Ingatkan.

8.7K 1.6K 584
                                        


















Dan disini; Jimin berakhir berdiri tegap di depan pintu cafe yang berembun karena hawa dingin menusuk sehabis hujan.

Turtle neck coklat, mantel sepanjang paha yang dibiarkan terbuka. Rambut coklat terbelah dua, helaan nafas pendek lelah.

Ya berubah warna, sesuai perubahan suasana hati. Dibiarkan sedikit memanjang melewati tujuh hari.

Tujuh hari itu lama, ratusan jam tidak bertemu. Ribuan menit lewat tidak sekedar menyentuh jari, Jimin nyaris merana.

Sudah sih, sebenarnya.

Gemerincing pintu cafe dibuka membuat tatapannya fokus kembali, Jimin sedikit mendekat sebelum birunya balik badan,

Sedikit mundur terkejut, nyatanya Jimin tersenyum. Suga mengalihkan pandangan dan memejamkan mata sebelum Jimin menarik tangannya sekedar digenggam.



"Bicara sebentar, lima menit gak lewat. Ya?"

"Buat apa?"

"Ayo cari tempat teduh,"

"Jimin,"



Jimin menjulurkan lidah sekilas, sebelum akhirnya Suga mengalah. Mengikuti langkah Jimin, entah tujuan apa.























;

"Pulang?"

Sama sekali gak terlintas, tujuan akhir mereka jalan berdua dengan genggam tangan kikuk berakhir di depan pintu apartemen Suga yang terkunci rapat.

Jimin angguk sekilas, "Iya, sana masuk."

"Jimin?"

"Ya, Suga?"


Memperhatikan, dalam sekali. Jimin menatap biasa, terkesan ramah dan polos. Terlihat hati terlalu ringan, senyumnya lugas dengan gerak-gerik santai yang membunuh suasana tegang.

Jimin dewasa, Suga suka.

"Kenapa?"

Jemari dingin karena hawa, menangkup pipi pucat halus sekali. Mengelus dengan ibu jari lembut, Jimin telaten. Tanya dengan nada rendah lebih mirip pertanyaan konotasi.


Antara kenapa diam, dan kenapa selesai?


Suasana hening, Suga menggenggam pergelangan Jimin yang masih menangkup pipi. Otaknya panas, wajah mengerut berpikir. Hembusan nafas hangat Jimin nyaris terasa, saking dekat. Dan terlalu berdua, koridor apartemen milik sendiri.



"Aku disini. Bilang, kenapa selesai? Aku tanya sekali."


Berujar kedua kali, Suga menatap. Sialan, mata Jimin masih sama. Mendamba terlihat sayang, bodoh dia ragu. Menyesal diri, tapi terlambat.


Jimin menghela nafas, "Aku Jimin. bukan orang bisa baca otak. Bilang sekarang. Alasan dulu, dan aku bisa lepas kamu."



Suga terdiam, menarik nafas dalam dan membiarkan tangan Jimin merambat mengelus rambut belakangnya. Nyaman sekali, hembusan nafas keduanya hangat.

Masih saja tutup mulut, Jimin mengalah. Niat melepas tangan dari pipi pucat kekasih status mantan, tapi pergelangannya dipegang halus.

"Takut, negatif duluan itu susah Jimin."

Suara rendah Suga lirih sekali, Jimin memperhatikan, tangan masih bertahan di pipi pucat, mengelus sedikit salurkan hangat. Suga menunduk, gak menatap.

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang