"Tiga puluh menit lagi. Tolong ya,"
Suara Jimin yang berbicara ditelepon memecah keheningan studio. Sibuk sekali, kelihatannya. Layar monitor menampilkan beberapa slide foto dan aplikasi edit. Lampu yang meremang tidak terlalu terang, lalu aroma segar dari parfum ruangan.
Ruang kerja Jimin yang terletak didekat forum kursus melukis. Terpisah dari apartemen, hanya jarak dua ratus meter dari cafe Suga. Bisa ditempuh jalan kaki.
Galeri beda lagi, tapi sekali masuk mungkin suasana orang seni reflek terasa karena Jimin menata ruang kerjanya begitu apik. Tidak berantakan, hanya beberapa lembaran foto yang tercecer diatas meja.
Didepan Suga, yang duduk disebelah kursi besar dengan senderan nyaman milik Jimin.
Oh, dia mampir karena cafenya tutup lebih awal dan sekedar membawakan Jimin Americano hangat. Berdedikasi sebagai pacar meskipun presentase rasa sayang masih jauh dari setengah persen penuh.
"Sibuk ya," celetuk Suga sambil menggigit sedotan Americano dingin. Jimin tersenyum sedikit jadi jawaban,
"Biasa, akhir tahun."
"Selalu begini? Galak sekali sama percetakan,"
Suga memutar kursinya, menghadap Jimin yang masih berdiri didepan fax . "Gak selalu, tergantung mereka."
Jawaban Jimin jelas sekali, Suga angguk sekilas sambil mengetuk jari diatas meja. "Jimin,"
"Kenapa biru,"
"Capek?"
Wah, pertanyaannya rileks sekali. Jimin lantas terkekeh sambil menghela nafasnya, menjauh dari mesin fax dan menggeser kursi menghadap Suganya.
"Menurutmu?"
Gak ada jawaban, tangan Suga sekedar naik sentil halus kantong menghitam dibawah mata Jimin yang kentara.
"Panda,"
"Kamu biru berarti,"
Mengedikkan bahu, Suga mendecih, "Aku manusia, Jimin."
"Bukan,"
"Lalu?"
"Malaikat biru jantung hati Park Jimin."
Tepukan kasar dipundak dengan wajah Suga berubah aneh karena risih, Jimin reflek tertawa kecil. Bodoh sekali ucapan ngalus sekaligus geli sendiri.
"Jangan gombal. Selesaiin kerjaanmu,"
Jimin bergumam sambil melipat tangannya di dada dan senderan di kursi besarnya, "Tinggal tunggu catatan box album dari fax, baru kita pulang. Oke?"
Suga angguk sekilas, suasana hening kembali. Masih saling berhadapan, entah dorongan apa. Jimin mendekat, memegang dagu birunya dan Suga memilih diam, menutup mata sebelum bibir mereka terpaut halus.
Sekedar ciuman menempel yang dalam, bibir Suga yang tipis terasa manis, Jimin berimajinasi mungkin.
Hei, bahkan ciuman begini tanpa ada maksud apapun. Hanya menghabiskan waktu. Dan tangan Suga bahkan tidak bergerak dari pangkuannya, cukup meremat celana dibagian pahanya sendiri ketika Jimin memilih sedikit menggerakkan bibirnya.
Gerakan menghisap yang halus.
Bisa dihitung ini ciuman ketiga kali? Nyaris tiga bulan ada status kekasih hati.
Dan ciuman itu lepas santai sekali ketika mesin fax berbunyi tanda pesan masuk. Jimin menjauh, Suga menjauh lebih dulu. Mengalihkan pandangan, tidak ada obrolan lagi.
Perhatian Jimin kembali pada lembaran kertas yang baru saja dikirim dari fax.
Sedikit, telinga Suga memerah diujungnya. Begitupun Jimin yang berubah canggung sambil menggaruk hidungnya tanda gugup.
Gak mau pulang rasanya, sial.
;
Akhir tahun memang tagihan untuk album foto meningkat. Apalagi Jimin kerja sendiri sebagai freelancer, pengusaha fotografi yang pamornya naik turun.
"Jimin, ruanganmu aroma apa tadi?"
Keduanya jalan bersisian, memecah jalanan malam yang tertutup salju tebal. Jimin menoleh, memperhatikan Suga yang memilih tatap kebawah.
Kearah sepatu yang usir sisa-sisa salju,
"Entah, Sarah yang pilih."
Suga ber-oh sekilas, "Sarah terus," celetuk iseng sambil mengalihkan pandangan. Jimin sibuk menghidupkan rokok diujung bibir dengan pematik,
"Kenapa sama Sarah?"
"Jimin mau tau informasi?"
Ditanya balik, Jimin menghembuskan asap rokoknya santai,
"Info apa? Presentase rasa sayangnya turun? Jangan, nanti sakit hati."
"Bukan itu," Suga menyenggol sekilas pundak Jimin yang lantas berjalan tidak lurus arah.
"Apa dong biru?"
"Sarah aku kira saingan, awalnya."
Jimin loading sejenak lantas tertawa keras sekali, Suga mendengus sambil melanjutkan jalan lebih cepat. Malu, tidak suka jadi pusat perhatian. Tapi kulit pucat dan cat rambut mencolok menyita pandangan orang,
Kontras, manusia dengan rambut hitam dan biru berjalan beriringan. Apalagi ketika Jimin mendekat merangkul Suganya mencoba senatural mungkin,
Cium halus dipucuk kepala, Suga risih tapi tidak protes dan pilih jalan susah sambil dirangkul. Heran.
"Wah, Yoongi?"
Kemudian suara lain menginterupsi, keduanya reflek berhenti berjalan dan menoleh kebelakang. Suga masih diam tapi mata nyaris mendelik,
Postur tubuh orang yang terlalu dikenal dan dihafal, berdiri sambil menenteng tas gitar dengan penampilan berantakan.
Siapa?
"Ternyata bener lo, hai? Lama gak ketemu,"
Jimin mengernyit dan nyaris rendah diri karena kalah soal tinggi badan. Sial.
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Ini siapa ya. Gak kebayang namanya apa. Hal yang berkaitan sama Suga terlalu misterius. Halah.
Hai :3 long time no see :3 kangen lo ;3
