Setelah hampir 15 menit akhirnya Caca selesai, ia menuruni tangga menuju ruang tamu dimana Darrel menunggunya. Disana Caca melihat Darrel sedang berkutat dengan kameranya sampai-sampai ia menyingsingkan lengannya untuk kameranya itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Caca melihat ketampanan Darrel yang tak pelak ia ingkari, ia betah jika harus melihat wajah manis lelaki itu berjam-jam, sambil mengamati laki-laki itu Caca tersenyum dan pipinya juga bersemu merah. Darrel mendongak dan mendapati Caca berdiri sekitar lima meter darinya "Ngapain lo? Buruan!" Darrel berdiri dan berjalan keluar rumah, lalu Caca menyusul setelahnya.
Darrel meletakkan kameranya di kursi belakang mobil bmw hitamnya. Caca masuk dan duduk disamping Darrel. Lelaki itu melajukan mobilnya kesuatu tempat "Rel nonton yuk? Ada film barunya jefri nichol gue mau liat nih, ya ya?"
"Males" jawab Darrel singkat. Caca menoleh dan menatap Darrel dengan wajah cemberut, Darrel yang merasa diperhatikan menoleh dan melihat wajah Caca yang cemberut ia langsung mengalihkan pandangannya lalu berdeham "Rel ayolah... gue jarang banget nonton loh Rel, serius!" Caca menggelayuti lengan Darrel.
"Nggak"
"Yah Rel....padahal gue udah nunggu banget film ini gara-gara novelnya bagus banget" Caca kembali pada posisi duduknya, menatap lurus kedepan dengan malas.
Mereka sampai disebuah rumah makan yang Caca tidak pernah tahu sebelumnya. Ketika keduanya memasuki rumah makan tersebut dan duduk disalah satu tempat yang kosong. Caca melihat kesekitar rumah makan tersebut dan didapatinya bahwa rumah makan ini sangat unik, bagaimana tidak mereka tidak duduk seperti saat dirumah makan biasanya, mereka duduk dilantai kayu dengan meja yang pendek dan juga terbuat dari kayu. Tembok rumah makan itu juga terbuat dari kayu, nuansanya terlihat sangat natural.
Seorang pelayan datang dan menanyai pesanan keduanya.
"Pecel lele sama es jeruk ya mbak?" pesan Darrel, seperti ia sudah hafal akan makanan apa saja yang disediakan rumah makan ini. "Iya, mbaknya mau makan apa?" tanya sang pelayan. Caca terlihat bingung "Waffle sama hot chocholate?" ucap Caca tanpa melihat daftar menu makanannya. Pelayan itu tertawa kecil "Mana ada mbak makanan kayak gitu disini".
Darrel menggelengkan kepalanya. "Gue harus makan apa dong Rel? Saranin dong yang lo suka atau yang paling enak gitu" ujar Caca.
"Pagi-pagi makan pecel enak"
"Oh ya? yaudah dek mbak aku pecel sama jeruk nipis anget"
"Iya, mohon ditunggu ya?"
Keduanya menunggu dalam diam, seperti biasa Darrel sibuk dengan ponselnya dan Caca mengamati rumah makan itu dalam diam. Tiba-tiba "Lo sering ya Rel kesini?"
"Nggak, baru pertama kali"
"Lah? Tapi kok lo bener pesen makanannya?"
"Semua orang juga bakal tahu, kalau menunya tinggal baca disana" Darrel menunjuk kearah papan menu yang terpajang dengan jelasnya disamping pintu masuk. Caca mengikuti arah tunjuk Darrel, "Shit! That was really embarrassing" umpat Caca pelan. Darrel menggelengkan kepalanya.
Pesanan merekapun datang. Caca meneliti lagi makanannya dan makanan Darrel "Lah Rel, kok makanan lo enak sih? Gue Cuma gini doang!"
"lo pesen pecel kan?"
"lah lo tadi kan juga pesen pecel"
"pecel lele, sedangkan lo, Cuma pecel"
"yah, emang beda?"
"iyalah"
"ini sayurnya banyak banget, bumbunya kacang lagi, gue alergi kacang rel" rengek Caca. "cerewet banget sih! Tinggal makan juga!" sinis Darrel. "punya gue lauknya cuman tempe sama tahu, nah lo ada ikan lelenya. Nggak adil ah!" protes Caca.
"yaudah sini tuker!" ucap Darrel dengan kesal. "jangan deh, gue pesen yang baru aja, gue mau ngasih makanan ini ke adik kecil itu aja" kata Caca sambil menunjuk seorang anak kecil yang sedang mengamen ke pengunjung rumah makan itu dengan dagunya. Darrel mengikuti arah dagu Caca "terserah".
"Mbak!" panggil Caca terhadap salah satu pelayan. "iya ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan tersebut. "saya pesen satu lagi ya? samain kayak mas ini tapi lauknya ayam ya?" kata Caca. "iya mbak, mohon tunggu sebentar".
Setelah makanan yang dipesannya sudah datang Caca mulai memakan makanannya sedangkan milik Darrel sudah hampir habis. Pengamen kecil tadi datang kearah mereka dan menyanyikan sebuah lagu yang Caca tahu sedang naik daun sekarang ini, anak kecil itu menyanyikan lagu Asal Kau Bahagia milik Armada.
Caca menghentikan aktifitas makannya dan mengamati anak kecil itu dari atas hingga ujung kakinya. Walaupun terlihat senang, anak laki-laki itu memakai baju berwarna kuning yang sudah lusuh dan ia tidak memakai alas kaki apapun. Kulitnya kusam, mungkin ia sudah mengamen dijalan-jalan tadi.
Setelah anak itu menyanyi Caca menyuruh anak itu makan pecelnya tadi "kamu kelas berapa dek?" tanya Caca lembut. "sepuluh" kata anak itu tanpa meninggalkan aktifitas makanannya.
"kamu kenapa ngamen?"
"hobi aja kak, untung juga bisa buat jajan"
"kenapa nggak minta orang tuamu aja dek?"
"bapak Cuma tukang becak kak, sedangkan ibu pembantu. Yah kasihan kalau Fauzan minta mereka, buat makan aja susah"
Anak itu memimun es jeruk milik Darrel yang sedari tadi tidak tersentuh oleh lelaki itu "makasih ya kak, aku harus balik ngamen biar dapet uang banyak" kata anak itu sambil tersenyum sangat lebar, melihat itu hati Caca terasa miris. Betapa beruntungnya dia bisa menikmati uang hasil jerih payah orangtuanya tanpa ia berpikir bagaimana cara mereka mendapatkannya, sedangkan Fauzan, mengamen hanya untuk mendapat uang saku sendiri karena kasihan melihat orangtuanya yang bekerja keras.
Caca mengeluarkan 2 lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada Fauzan "Dek, ini buat ibumu ya? biar bisa beli makan yang enak, oke?" Fauzan mendelik menatap Caca tidak percaya "serius kak ini buat aku?" Caca mengangguk yakin "makasih ya kak, aku bakal langsung pulang dan ngasihin ini ke ibuk. Sekali lagi makasih ya kak" Fauzan tersenyum lebar lalu ia berlari keluar rumah makan.
"pencitraan lo" ujar Darrel tiba-tiba. Caca menoleh "siapa pencitraan? Enak aja! Gue kasihan tahu liat anak yang kayak Fauzan, gue itu ngerasa beruntung banget jadi anak mama sama papa, jadi gue harus bersyukur" komentar Caca.
Darrel mengangguk-angguk mengerti, "abis ini mau kemana?" tanyanya. "entar kalau gue minta ke bioskop lo nya gak mau, ya udah pulang aja" jawab Caca setelahnya.
"mau"
Caca menoleh kaget "apa? ucapin sekali lagi cobak?" katanya. "iya gue mau" jelas Darrel sekali lagi. "seriusan nih?" mata Caca berbinar, kesenangan.
"tapi ada syaratnya"
Caca maju sedikit dari duduknya dan memandang Darrel serius "apa?".
"abis nonton film kesukaan lo, kita nonton film yang pengen gue tonton" uajrnya santai. "Deal!" ucap Caca semangat sambil mengulurkan tanganya untuk bersalaman dengan Darrel, namun lelaki itu hanya memandang tangan Caca dan berdiri dari duduknya lalu pergi ke kasir untuk membayar tagihannya. "sial!" Caca menggeleng.
Hayoo mereka mau nonton film genre apa nih.... Romance apa horror yaa? Bacalah kelanjutannya di next chapter 😜 akhirnya udah update 2 part, ini buat gantinya kemarin nggak up..... ini minggu-minggu full UH dan gilanya itu tugas gak pernah berhenti, jadi maaf nggak sempet up karena sibuk mikir tugas dan belajar UH hehe.....