Hangat

7.9K 1.7K 317
                                        


















Panda, tepat untuk Park Jimin.

Kantung mata hitam, menyipit tatap layar komputer didepan mata. Beberapa file foto model yang terpampang rapi. Indah sih, seni sekali.

Tapi rasanya memutar, kepala berat. Deadline nanti malam, ini bahkan sore menjelang malam. Sialan, vitamin entah dimana.

Gak ada Suga. Ini di studio. Bukan dirumah, berpikir untuk pulang pun rasanya jauh.

Berakhir ambil handphone, butuh energi total.

Suga mau bertemu gak, kira-kira?





"Halo, Suga,"

Suara Jimin berubah serak dan dalam, pengaruh lelah. Apalagi rokok yang habis lebih dari setengahnya kotak, nyaris studio isinya asap semua.

Yang diseberang sana gak tau pikirannya apa,

"Kenapa, Jimin? "

"Di cafe?"

"Ya,"

"Sini,"

"Kemana?"

"Studio,"

"Gak tau tempatmu,"

"Lokasinya kukirim,"

"Sekarang?"

"Ya,"

Lalu Jimin bungkam, hembusan asap rokok tipis menemani. Suasana sambungan telepon hening, gak ada yang memulai pembicaraan.

Niatnya ngomong kangen, tapi beralih Jimin lantas batuk, 'mampus,'

"Sakit?"

"Nggak, batuk tok."

Lalu sambungan telepon mati, Jimin reflek ngelus dahinya sendiri.

Mampus kena marah, mampus dikacangin. Mampus sakit apalagi ketahuan bau rokok. Mampus deadline besok gak kelar.

Mampus.











;

Locationnya tetap dikirim, pada akhirnya. Suga memperhatikan chat Jimin yang berakhir ditanda share location. Hela nafas sedikit, sebenarnya malas.

Kenapa? Untuk apa orang sakit karena kebodohan sendiri. Begini-begini Suga gak suka merasa khawatir.

Tapi ya sama aja, ambil beberapa potong roti di etalase, setelah pakai mantel coklatnya, dan ambil tas hitam. Meletakkan kunci diatas meja kasir, sebelum pamit titip cafe pada karyawan.

Bodo, susah udah begini.









;

Ketukan pintu dua kali, Jimin bergumam jadi jawaban. Lantas pintu dibuka, gak berpikiran itu Suga. Birunya yang berdiri disamping kursi besarnya tanpa mengucapkan apapun.

Mata masih fokus, suara klik-klik mouse yang memecah keheningan.

Jimin konsentrasi, kacangnya banyak.

"Jimin,"

Panggilan singkat, Jimin lantas menoleh, mendelik berlebihan dan nyaris kursinya mundur kebelakang karena kaget,

"Astaga. Malaikat."

"Apa malaikat?"

"Malaikat rambut biru. Wahㅡ"

"Mau cabut nyawamu besok,"

"Oh, dengan senang hati sayang."

Gila.

Jimin memasang wajah dramatis, dengan muka penuh kantong mata tebal, Suga memperhatikan sedikit prihatin. Kasihan tapi kesal, ini peperangan batin Min Suga.

Rambut biru halusnya disibak sedikit, menghilangkan penat. Mengambil kursi, duduk dengan rapi dan menghadap kursi Jimin kearahnya.

"Istirahat sebentar, ayo."

Jimin berdecak, "Gak selesai kerjaanku."

"Dua puluh menit, tidur."

Jimin berpikir sejenak, menatap Suga yang kembali tatap dengan wajah datar. Manis sekali, memang jatuh cinta.

"Suga, kamu ringan kan?"

"Kenapa?"

Jimin tersenyum tipis, menepuk pahanya pelan. "Sini. Dua puluh menit."

"Gak mau,"

"Jimin sakit, Suga."

Helaan nafas jadi jawaban, Suga terdiam sebentar. Berpikir cukup lama, melirik kantong plastik dengan obat yang baru dibelinya tadi, lalu kembali lihat kearah Jimin.

Jimin perlahan sedikit mendekatkan kursinya, menarik tangan Suga, antara berani dan nekat.

Suga mengalah, berdiri melepas mantel coklatnya, dan mendudukkan diri diatas paha Jimin,

Wajah Jimin menghadap dadanya. Posisi koala yang masih sopan. Tapi tetap saja dilihat dari belakang, badan mereka berdua terhalang punggung kursi yang besar.

Tapi kedua kaki Suga menjuntai kebawah;dan jarak yang lebar. Ini pemandangan kotor, sebenarnya.


"Dua puluh menit, Jimin."

"Ya," Jimin berujar singkat,

"Aku peluk sekarang, bisa?" Jimin tanya sekali, Suga mengangguk jadi jawaban.

Canggung, sedikit gugup tangannya melingkar dipinggang Suganya. Badan saling bersentuhan erat.

Tenang, Jimin bukan ereksi. Hanya merasakan paha kurus Suga yang menjepit pinggang, tangan Suga yang merambat memeluk kepalanya. Jimin memendam wajah dibahu birunya jadi rileks,

Suga dingin karena cuaca, hembusan nafas keduanya hangat. Terasa panas dimasing-masing tengkuk.

"Tidur, bangun nanti minum obat. Lanjut kerja,"

"Banyak, fotonya banyak sekali,"

"Berapa lagi?"

"Sekitar dua puluh foto,"

Jimin berujar nyaris lirih, kepala rasanya berdenyut, berat. Jari Suga mengelus kepalanya halus. Benar Suga ringan, terasa dipeluk boneka versi kurang ampas.

"Tidur, jangan ngomong lagi."

Suasana hening, jari Jimin awalnya bermain dipinggang Suga mulai perlahan berhenti, pelukan dipinggang melonggar. Jimin berhasil tidur, lelap dalam waktu lima menit.

Bahu Suga sedikit berat, tengkuknya geli karena hembusan nafas. Hidungnya gatal karena rambut hitam legam Jimin.

Pelipis kiri dicium halus, Jimin jackpot saat tidur.

"Pas begini mulai sayangnya muncul, Jimin sialan."





















ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Aku mau jadi Jimin. Sumpah. Dipeluk sama Suga yang u pangku, hadu. :(
((Hangatnya Suga terasa dibayangan))
#teyoshibelumtega
#teyoshigabisabuatkonflik
#teyoshisayangcharm

Teyoshi rencana ubah uname wp, jadi issakaja. Gimana ya? :')

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang