Cinta Tak Punya Syarat

255 28 11
                                        

Mencintai, tak pernah melihat apapun dari pasangan. Karena cinta tak pernah punya syarat

"Kamu tahu, sejak awal aku menyukaimu. Aku tak pernah tahu alasannya kenapa, yang aku tahu aku ingin bersamamu dalam keadaan apapun, dan situasi apapun"

***

Melan dan Kayla sudah berada di sebuah cafe. Mereka memang sudah sering ke tempat ini, tempat salah satu favorite mereka. Disini tempat pertama kali kencan pertama mereka, sebuah cafe yang nyaman, alunan musik yang indah. Mereka sudah duduk di meja nomor 7, tepatnya di pojok kanan. Mereka sudah memesan makanan dan juga minuman, tinggal menunggu pelayan itu mengantarnya. Melan menatap dengan hangat wajah Kayla, senyum indah terpancar dari wajahnya. Kayla merasa bahagia bisa kembali mengenang masa-masa dulu bersama Melan, sejujurnya dia tidak ingin menghilangkan setiap moment yang pernah ia lewati bersama Melan. Dia juga sadar, terkadang selama ini dia sangat keras kepala. Namun, entah kenapa Melan selalu mampu mengimbangi sifatnya, bahkan Melan tidak pernah berniat melupakannya. Lalu apakah malam ini semuanya akan berubah ketika Melan tahu keadaan Kayla sebenarnya, dia ragu apakah di dunia ini ada yang namanya cinta sejati. Kayla menghela napas, ia mengatur hembusan napasnya yang semakin cepat. Bukan hanya takut, tapi dia tidak ingin sendiri saat-saat seperti ini.

"Lan, gak terasa kita udah lalui hari-hari kita dengan baik. Meskipun kadang aku nyebelin, keras kepala. Tapi kamu selalu baik sama aku. Terima kasih untuk itu semua", ujar Kayla memulai percakapan. Kemudian Melan tersenyum mendengar ucapan Kayla, tangannya memegang tangan Kayla yang ada di atas meja.

"Kay, kamu harus tau satu hal dari aku. Aku mencintaimu tanpa syarat, asal kamu bahagia. Aku pasti bahagia", jawab Melan meyakinkan Kayla. Dari dulu Melan memang selalu mengalah untuk Kayla, tapi dia melakukan itu karena dia yakin bahwa cinta yang Kayla berikan untuknya tulus tanpa sebab. Karena itu, hingga saat ini dia selalu bertahan dengan cinta yang dia punya.

"Tapi aku ingin kasih tau kamu satu hal Lan, tentang aku. Entah kamu akan menerima aku atau pergi. Aku rela", ujar Kayla sendu. Tatapannya seketika berubah, bola matanya terlihat berkaca.

"Katakan saja Kay, jika hal itu memang harus aku ketahui. Aku pasti menerimanya", tegas Melan.

"Waktu itu, aku ke dokter. Saat aku periksa keadaan aku, aku harus melakukan uji lab. Dan setelah hasilnya keluar, dokter bilang aku mengidap kanker darah. Dan aku gak tau sampai kapan bertahan dengan keadaanku Lan. Sekarang kamu udah tahu tentang aku, terserah kamu ingin pergi atau bertahan", jelas Kayla. Tapi Kayla tetap berharap Melan tidak meninggalkannya dalam keadaan seperti ini, siapapun pasti ingin bisa melewati masa-masa sulitnya bersama orang yang dia cintai. Tangan Melan semakin menggenggam erat jemari Kayla, ia terkejut pastinya, hatinya sedih dan ia merasa seperti mimpi. Melan pasti tidak mungkin memutuskan hubungan dengan Kayla hanya karena sebuah penyakit, apalagi Melan sangat mencintai Kayla.

"Kamu tahu, sejak awal aku menyukaimu, aku tidak pernah alasannya kenapa, yang aku tahu aku ingin bersamamu dalam keadaan apapun dan situasi apapun. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Kay, sekarang dan juga nanti. Seperti janji aku saat itu. Promise", seru Melan. Nadanya terdengar sedih, dia merasa bersalah selama ini pernah marah sama Kayla, pernah buat dia kesal dan jarang ada banyak waktu untuknya.

"Janji Lan, kamu akan selalu menemani aku melewati masa-masa ini. Aku mohon", pinta Kayla. Ia tak mampu lagi meredam air mata yang ingin jatuh di pipinya, Kayla memang selalu mengeluarkan air mata tiap kali dia bersedih. Sudah menjadi sifatnya, menangis cara dia untuk bisa lebih damai dari apa yang menjadi bebannya.

