Melan hanya ingin setia dengan Kayla, menjaganya dan membuatnya selalu bahagia
"Udah, gak usah dipikirin. Ngebahagiain kamu adalah tugas aku, kamu ingat apa yang pernah aku bilang. Ngeliat kamu senyum, aku udah bahagia. Jadi senyum terus ya, karena aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun"
***
Melan baru saja keluar dari ruang osis, sepertinya dia baru saja selesai mengadakan rapat dengan teman-temannya. Tidak sempat melangkah jauh, tiba-tiba Mora datang menghampirinya. Melan tidak menggubris kedatangan wanita yang dia anggap sebagai pembuat masalah di sekolah ini, tidak hanya itu di mata Melan sendiri Mora telah menjadi masalah untuk hatinya. Dia tahu bahwa Mora adalah pacar Gilang, Gilang sangat menyukainya sehinggga dia tidak ingin membuat Gilang salah paham dengan pertemuan ini. Melan memang sudah bosan jika harus bermasalah lagi dengan Gilang, bagaiamanapun Gilang adalah sahabat terbaiknya dulu.
"Lan ,,, Melan!" teriak Mora dan menghampirinya. Melan memaksakan diri untuk menhentikan langkahnya, setidaknya dia berusaha menghargai panggilan Mora.
"Kenapa Ra, teriak-teriak kayak gitu," ucap Melan tanpa memperhatikan wajah Mora.
"Kamu kenapa sih Lan, dingin banget sama aku. Kamu benci sama aku?," tanya Mora. Dia merubah posisinya, sekarang berada tepat dihadapan Melan. Kemudian Melan menatapnya dengan tatapan kebencian.
"Kalo iya, apa kamu akan menampar aku? Aku minta sama kamu ya Ra, jangan ganggu hidup aku lagi. Cobalah sedikit saja jadi cewek yang benar, biar orang lain bisa menghargaimu," ujar Melan dan kemudian melenggang pergi dia sempat menabrak sedikit bahu Mora.
"Lan, maksudmu apa? Apa aku salah jika menyukaimu, apa ada yang salah jika aku ingin jadi pacar kamu. Aku atau kamu yang tidak menghargai perasaan orang lain," teriak Mora. Tiba-tiba suasana koridor kelas dua belas IPA berubah haru, seluruh mata menatap ke arah Melan dan Mora. Melan sangat kecewa dengan tindakan Mora, dia berusaha untuk membuat suasana tetap tenang, bagaiamanapun dia adalah seorang ketua osis, dia harus menjaga kepribadian yang baik di depan siswa-siswa yang lainnya. Sekalipun hampir semua siswa di sekolah ini tahu bahwa Melan tidak pernah menyukai Mora, karena Melan lebih memilih Kayla. Melan menghentikan langkahnya lagi, kemudian menoleh kearah Mora.
"Hal itulah yang aku gak suka dari kamu, egois dan sama sekali tidak menghargai perasaan pacarmu sendiri. Bisa-bisanya kamu menyatakan perasaanmu kepada cowok lain, sementara seluruh sekolah tau kamu pacar Gilang. Sorry, aku gak ada waktu buat ceramahin kamu biar jadi cewek bener," Melan menggeleng-geleng kepala, kemudian dia meninggalkan Mora dengan rasa malu yang tidak bisa dihindari, siswa-siswa yang ada di sekitaran itu kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Entah apa penilaian mereka kepada Mora, tapi hari ini Mora telah membuat harga dirinya benar-benar hancur.
"Lan, kamu jahat. Seandainya rasa ini bisa aku cabut. Aku sudah mencabutnya sejak pertama kali aku menyukaimu saat itu, kamu gak pernah tau gimana jadi aku," pipi Mora mulai basah dengan lelehan air mata yang berjatuhan. Tidak ada yang salah dengan rasa, karena rasa bisa datang kapanpun dia mau, dan pergi kapanpun dia inginkan. Seharusnya Mora bisa menghargai perasaan orang lain, yaitu Gilang. Cowok yang telah menyayanginya dengan tulus, bahkan selalu berusaha membuatnya bahagia. Itulah maksud Melan, dia tidak ingin menyakiti perasaan Mora dan Gilang. Karena bagaimanapun mereka adalah tiga sahabat sejak SMP, selalu kompak dan selalu bersama kemanapun mereka pergi. Semuanya berantakan hanya karena perasaaan cinta, Mora menyukai Melan, sementara Melan telah jatuh cinta kepada Kayla, sebaliknya Melan tahu bahwa Gilang menyukai Mora sejak lama. Hingga pada akhirnya Melan memutuskan untuk menjauh dari Mora, agar dia bisa menghargai perasaan Gilang yang sangat mencintainya. Saat ini Melan hanya ingin setia dengan Kayla, menjaga perasaannya dan membuatnya selalu bahagia, karena baginya Kayla adalah hal terindah yang pernah dia temui dalam hidupnya, entah sampai kapan, dia akan selalu menjaga itu, menjaga janjinya.
***
Gilang hanya melihat Mora dari jauh, dia mendengar semua yang telah Mora ucapkan kepada Melan, tapi dia hanya tersenyum memaksa. Diapun tahu hal itu, dari dulu Mora memang menyukai Melan bukan dia. Dia juga menyadari bahwa hal itulah yang membuat persahabatan mereka hancur, bahkan keakraban mereka kini tak terlihat lagi, sekalipun hanya bertegur sapa, melan dan Gilang seperti dua orang asing yang sama sekali tidak pernah saling mengenal lagi. Dia ingin sekali memperbaiki hubungan persahabatan mereka seperti dulu, namun mereka masih dengan prinsip masing-masing. Apalagi hal itu berhubungan dengan Mora, hanya Mora yang bisa membantu mereka untuk kembali seperti dulu, bersahabat dan saling berbagi. Lamunannya seperti ingin kembali ke masa SMP, namun dia berusaha menolak kenangan itu muncul di pikirannya, dia menggeleng-geleng mengusir kenangan pahit itu. Kemudian dia memperhatikan Mora kembali ke kelasnya, bergegas dia juga menuju arah yang sama dan berencana menemuinya di kelas, dia tahu saaat Mora sedih, dia butuh bahu untuk bersandar. Tidak ada lagi bahu lain selain bahunya tempat Mora bersandar. Tidak lama, Gilang telah berada di samping Mora.
"Hai putri Mora, ngapain tu muka kusut banget, kayak jemuran belum kering aja," canda Gilang. Dia selalu membuat candaan yang lucu untuk membuat Mora tertawa. Gilang tahu perasaan Mora sakit, tapi dia seperti tidak tahu hal itu.
"Aku gak apa-apa Lang, hanya kecapean aja kali ya," jawab Mora datar. Senyum yang memaksa melengkung di wajahnya.
"Udah gak usah galau, kan sekarang aku ada disamping kamu. Pangeran Gilang akan selalu ada menjaga putri Mora," Gilang terkekeh.
"Apaan coba Lang, alay," serunya.
"Alay, tapi kamu suka kan dipanggil putri Mora," ledek Gilang. Dia berusaha membuat suasana hati Mora membaik, karena dengan melihat Mora tersenyum, dia bisa tenang.
Mora melebarkan senyumnya, kemudian menatap Gilang hangat. "Makasih ya Lang, kamu selalu ada saat aku butuhin. Aku minta maaf tidak pernah menghargai perasaanmu," ujar Mora dengan nada sendu.
"Udah, gak usah dipikirin. Ngebahagiain kamu adalah tugas aku, kamu ingat apa yang pernah aku bilang. Ngeliat kamu senyum, aku udah bahagia. Jadi senyum terus ya, karena aku akan selalu menyayangimu sampai kapanpun," jelas Gilang seraya tangannya mengelus rambut Mora.
"Seandainya ada cewek yang bisa menerima ketulusan kamu, mungkin cewek itu orang yang beruntung punya pacar sebaik kamu, tidak seperti aku Lang, tidak pernah buat kamu bahagia. Mau sampai kapan kamu bertahan dengan perasaan kamu?" tanya Mora, air matanya mulai berjatuhan di pipinya. Gilang segera menghapus air mata itu dengan jempolnya.
"Kamu gak perlu mikirin perasaan aku Ra, yang terpenting buatlah dirimu bahagia dengan cara apapun. Karena dengan kamu bahagia, hatiku juga bahagia. Kamu bukan hanya pacar buat aku, tapi sebelum itu kamu adalah sahabat terbaik aku. Jadi kamu gak usah khawatir, aku akan selalu ada buat kamu. Jangan nangis, make upnya luntur entar, terus tambah jelek," Gilang kembali meledeki Mora di sela-sela kesedihan hatinya.
"Biarin, jelek juga gak apa-apa," Mora tersenyum simpul.
"Gitu dong, senyum terus. Biar cantiknya nambah," Gilang terkekeh seraya ia mencubit batang hidung Mora yang mancung.
"Lebay," ucap Mora melebarkan senyumnya. Hatinya sedikit lega dengan kehadiran Gilang, dia memang tahu bagaiamana perasaan gilang sebenarnya, karena Gilang selalu terlihat bahagia tiap kali berada di depannya. Pikirannya kembali masa-masa SMP dimana ada dua cowok yang sangat menyayanginya sebagai sahabat, dua cowok yang selalu menjaganya. Dia sangat beruntung memiliki kedua cowok itu, dan sekarang dia harus berusaha untuk mengembalikan persahabatannya hancur karenanya. Salah satu cara untuk mewujudkan itu, dia harus melupakan perasaannya kepada Melan. Itu adalah pilihan, semua tergantung Mora, akan memilih persahabatannya atau teguh dengan perasaannya yang tak pernah terbalas.
***
Yang udah gak sabar nungguin kelanjutan Kisah Melan dan Kolis, semakin seru aja ceritanya. So, jangan pernah bosen ya sama ceritanya.
Salam cinta dari Melan dan Kolis
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
Novela JuvenilHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
