eunwoo.
Gadis itu berhenti di hadapan Taeyong. Segerombol mahasiswa yang membuntutinya perlahan menjaga jarak dan pergi.
"Apa tadi kalian diikuti sepertiku?" tanya gadis itu sembari menebar pandangan ke belakang mereka.
"Kenapa?" Eunwoo mengernyit.
"Itu, kalian masih diikuti."
Taeyong menoleh ke belakang. Memang benar ada beberapa mahasiswi yang kedapatan mencuri pandang pada mereka. Ia juga melihat mahasiswi yang tadi memberinya coklat.
"Wah, kau punya coklat? Untukku?" gadis itu nampak girang. Ia merebut coklat di genggaman Taeyong tanpa melenyapkan senyumnya yang bak malaikat.
"Tidak!" Taeyong terkejut, segera merebutnya kembali.
Gadis itu menautkan alis. "Kenapa? Kukira itu untukku."
"Tidak. Bukan untukmu."
"Kau mau memberikannya pada siapa?"
"Ini ... ini ... titipan Eunwoo." Taeyong melirik Eunwoo.
Eunwoo mengangguk. "Aku sedang stres dan butuh coklat."
Gadis itu menelengkan kepala. "Apa yang terjadi padamu?"
Eunwoo mengedik. "Apa orang punya alasan untuk itu?"
"Ya ... siapa tahu kau memang stres ... dan butuh pengobatan." gadis itu menggigit bibirnya.
"Lisa!" panggil seorang gadis yang kemudian menghampiri mereka. Gadis itu mengamit tangan Lisa, melirik ke arah Taeyong dan Eunwoo sekilas.
"Ayo pergi. Apa yang kau lakukan di sini bersama mereka?" ucapnya setengah menyindir.
"Tak apa. Aku hanya tak sengaja lewat kok." Lisa mengulas senyum.
"Berhentilah bersikap manis pada pria yang menyia-nyiakanmu!" bentak kawan Lisa.
Lisa merebut lagi coklat di genggaman Taeyong. "Oke. Ayo pergi." ujarnya. Mereka pun melenggang pergi, meninggalkan tatapan sendu dari mahasiswi yang tadi memberikan coklat tersebut.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.