"Aku janji sama kamu Kay, percayalah. Kita akan selalu sama-sama", ucap Melan melemparkan senyum. Dia mencubit pipi Kayla, begitulah cara dia menyampaikan rasa sayangnya sama Kayla.

"Terima kasih Lan, aku percaya sama kamu", Kayla tersenyum. Dia mulai merasa bahagia, karena ternyata Melan bisa menerima keadaannya. Mencintai, tidak pernah melihat apapun dari pasangan, karena cinta memang tidak pernah punya syarat. Mencintai berarti menerimanya dengan tulus, bagaimanapun keadaan dan situasinya.

***

Sementara Kolis dan Deva sudah ada di sebuah kedai sederhana, Kolis sudah memesan bakmi. Disini salah satu tempat bakmi paling enak yang ada di kota ini, Deva sengaja mengajaknya ke tempat ini, karena tahu Kolis sangat suka makan bakmi.

"Lis, thanks ya udah mau datang", ucap Deva. Nadanya sedikit gugup, karena ini pertama kalinya dia jalan sama orang yang dia sukai. Sekalipun dia belum tahu apakah Kolis akan mampu menyukainya atau tidak. Setidaknya, dia bisa lebih akrab dengan Kolis, itu sudah cukup buatnya.

"Sama-sama kak, aku pikir bakal datang sama yang lain juga. Soalnya aku udah terlanjur ngajak Mendi juga, tapi dia belum sampai. Dia juga doyan banget sama bakmi", ujar Kolis.

"Iya gak apa-apa Lis", jawab Deva. Dia berharap malam ini dia bisa bersama Kolis saja, tapi ternyata Mendi juga ikut.

"Oiya kak, boleh minta pendapat?", tanya Kolis.

"Apa Lis?"

"Menurut kak Deva, mencintai seseorang itu kayak gimana rasanya?", tanya Kolis.

"Menurut aku, mencintai itu menyenangkan", jawab Deva.

"Menyenangkan? Kalo mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Apa itu masih menyenangkan?", tanya Kolis lagi.

"Tergantung Lis, kalo mencintai dia dengan tulus, kamu gak kan merasa sakit. Sekalipun dia tidak membalas. Benar kan?", jawab Deva.

"Iya kak, kak Deva Benar. Kak Deva pernah suka sama seseorang?", tanya Kolis.

"Pernah, dan aku juga mencintai seseorang. Tapi aku gak tahu, cewek itu bisa suka atau tidak sama aku, semua butuh proses", jawab Deva.

"Owh gitu, semoga cewek itu bisa mengerti ketulusan kak Deva. Tapi aku yakin, cewek itu gak bakal nolak cowok baik. Itu aja", ujar Kolis. Dia juga demikian, mencintai seseorang tapi tidak pernah menyatakannya, mungkin karena dia wanita, tidak sepantasnya melakukan itu. Tapi jika dia terus menunggu, mana mungkin orang yang dia cintai akan mengetahui perasaannya. Lalu mau sampai kapan dia menunggu Melan, sementara Melan tidak mungkin membuka hati untuk siapapun, karena Kayla telah mengisi hatinya sejak lama dan takkan tergantikan.

"Makasih ya Lis. Semoga saja itu terjadi", jawab Deva.

"Aamin, semangat kak", Kolis menyemangati Deva. Deva hanya tersenyum melihat senyum Kolis yang indah. Memang Kolis sangat cantik, tiap kali dia tersenyum dan memperlihatkan rataan giginya, Kolis terlihat sangat cantik. Bahkan Deva tidak mampu lagi berkata apa-apa melihat senyum indah itu. Mendi tidak juga hadir, sepertinya dia nyasar. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, kemudian mereka memutuskan untuk pulang setelah menyelesaikan obrolan mereka. Memang benar, mencintai tak pernah punya syarat. Karena disaat hati mencintai seseorang, hati tidak akan pernah bertanya siapa dan bagaimana pasangannya.

TBC...

Hai readers, bagaiamana kelanjutannya Melan dan Kolis ya. Ketika dua kepribadian mencoba menyatu dalam cinta, apa mungkin bisa terjadi.

Cinta memang tidak pernah punya syarat. Karena cinta adalah ketulusan.

See you, salam cinta dari melan dan kolis

MELAN & KOLISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang