Bab 16 Bertemu Kembali

16.2K 631 5
                                        

Semua yang ada di dunia ini akan dikembalikan lagi kepada-Nya

Jam sudah menunjukan pukul 16 : 00 aku dan Ummi baru sampai di pemakaman ayah rasanya aku sudah tidak tahan ingin menangis di pusaran sang ayah, ayah aku sangat merindukan sosokmu. Ku lihat Ummi sudah menangis sama sepertiku mungkin ummi juga merindukan ayah selama di tinggal ayah aku dan Ummi berusaha tegar walaupun kita hanya berdua tapi masih ada keluarga yang lain yang selalu menguatkan kita.

Banyak yang tidak ayah tahu disana aku sudah tumbuh besar dan aku juga sudah kuliah. Dulu ayah selalu bilang kalau aku tidak boleh merepotkan banyak orang aku harus bisa sendiri, aku harus mandiri tapi apa ayah pasti ayah sangat kecewa di sana melihatku yang masih suka bahkan sering merepotkan orang lain.

Anak ayah sudah berusia 20 tahun, sebentar lagi kuliahku selesai, benar kata ayah dunia memang begitu kejam tapi kita tidak boleh hanya memikirkan dunia tapi kita harus ingat dengan akhirat kelak kita akan merasakan bagaimana sulitnya kita di sana kalau kita sama sekali tidak memiliki bekal ilmu keimanan.

Apa ayah mendengar disana, anakmu ini sudah mulai tertarik terhadap lawan jenis tapi itu di larang aku tahu itu, lebih baik aku hilangkan perasaan ini banyak cerita yang tak sempat aku katakan padamu aku sangat merindukanmu ayah. Menjadi dewasa tidaklah mudah kalau bisa memutar waktu aku hanya ingin menjadi anak kecil saja yang bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan batas apapun.

Ummiku sangat terisak aku tahu tidak mudah bagi Ummi membesarkanku seorang diri, aku yakin ummi akan selalu kuat.

"Ummi" ucapku lirih

"Iya kenapa sayang?"

"Jangan nangis, Safa sayang Ummi" ucapku lagi sambil memeluk erat ummi

"Iya nak, terimakasih ya sayang"

"Ummi juga sayang sama kamu nak"

Aku hanya mengangguk tidak kuat menahan air mata yang semakin deras keluar setelah berlama-lama di makam ayah kamipun memutuskan untuk pulang tapi sebelum pulang ummi mengajak ku makan di sebuah Restoran khas Sunda.

Supirpun langsung melajukan mobilnya dan sesampainya di restoran aku mengajak supir juga makan tapi dia tidak mau katanya biar nanti makan di rumah saja, baiklah kalau begitu hanya aku dan ummi saja yang memasuki restoran, saat ingin memesan makanan tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.

"Safa?" ucapnya di belakang

"Iya" jawabku, saat aku menoleh aku di buat terkejut karna lagi lagi pria itu dan mba Afifah jelas tadi yang menepuk bahuku adalah mba Afifah.

"Kamu makan disini juga, kebetulan banget ya"

"Iya mba, kita selalu ketemu dan kebetulan"

"Iya kamu benar" Diapun menyunggingkan senyum manisnya sementara suaminya tidak berekspresi sama sekali masih dengan wajah datarnya.

"Ayo mana Ummi kamu biar kita semeja saja" jawabnya

"Tapi mba, memangnya saya tidak mengganggu? Kan takutnya mba mau dinner berdua dengan suami mba" Jawabku memastikan

"Ah tidak, dimana meja kamu biar mba kesana duluan"

"Nomer 20" jawabku

"Mas kamu yang memesan makanannya gapapa kan?"

"Iya sayang" jawab pria itu halus

Di depan istrinya saja berhati malaikat tapi di depanku dan yang lain bagaikan robot.

"Kamu mau pesen apa?" tanyanya padaku

Tumben nanya duluan batinku.

"Biar saya saja yang memesan punya saya" jawabku

"Oh ya sudah" dia langsung pergi begitu saja

Akupun langsung memesankan makanan kesukaan Ummi, Ummi sangat suka sayur asam sama pepes ikan ayam, dan dia selalu suka pepes ikan asin menurut Ummi itu lebih sederhana di tambah sambal lengkap sudah. Akupun menuju meja yang tadi sudah kami pesan, aku melihat Ummi sedang berbincang dengan mba Afifah mereka berdua terlihat sangat akrab entah apa yang mereka bicarakan mba Afifah sampai tertawa terbahak-bahak.

