Hari lanjut

7.5K 1.7K 308
                                        













Duduk rapi bermain handphone, posisi Jimin saat ini mungkin sama kaya yang nulis. Kaki dilipat diatas paha tanda duduk sopan.

Dan Suga memperhatikan. Entah karena dia memang gak ada handphone, disetiap scene rasanya handphone Suga gak terlalu berguna untuk muncul.

"Suga,"

Gak ada jawaban, Suga menatap jadi balasan. Jimin masih memandang handphone, padahal dia yang panggil.

"Suga."

"Apa, bangsat."

"Ais, kasarnya."

Jimin langsung pasang wajah mendramatisir. Rasanya kaget juga dapat panggilan kasar. Tapi Suga cuma mendecih, maunya jawab siapa suruh daritadi gak balas tatap.

Tapi gengsi. Kan sayangnya masih lima puluh lima persen.

"Mau americano, yang dingin."

"Buat sendiri,"

"Alah, penjaga cafe abal-abal."

Jimin meletakkan handphone diatas meja sambil berdecak dan mengerutkan dahi, wajah gak suka. Tapi Suga memutar bola mata malas, mengetuk jari diatas meja.

"Americano bayar, mocca keseringan aku kasih kamu gratis."

"Ck, kamu yang gak minta aku bayar."

"Ya sadar sendiri, pelanggan setan."

"Pacarmu, Suga."

"Pacarku bukan pelanggan setan,"

"Ya memang, pacarmu Jimin."

Suga menghela nafas jengah, Jimin senyum polos tanda menang dari perdebatan. Sialan sekali, Suga kalah telak. Sebenarnya juga malas balas dan malas banyak omong.

Jimin beralih ambil kotak rokoknya, ambil sebatang dan dijepit diujung bibir.

"Hari ini mau kencan malam?"

Suga geleng sekilas, "Capek, mau pulang."

"Aku antar ya,"

"Antar gak antar juga sama-sama ke halte disana."

"Bawa motor kok. Mau sombong dulu,"

Cengiran bodoh, Jimin tepuk tangan sekilas dan Suga menatap datar. "Motor baru? Sombongnya."

"Iya, fotografer yang kamu bilang terkenal baru punya motor."

Jimin banyak omong ya rasanya hari ini. Panjang juga, Suga memiringkan kepala. Jadi respon,

"Kamu terkenal tapi gak bisa tabung,"

"Makanya,"

Jimin memotong omongannya sekilas, mengambil sesuatu dari dalam tas selempang hitamnya sendiri.

Ada buku tabungan, beberapa kartu kredit didalamnya. Diseret didepan Suga. Dan Suga balas memperhatikan sambil sedikit mengernyit.

"Bawa, atur semuanya."

"Eh? Apa?"

"Bawa, Suga. Atur semua. Jangan diambil ya tapi, yang jujur."

"....kamu kira aku apa?"

"Pacarku."

Suga nyaris melongo, Jimin senyum jadi tanggapan dan beralih sruput tetesan terakhir mochanya.

Tapi akhirnya, buku tabungan Jimin diambil ditangan Suga. Kartu kredit dipilah rapi,

Cafe Suga hari ini suasananya tenang dan kalem. Salju turun santai, menghiasi malam hari yang dingin. Diluar suhu mungkin dibilang dingin. Tapi gak menutup kemungkinan orang-orang memilih untuk pergi keluar.

Jimin contohnya, beralih pegang tangan Suganya dan digenggam erat. Terkekeh karena Suga risih sekali, tapi genggaman tangan diatas meja cafe hari itu gak dilepas.

Malah semakin erat dengan Jimin yang asik memperhatikan Suga yang sibuk membaca beberapa saldo dan keterengan di buku tabungannya.

"Suga, ada info."

"Apa? Saldomu berkurang enam ratus setiap hariㅡ"

"Diem dulu,"

Suga memilih diam, beralih tatap Jimin yang mengembangkan senyumannya. Dan kata-kata Jimin selanjutnya berhasil buat Suga nyaris menepis tangan Jimin, dilatar belakangi tawa Jimin yang puas sekali.


"Rasa sayang ditambah jadi tujuh puluh lima persen. Suga kalah."




















ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Pacaran wes kok kasi buku tabungan. Strez iki.
Mingguku hari ini seperti babi.

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang