"Maafkan aku safa lagi-lagi aku menggoreskan luka itu di hati kamu"
M. Kahfi
Kahfi Pov
Entah aku juga kenapa bisa membentak Safa begitu kasarnya, dan aku juga kali ini membentak ummi Safa. Entahlah kenapa aku bisa melakukan semua itu yang jelas aku hanya kesal karna lagi-lagi Safa membuat keputusan seperti anak kecil. Bagaimana tidak seminggu sudah dia pergi begitu saja kerumah umminya tanpa izin, memang bi Ifah sudah memberitahuku tapi tetap saja aku tidak suka dengan sikapnya itu, dia bahkan sudah berjanji tidak akan bersikap seperti itu tapi kali ini dia mengingkarinya lagi.
Memang selama seminggu aku tidak menghubunginya bahkan untuk mengabarinya lewat smspun aku sangat malas karna jujur aku tidak suka dengan sikap kekanakannya itu.
Sesampainya di rumah, Afifah langsung marah padaku karna dia melihat aku memperlakukan Safa seperti itu. Bukan hanya membentak tapi dari rumah umminya aku terus menarik tangannya bahkan dia hampir jatuh karna ulahku itu, entah apa yang sekarang dia rasakan pasti dia sudah merasakan perih di pergelangan tangannya akibat ulahku itu.
Aku meninggalkan Safa dan Afifah di depan sementara aku sudah masuk ke dalam kamar. Aku muak dengan semua ini memang tidak seharus ya aku seperti itu pada Safa tapi pikiranku sekarang lagi kacau dan lebih parahnya aku terlalu mengikuti amarah dan emosiku ini.
Setelah pikiranku sedikit tenang aku memutuskan untuk turun kebawah meninggalkan Afifah yang ternyata sudah tidur di sampingku dari tadi aku tidak merasa karna memang aku juga tertidur.
Aku melihat bi Ifah ada di dapur aku menghampiri dia.
"Bi tolong ambilkan air es pake es batunya juga ya bi di baskom kecil" Pintaku
"Iya tuan"
"Oh iya bi sama handuk kecilnya juga"
"Baik tuan"
Tak lama bi Ifah kembali dia sudah membawa semua yang aku inginkan, tapi kalau aku yang ke kamar Safa dia pasti tidak mau membuka pintunya tapi aku juga kasian sama dia entah perasaanku kenapa bisa berubah seperti ini tadi aku sangat membencinya tapi sekarang aku sangat mengkhawatirkan tangannya itu.
"Bi, tolong obatin lukanya Safa ya" Ucapku dan langsung meninggalkan bi Ifah
Aku ingin menenangkan semua pikiranku karna memang belum sepenuhnya tenang aku memutuskan pergi dari rumah tapi sebelum itu aku sudah bilang pada Afifah kalau aku akan keluar sebentar dan mungkin dia juga mengerti dengan keadaanku sekarang ini.
Aku memarkirkan mobilku di salah satu Kafe yang ada di Jakarta dan aku memesan satu minuman saja karna aku juga tidak muts untuk makan. Aku hanya ingin menenangkan pikiranku saja, karna Kafe ini sangat terkenal dengan penyanyinya yang selalu membuat kita berubah muts suaranya yang mulus bikin adem hati.
Tepat dua jam sudah aku di sana sampai aku lupa kalau ini sudah lewat shalat dzuhur, akupun memutuskan pergi dari Kafe dan mencari Masjid di sekitar sini.
Setelah shalat aku memutuskan pergi kerumah ummi Safa karna bagaimanapun aku harus meminta maaf pada ummi. Mungkin sekarang aku juga sudah melukai hati ummi aku sangat berharap ummi mau memaafkan aku. Bahkan tadi aku tidak sengaja membentak ummi dengan sangat kasar.
****
Jam sudah menunjukan pukul 15 : 00 tapi aku tetap tidak pulang kerumah, aku malas bila harus berhadapan dengan Safa. Aku takut dia akan menjauhiku kali ini karna aku sudah melakukan semuanya pada dia.
Pantas kalau dia marah padaku pantas kalau dia membenciku karna aku juga mengingkari janjiku aku bilang tidak akan membuat istriku menangis dan benar dia tadi bilang itu kata dia aku sudah ingkar tapi tetap saja aku mengelak dengan berkata kalau istri yang aku maksud disana adalah hanya Afifah. Pasti itu juga sudah buat dia sedih aku memang tidak pantas untuk gadis baik seperti Safa.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Second Wife
SpiritualSafa Althaullah gadis polos yang tidak pernah memperdulikan hal sekitar kecuali ibunya. Cerita itu di mulai ketika Safa bertemu dengan Afifah dan Kahfi sepasang suami istri yang terlihat sangat harmonis tapi mereka memaksa Safa untuk melakukan renca...
