Jalan malam

9.5K 2K 226
                                        
















"Hari ini gak ke cafe?"

Gelengan kepala Suga jadi jawaban. Tangannya masuk kedalam kantong coat hijau lumutnya. Lanjutin langkahnya santai.

Jimin sedikit menyamakan langkah mereka, "Kenapa?"

"Lagi bosan, gak ada hiburan."

"Hiburan apanya?"

Suga melirik Jimin sekilas, tiup poni birunya keatas santai. "Mau tau aja,"

Jimin mendecih, "Ya gak aku tanya lagi,"

Lalu suasana hening. Mereka lanjutin langkah entah kemana, ini malam minggu. Jadi suasana jalanan cukup ramai.

Banyak pasangan, pastinya.


"Yang tadi makasih," celetuk Suga diantara keheningan. Jimin reflek menoleh kan, mereka saling tatap sebentar. Dan diputus kontaknya dari Suga duluan.

Jimin masih menatap, tangannya terangkat ketuk sekilas pelipis Suga dan manisnya itu sedikit mengernyit terganggu.

"Makasihnya terserah. Tapi baju putihnya dirawat baik-baik,"

"Memang kenapa?"

"Mahal, gaji pertama fotografer ratusan ribu habis sekali pakai."

Suga reflek terkekeh pelan, dan bangsat sekali Jimin nyaris terpesona lagi. Sialan, dari kemarinan berapa ekspresi Suga yang berhasil dia rekam baik-baik diotaknya.

"Oke, terima kasih juga bajunya."

"Ya, sama-sama. Biru."

"Suga, bukan biru." Pemilik nama disini sedikit menyenggol bahu pemuda disamping sengaja.

Jimin senyum tipis mengedikkan bahunya, "Suga, tapi seni."

Pengulangan kata, serius tapi terdengar bercanda.







;

"Jagung bakar, pedas manis dua."

Suga memperhatikan Jimin yang sibuk memesan makanan mereka untuk jalan malam berdua yang pertama kali.

Ais, jalan malam berdua.


"Jimin traktir,"

"Gak, bayar sendiri," Jimin gelengin kepalanya sambil masukin dompet kedalam kantong belakang.

Suga pasang ekspresi datar yang sedikit merengut, bibir bawah maju sedikit dan lipat tangan didada.

Memperhatikan gerak-gerik Jimin dalam diam, dan jelaslah. Yang ditatap gugup total.

"Gak usah liatin gitu, aku tau aku ganteng,"

"Iya, ganteng."

Senjata makan tuan. Jimin reflek ketawa kecil, Suga bilang dia ganteng itu gamblang sekali. Lugas dan tanpa basa-basi.

"Ya, terima kasih."

"Sama-sama, ganteng."

"Jimin, panggil Jimin."

"Sama-sama, Jimin?"

Rambut biru yang ikut bergerak sedikit karena angin, dan jagung bakar diantar sama mbak pedagang. Masing-masing pegang jagung bakar mereka,

"Pernah makan ini kan?"

"Iya, sering kok."

"Ngapain makannya susah?"

Daritadi Jimin memperhatikan ternyata. Suga reflek bungkam, jagung bakar didepan wajah mengambang seolah batal mau dimakan. Iya, jujurnya Suga kurang begitu tau cara makan beginian.

"Gigit jagungnya. Jangan dijilatin,"

"Gak ada jilatin,"

Suga mengernyit, gak terima ceritanya. Mau protes tapi Jimin terlanjur benerin tangannya untuk pegang batang jagung yang baik dan benar.

"Nah, udah makan."

Terus Suga gigit jagung bakarnya dia, pelan dan Jimin memperhatikan. Kunyahan pertama, Suga sedikit mengernyit karena rasa pedas bumbunya.

"Enak kan?"

Anggukkan jadi jawaban, Jimin reflek senyum puas dan tangannya naik hapus bekas bumbu diujung bibir Suga.

Picisan sekali, sayangnya Suga tidak bereaksi apapun dan melanjutkan makan jagungnya santai.








Ah, malam minggu bersama jagung bakar.







Jimin senang, Suga sebenarnya lebih senang.














ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Mie kober kober kober kober

Charm ㅡpjm x mygCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang