Kosong

7.3K 1.6K 199
                                        















Belum sayang, dua kata yang terngiang di otak dan Jimin rasanya hampa seketika.

Bahkan tangan yang memegang mouse komputer terdiam gak tau bergerak untuk apa. Pandangan gak fokus kearah monitor, rokok berkali-kali dihisap rakus untuk asap yang lebih banyak.

Gak sehat, tapi Jimin rasanya kosong.

Handphone tergeletak disamping monitor, niat lirik pun enggak. Beralih meletakkan kepala dimeja.

Omongan Suga dan perlakuan itu beda, perkataan belum sayang dipikirkan Jimin segitunya.

Lagipula, siapa juga yang mau tanggung jawab tentang dia salah kaprah soal perasaan birunya?

"Sadar diri, Jimin,"

Mengusap wajah sendiri dan beralih acak rambut hitam legamnya kesal, hela nafas panjang sekali. Setan.











;

Galau, bukan definisi tepat.

Entah, tapi tadi Suga berkali-kali buat salah. Mulai dari gula sama dengan garam, atau kopi bubuk sama dengan coklat.

Memejamkan mata sekilas, hela nafasnya panjang. Konsentrasi pecah, lirik handphone dekat meja kasir yang gak ada menampilkan notifikasi apapun.

Jam segini biasanya Jimin sudah duduk rapi dipojok tempat biasa, menatap jendela dan kamer diatas meja. Kebiasaan yang sedikit demi sedikit Suga hafal, bahkan setelah jadi pacar.

Mocha hangat jadi, Suga diam perhatian kearah mug putih yang menganggur diatas nampan.

Jimin belum tentu datang, daritadi sama sekali gak ada kontak. Bukan galau, defisini gak tepat. Suga bingung mau ngapain, rasanya linglung.


Bingung dia. Biru lagi bingung. Mau bantu?


Tapi pikirannya lantas fokus, begitu gemerincing pintu cafe terbuka tanda orang datang.

Jimin disana, dengan mantel hitam panjang yang sedikit kotor karena salju. Bahkan jalan santai sekali kearah Suganya yang balik memperhatikan.

Ya, tadi keduanya sama-sama kosong rasanya.

"Hai? Maaf gak ada kabar, tadi di studioㅡ"

Rasanya omongan Jimin gak terdengar apapun karena Suga langsung melangkah, mendekati Jiminnya. Berdiri didepan Jimin yang masih sibuk bilang alasan,

"ㅡga. Suga?"

"?" Suga gak menjawab, beralih tatap tanda tanya dan Jimin pasang cengiran,

"Maaf? sekali lagi,"

"Buat apa?"

"Telat datang, sama gak ada kabar. Lalu, karena malas ambil handphone, maunya ketemu langsung."

Jimin sedikit mengedikkan bahu, rambut keliatan berantakan karena diremas stres. Udara terlalu dingin, dan Suga didepannya jadi memerah kontras dibagian hidung dan pipi.

Lucunya.

"Buat apa minta maaf? Aku belum sayang, Jimin."

Cafe sepi, tenang. Gak ada yang penasaran soal begini.

Jimin angguk sekilas, "Iya, tau. Kamu belum sayang,"

"Jimin gimana?"

Suga beralih menyender dipinggiran meja kasir, tangan masuk kedalam kantong tahan diri gak peluk manusia didepannya, niat begitu.

Jimin terkekeh sekilas, menyibak rambut hitamnya untuk hilang penat.

"Gak tau. Daritadi kosong karena kamu bilang belum sayang, tau artinya apa?"

"Kosong?"

"Iya, blank. Editan foto gak ada yang jadi."

Birunya hebat, Jimin bilang begini dalam hati. 

Suga sedikit menatap kearah lain, "Gak tau artinya apa. Ngapain tanya aku,"

Dan Jimin mendekat, loading belum lewat beberapa detik, tangan Jimin mengarahkan dagu Suganya untuk saling tatap.

Ciuman tanpa omongan apapun, Jimin berani main lumat, bukan ciuman sekedar saat pertama kali. Suga diam awalnya, tangan cuma meremat pinggiran meja kasir yang dipegang,

Ikut tutup matanya, menikmati ciuman.

Kubilang cafe sepi, gak ada siapapun. Cuma waitress yang sekedar lewat berhasil sembunyi cari tempat untuk gak ganggu.







Belum sayang, nanti aja sayangnya. Jimin hari ini cium karena ada rasa kangen soal kata belum sayang.
















ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
🎼Ernest. K ㅡ Trouble With Us

Lele goreng tambah nasi tambah sambel tambah daun kemangi tambah kol tambah es teh.

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang