Bab 30 Rencana Fitting Baju

17.4K 563 46
                                        

Afifah pov

Aku sangat tidak suka dengan sikap suamiku barusan bisa-bisanya dia membentak Safa di depanku dan umminya. Apa dia tidak bisa menjaga perkataannya bahkan Safa itu calon istri keduanya aku tidak suka mas Kahfi membandingkanku dengan wanita itu. Aku mengerti mungkin dia melalukan hal seperti itu karna sedang bercanda dengan kedua temannya karna ku lihat mereka memang sedang berlarian seolah Safa tersangkanya yang harus di tangkap oleh kedua temannya, bahkan aku juga pernah melakukan hal seperti itu. Wajarkan kalau Safa dan teman-temannya asik bercanda karna mereka juga butuh hiburan apalagi ku lihat akhir-akhir ini Safa selalu pulang malam karna tugas kuliahnya, ummi Safa selalu mengabariku akan hal itu jadi aku yakin mereka ingin menghabiskan waktunya secara bersama apalagi Safa akan menikah itu akan mengurangi jam main dia dengan teman-temannya.

Sudah beberapa kali suamiku membentak Safa bahkan Safa pernah di buat menangis seharian karna ulah suamiku. Kenapa suamiku begitu membenci Safa padahal Safa gadis baik hanya saja dia memang sering ceroboh dan hal itukan bisa di ubah jadi suamiku tidak perlu terus terusan membencinya itu akan membuat Safa juga benci pada suamiku.

Aku bisa membimbingnya nanti aku akan memberitahu dia apa saja yang tidak di suka suamiku dan yang di suka suamiku.

Sesampainya aku di rumah aku langsung melaksanakan shalat isya karna kebetulan aku tidak belum sempat melaksanakannya. Tadi di perjalananpun suamiku tidak berhenti di masjid mungkin dia masih kesal dengan kejadian tadi aku bisa paham tapi aku juga harus kasih tahu dia kalau dia harus bisa juga menjaga perasaan gadis itu jangan sampai suamiku terus membuat Safa sakit hati.

Niat baikku yang ingin membicarakan tentang pernikahan jadi gagal karna ulah suamiku. Safa bahkan tadi meninggalkan kami berdua karna aku tahu pasti dia sakit hati oleh ucapan suamiku. Tadinya aku ingin sekali membahas konsep pernikahan dengan dia, memang aku sudah memberi tahu ibunya kalau pernikahannya akan dilaksanakan minggu depan tapi mengenai konsep aku sama sekali belum memikirkannya mangkanya aku ngotot mendatangi rumah dia ingin menanyakan dia mau seperti apa nanti di hari pernikahannya. Karna aku tahu ini yang pertama buat dia tentu dia ingin yang berkesan untuk hari bahagianya walaupun hanya sebagai istri kedua aku tidak merasakan sakit sedikitpun di hatiku. Tapi entah nanti minggu depan aku pasti merasa sedikit sakit karna bagaimanapun aku harus merelakan suamiku duduk di pelaminan untuk kedua kalinya bersama wanita yang berbeda tentunya, bukan aku lagi yang bersanding dengannya, tapi suamiku terus meyakinkankku bahwa cinta nya hanya untuk aku seorang tidak akan membaginya walaupun sedikit untuk gadis itu. Menurut dia pernikahan ini hanya sebatas untuk mendapankan keturunan setwlah apa yang aku mau suamiku akan menceraikan gadis itu maafkan kami Safa karna gara-gara kami kamu harus merasakan sakit hati setiap harinya. Aku minta maaf tapi sampai sekarang aku belum memberitahu gadis itu kalau pernikahan ini hanya demi keturunan karna aku takut dia akan menolaknya begitupun dengan ummi Safa aku tidak memberitahu hal itu juga padanya karna aku yakin ummi Safa juga tidak akan rela kalau aku dan suamiku hanya memainkan perasaan putrinya, aku minta maaf ya Allah ku mohon Engkau mengerti dengan rencanaku ini.

Apapun rencanaku selalu di turuti oleh suamiku tanpa dia menananyakan apa-apa atau bahkan menolaknya jadi aku pikir ini akan berhasil bukan aku tidak memperdulikan Safa, aku sangat peduli padanya tapi disatu sisi aku juga takut kalau nanti suamiku mencintai dia. Oleh karena itu aku mencegah itu semua dengan cara seperti itu aku yakin Safa juga akan memahamiku karna sampai sekarang dia mau terus mengerti dengan keadaanku.

Aku melihat mas Kahfi sedang menyelesaikan beberapa file pekerjaannya langsung saja ku hampiri dia yang sedang sibuk dengan laptopnya tersebut.

"Mas, mau aku bikinin kopi ga?" Tanyaku

Suamiku hanya menoleh ke arahku tanpa menjawab pertanyaanku.

"Mas?" tmTanyaku lagi

Tetap dia tidak bergeming hanya diam memandangi laptopnya.

My Second WifeCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang