[Tidak semua hati harus diperjuangkan, jika semua diperjuangkan, akan rumit menyimpulkannya]
"Ada waktu yang gak kamu sadari nanti, dimana kamu mulai peduli dan harapin dia. Tapi dia telah melepasmu"
***
Gilang dan Mora baru saja keluar kelas, karena bel pulang telah berbunyi. Kini parkiran telah dipadati oleh sekumpulan manusia berseragam putih abu abu. Mereka memutuskan untuk duduk sebentar di bangku panjang yang tidak jauh dari kelasnya, bangku yang tidak dilalui oleh lalu lalang siswa.
"Ra nanti malam temenin aku yuk!", pinta Gilang.
"Kemana Lang?", tanya Mora menoleh.
"Ke tempat biasa, nanti malam anak-anak ngajakin balapan lagi", jawab Gilang.
"Kolis ikut?", tanya Mora lagi.
"Gak, dia gak pernah balapan lagi sekarang. Takut kalah kali", cibirnya.
"Bukannya kamu yang gak pernah menang Lang", ejek Mora tersenyum.
"Lagi beruntung aja dia Ra, bukan karena lebih jago dari aku. Liat aja nanti", ucapnya penuh percaya diri.
"Oh iya, okey. Nanti malam jemput aku ya, soalnya mama gak pernah percaya kalo aku pergi sendiri. Katanya ini lah, itu lah. Emang siapa yang berani gangguin aku, aku tonjok langsung hidungnya", ucapnya sambil memperlihatkan kepalan tangannya yang kecil. Gilang menertawainya, sambil memegang tangan Mora yang dikepal itu. "Kok ketawa sih, gak lucu Lang", lanjutnya.
"Kamu itu lucu, kepalan tangan segede ini. Mana ada rasa ditonjok, yang ada malah kamu ditonjok balik", ejek Gilang. Dia menertawai Mora lagi.
"Mau dicoba, uda siap nih mendarat di hidungmu", jawab Mora tersenyum.
"Gak, Gak. Aku nyerah deh. Tenang aja, aku gak kan ngebiarin siapapun nyentuh kamu. Kalo sampai ada yang berani, ku kirim dia ke rumah sakit", ujar Gilang.
Dia memang keras, tapi dihadapan Mora, dia jauh lebih lembut. Cinta itu kadang mengubah air mata jadi tawa, keras jadi lembut dan juga mengubah jahat jadi baik. Itulah yang dirasakan Gilang tiap kali bersama Mora.
"Makasih Lang, kamu uda mencintaiku dengan sepenuh hati sekalipun aku belum bisa membalas banyak. Percaya gak, sekeras apapun batu, dia bisa terkikis juga jika terkena air terus menerus. Sama kayak hati Lang, sekeras apapun itu, akan luluh juga dengan cinta yang tulus", jelas Mora.
Gilang hanya terdiam menatap Mora, dia cukup memahami apa yang dimaksud oleh Mora. Mora ingin Gilang tetap mencintainya sampai waktu dimana hatinya terbuka lebar untuk Gilang.
"Ada waktu yang gak kamu sadari nanti, dimana kamu mulai peduli dan harapin dia. Tapi dia telah melepasmu", ucap Gilang dalam hati saraya menatap hangat wajah Mora.
Hati punya batas untuk terus menunggu, karena tanpa disadari. Perlahan hati akan melepas apa yang tak mampu menerima keberadaannya, hati takkan pernah membiarkan dirinya sendiri terluka lebih lama.
"Lang...Gilang!", panggil Mora. Gilang terlihat melamun.
"Iya Ra, kenapa?", tanya Gilang.
"Yaelah Lang, Lang. Lamunin apa? Lamunin jorok ya?", ejek Mora sambil menunjuk wajah Gilang.
"Apaan sih, otak aku bersih ya. Gini-gini sholat lima waktu gak pernah bolong", jawab Gilang.
"Terus, lamunin apa ayok?", tanya Mora penasaran.
"Lamunin kamu", jawab Gilang sambil mengacak-acak rambut Mora. Mora hanya tersenyum, terlihat salah tingkah ketika dua mata itu saling menatap.
"Udah ah, pulang yuk. Uda sepi juga", ucap Mora bangkit.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
TeenfikceHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
