"Suga,"
Yang punya nama menoleh, tangan masuk ke kantong mantel. Baru saja kunci pintu cafe dan jam sudah mendekati tengah malam.
Jimin diam sebentar, memperhatikan Suga yang balas menatap.
"Ah, nggak."
Terus mengalihkan pandangan, sedikit memerah sambil garuk ujung hidungnya gugup.
"Apa? Kenapa? Ayo bilang,"
Suga beralih mendekat. Jarak tiga puluh senti, Jimin berasa gugup mati. Manusia didepannya cuma menatap lurus, tanda penasaran.
Hela nafas jadi jawaban, Jimin meneyrah sama rasa gugupnya dia yang keterlaluan. Berakhir tangannya menyelip pelan dipinggang,
"Ayo pelukan, sekali."
Dan Suga sukses dipeluk, bungkam lama. Suga bingung sendiri, ekspresinya datar dan berubah canggung. Kedua tangannya mengambang remas pelan lengan baju Jimin dibagian bisep.
"Anjing, mau mati. Jantungku lompat,"
Gumam Jimin reflek membuat Suga terkekeh pelan. Setengah wajah tenggelam di bahu Jimin yang dirasa tidak terlalu kokoh seperti cowok kebanyakan, tetapi kurus dan hangat, apalagi ketika pelukan Jimin semakin erat.
Pelukan pertama didepan cafe tempat pertemuan awal, Jimin sadar dia nyaris berhasil dapat birunya, ketika tangan Suga balas memeluk lebih erat dibagian leher.
"Suga, mau mati."
"Ya, mati sana."
Jimin nyaris merana sama hatinya yang meledak bahagia, Suga beralih terkekeh sambil mengeratkan pelukan.
Wangi baru hari ini Suga suka, wangi Jimin yang dominan lemon; sedikit samar karena keringat dan ada bau bohem menthol yang menempel.
;
"Beneran pacar baru ya, hebat."
"Ya, hebat. Pacar brondong,"
Jimin reflek terkekeh, Suga jalan disampingnya dan tangan mereka berdua saling berkaitan jari. Perjalanan menuju lift gedung padahal, tapi entah pegangan itu semakin erat.
"Suga, tau?"
"Apa?"
"Bahagia, Jiminmu rasaya seneng. Hehe."
Ketawa kecil sekali lagi, Suga terdiam sambil mendecih. Lalu terkekeh pelan keduanya, setelah masuk lift. Suasana hening, gak ada yang memulai pembicaraan.
Jimin sedikit merunduk, cium sekilas punggung tangan yang dipegangnya. Lalu beralih tatap kearah lain, gak tatap Suga yang sedikit kaget soal ciuman ditangan terlalu tiba-tiba.
"Cium-cium," Suga berujar sakartis, Jimkn reflek garuk pipinya sedikit malu?
"Iya, maaf."
"Jimin, muka merah total."
"Kan dibilang tadi jantung mau lompat,"
"Nanti sampai di kamar jangan gila,"
"Iya, gak gila,"
Suga senyum sedikit sambil mengalihkan pandangan, dan lift sampai dilantai kamar Jimin. Pegangan tangan dilepas sedikit gak rela, tapi Jimin pergi keluar lift setelah tepuk kepalanya halus.
Pintu lift tertutup, dan Suga memerah yang kontras dengan kulit putih pucatnya. Begitu juga Jimin yang reflek menyender pada tembok orang, terkekeh menutup setengah wajah, saling merah bahagia.
Sialan, Jimin beneran senang.
;
Jimin Park
Bos
Biru gue dapetin.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Selamat pagi!♡