"Kalian ngomongin apa?" tanyaku

"Ini Safa, Ummi kamu cerita apa saja kecerebohon kamu, mba sampai tertawa lebar" ucapnya sambil tertawa

"Ih Ummi Safa kan malu"

"Abisnya Ummi gemes setiap kamu ngelakuin kecerebohan"

Akupun menunduk malu jadi dari tadi mereka mentertawakanku aku bisa malu dengan ucapan Ummi tadi, sekarang mba Afifah sudah tau sifat ceroboh aku.

"Mas kamu udah selesai?"
Ucap mba Afifah membuat aktivitas kita berhenti karna kedatangan pria itu

"Iya sayang, lagi ngomongin apa si?"

"Ah engga ko mas"

Akhirnya mba Afifah tidak memberitahu pria itu, kalau pria itu tau entahlah apa yang akan dia katakan karna dia bilang aku selalu buat dia kesal itu yang masih ku ingat sampai sekarang.

Tak lama makanan yang kita pesanpun datang, aku dan Ummi langsung mengambil pesenan kami dan merekapun begitu ternyata mereka memesan pepes ikan ayam, sambal sayur asem dan nasi liwet.

"Kalian gak pesen nasi liwet?"

"Enggak mba" jawabku

"Masakan nasi liwet disini kan enak banget, bener kan mas?"

"Iya sayang"

"Mas Kahfi kalo makan di sini pasti pesen nasi liwet soalnya nasinya sangat terkenal, mas coba kamu ambilin Safa sama ummi nasi liwetnya biar Safa bisa coba" ucap mba Afifah membuat aku tersedak

"Minum dulu nak, pelan-pelan" kata ummi dan memberiku air putih

"Buat Safa aja ummi makan nasi putih aja" ucap ummiku lagi

"Mana piringnya?" tanya pria itu datar

"Mas jangan dingin gitu ih kasian tuh Safanya takut"

Aku hanya menunduk waktu pria itu malah menatapku.

"Yaudah sini mana piringnya biar saya yang sendokin" ucapnya sedikit lembut

"Ini" jawabku

Diapun langsung menyendokkan nasinya untuk di taruh di piringku, dia seperti tau porsiku buktinya dia mengambilkan nasi sesuai porsiku tidak banyak juga tidak sedikit.

"Nak Kahfi kaya tahu porsinya Safa" ucap ummi lancar

"Ummi apa si!" aku memperingatkan Ummi, aku tahu ummi pasti keceplosan berbicara seperti itu

"Maafin Ummi ya" jawab ummiku

"Masa sih mi? Kayanya mas Kahfi memang kebetulan tau porsinya Safa" bukannya marah mba Afifah malah berbicara seperti itu sementara yang di bicarakan hanya diam dan tidak menampilkan ekspresi apapun.

"Mas Kahfi selalu tau selera wanita jadi mungkin mas Kahfi juga tau kalau gadis seperti Safa tidak suka makan banyak, iya kan mas?" ucap mba Afifah dengan senyumnya

"Mmm iya" jawab nya

Setelah tidak ada lagi percakapan kami berempat menikmati makanan khas sunda ini, benar kata mereka kalau nasi liwetnya memang sangat enak bumbu yang pas membuat nafsu makan tambah enak, mereka berdua terlihat romantis kadang sesekali pria itu menyuapkan makanan yang ada di piringnya kepada mba Afifah dan sebaliknya, mereka sangat cocok yang tampan dengan yang cantik pasangan yang sangat ideal dan sempurna, setelah makan kamipun langsung pulang kerumah masing-masing dan mba Afifah bilang kalau mungkin hari minggu suaminya libur dia akan main kerumahku, aku dan Ummi hanya mengangguk dan mengiyakan karna aku tahu mba Afifah pasti sepi di rumah sendiri kan kalau main kerumah kita dia akan banyak cerita lagi, aku dan Ummi tidak langsung pulang tapi kami malah menuju ke toko kue kata Ummi kasian bi Inah sama suaminya kalau belum makan jadi kita beli kue untuk mereka berdua.

Safa, afifah dan kahfi bahkan tidak tau akan menjadi seperti apa kehidupan mereka selanjutnya

Trimakasih buat yang udah vote dan comment 😊

My Second WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang