Cinta

8.4K 1.6K 413
                                        















Hari ini, kursi pojokan kosong lagi. Mug putih terbengkalai diatas nampan. Suasana cafe bahkan sepi, malam yang sibuk. Orang memilih cepat kembali kerumah dihari yang dingin,

Dan, Suga. Menahan nafas yang tersendat begitu Jimin menurunkan ciuman menuju rahang. Rambut biru yang basah karena keringat, badan menempel telak dibalik pintu.

Kursi pojok bukan kosong tanpa alasan, tapi disini. Ruang kerja Suga, harum kopi yang khas.

"Jiminㅡ"

Gumaman rendah, Jimin berdegub. Sebelum kembali naik, melumat bibir ranum tersayang. Menyelipkan lidah sedikit ragu, tapi tangan Suga menekan tengkuk, memperdalam ciuman.

Rambut hitam legam diremat halus, tangan Jimin merambat turun, mengelus pinggang yang dirasa ramping. Jimin haus birunya.

Berawal dari kata kangen?

Oh, Suga terkesiap kaget begitu tangan dingin menelusup masuk kedalam kemeja. Tangan memegang pergelangan Jimin kuat, takut lebih.

Jimin berhenti, tersenyum diantara ciuman. Tangan beralih mengelus perut Suganya, ditepuk pelan. Afeksi lembut yang menggelitik, biru berhasil terlena.

Ciuman dilepas santai, Suga masih memejamkan mata mengatur nafas. Belum menatap Jimin yang memperhatikan,

"Cantik, biru."

Remasan halus dibagian bahu, respon Suga tanda malu. Jimin tersenyum bodoh, mencium ujung hidung pucatnya.

Jimin menahan, bukan pemaksa. Tipikal pemuda yang menyukai aksi responsif, dan genggaman tangan dipergelangan melonggar.

Hoi, tangan Jimin bertahan diperut putih halusnya.

"Jimin, tangan."

"Gak mau, perutmu halus. Banyak makan?"

"Lembut sekali bilang gendut,"

Jimin beralih terkekeh, tangan Suga betah melingkar dileher. Mengelus tengkuknya, sedikit digaruk. Jimin mendekat lagi, Suga sedikit memiringkan kepala.

Bibir keduanya bertaut, lagi. Jimin melumat gemas, gigitan halus dibagian bibir bawah. Suga mengerang tidak suka, dan tawa Jimin terdengar manis sekali.






















;

"Suga,"

"Apa?"

Jimin menggoyang sekilas gelas Americano dinginnya. Suga yang awalnya meletakkan piring kue, berakih memeluk nampannya sendiri sambil menatap.

"Americano, kan?"

"Iya, kenapa?"

"Manis sekali, gulanya berapa sendok?"

"Tanda terima kasih soal ciuman."

Wah, rahang Jimin rasanya mau lepas.  Menganga karena Suga beralih terkekeh sambil melenggang pergi membawa nampan. Hei, Jimin kemari membawa berita kangen.

Senjata makan tuan, ciuman Jimin ternyata berefek luar biasa. Biru senang, duduk didepan Jimin setelah menaruh nampan.

Jimin mata memicing, "Senyummu jangan diumbar."

"Kamu sering,"

"Beda konteks, Biru."

"Nanti ciuman lagi, Jimin."


Jimin mengedikkan bahu, mengambil batang rokok dan menyelipkan dibibir. Suga menumpu dagu disebelah tangan memperhatikan, mengetuk jari diatas meja.


"Suka ciuman?" Ini Suga yang tanya, Jimin awalnya mengutak-atik kamera beralih tatap,

"Tergantung, kenapa?"

"Pintar, beda dari yang lain."

Jimin manggut sekilas, "Sering ciuman?"

"Mau tau?"

"Iya, biru"

Suga tersenyum tipis, "Menurutmu?"

"Pasti sering,"

Jimin jawabannya mantap, Suga mengernyit dan Jimin membidik lensa. Memotret sekali take, melihat hasilnya lalu tersenyum manis sekali.

"Suga, mau tahu apa yang buat jatuh cinta?"

Jawaban mengernyit, Suga aneh sendiri mendengar kata yang geli. Jimin terkekeh, membalik kameranya dan menampilkan hasil bidikan.

"Liat, ini cinta pertamaku."

"Ngalus. Jangan gombal dicafeku."



Suga menatap langsung pada lensa, merengut dengan tatapan datar. Background cafe blur, biru dirambutnya seolah meredup karena cahaya malam.

Iya, Jimin jatuh cinta segini simple.























ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Selamat malam lagi para manisku,
Nongki dengan sinyal terbatas lumayan menyiksa hati ya :)
Lagi kangen biru dan Jimin. Membahas cinta pertama aja dulu yuk, ihik.
((((Sebenerny up no inti)))))

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang