The Bad Boy

367 46 13
                                        

[Karena laki-laki yang baik adalah dia yang mampu menghargai wanita]

"Ini hati, bukan barang bekas yang bisa kamu hargai berapa saja"

***

Kolis dan Mendi baru saja duduk di sebuah bangku panjang di kantin. Bersama dengan bakmi kesukaannya, tidak lupa milkshake strawberry kegemarannya. Baru dua kali dia menyantap bakmi yang masih hangat itu, seorang cowok dan gengnya menghampiri keduanya. Tidak lain, cowok paling sombong sejagat.

Dirga belum jerah menggangu Kolis hingga ia bisa kembali lagi menyukainya, apapun yang bisa membuat Kolis kembali, ia akan melakukannya walaupun dengan cara licik sekalipun. Dia selalu berpikir tidak ada yang tidak bisa dia dapatkan di dunia ini, bahkan saking sombongnya, dia mengatakan bahwa pulau pun bisa dia beli untuk Kolis, asalkan dia mau kembali.

"Hai my beauty, aku mau temenin kamu makan" kata Dirga.

"Buat apa si Ga, mau kamu apa si sebenarnya. Aku capek!" sorot mata sinis.

"Kamu. Aku cuma mau kamu balik sama aku, simple kan", jawab Dirga santai, senyum mengejek tergambar di wajahnya.

"Tapi aku gak bisa Ga, cukup kita berteman saja. Dan aku mohon sama kamu, jangan buat hidup aku gak tenang. Karena kehadiran kamu, membuatku gak nyaman jika kamu bersikap kayak gitu terus", jelas.

"Gak bisa? Kurang apa aku dimata kamu. Apa karena si Melan, pahlawan kesiangan kamu itu", tebak Dirga yang mulai emosi. Seolah ingin mencari lawan saja, hampir tiap hari ia selalu menggangu orang lain. Tidak jauh beda sama Mora, jika dipasangkan mungkin Dirga dan Mora adalah pasangan yang cocok.

"Ini gak ada hubungannya sama siapa-siapa Ga, jadi jangan pernah masukin orang lain dalam masalah kita. Aku gak mau karena aku gak punya rasa sama kamu, aku gak pernah punya rasa. Ngerti kan maksud aku?" ujar Kolis, selera makannya tiba-tiba hilang melihat Dirga dihadapannya.

"Gak ada yang boleh nolak aku, jika aku gak bisa dapatin kamu. Maka orang lainpun gak kan pernah bisa milikin kamu, camkan itu", Dirga menarik pergelangan tangan Kolis untuk bisa mendekatkan diri ke hadapan Kolis. Mereka kini sudah saling menatap, tiba-tiba Dirga mencium pipinya.

Plakk....

"Sumpah Ga, kamu memalukan. Gimana aku bisa menghargai kamu, kalo kamu sendiri gak bisa hargai aku, aku benci sama kamu", air mata meleleh dari pipinya. Karena belum ada seorangpun yang pernah menciumnya, Dirga telah mendahului melakukan itu. Orang yang tidak dia sukai. Kolis mencoba memaksa melepaskan tangannya dari cekalan Dirga.

"Berapa aku harus hargai itu, biar kamu balik sama aku. Bilang aja berapa?", ucap Dirga.

Kata-katanya yang terlalu menusuk hati Kolis, semakin membuat Kolis yakin kalau Dirga memang cowok yang tidak benar. Bahkan untuk menjadi temannya pun, Kolis sudah menutup semuanya. Dia benar-benar dipermalukan di depan teman-teman yang lain.

"Ini hati, bukan barang bekas yang bisa kamu hargai berapa saja. Kamu pergi jauh-jauh dari hidupku, brengsek", ucap Kolis sambil menyirami milkshakenya ke baju Dirga.

Kolis tidak menunggu lama, dia langsung beranjak meninggalkan tempat itu. Dia menundukkan kepalanya, seraya menghapus air mata yang semakin deras. Mendi yang dari tadi hanya terdiam mematung melihat kejadian itu, langsung menyusul Kolis. Dia sempat-sempatnya meneguk minumannya sebelum berlari menghampiri Kolis.

"Brengsek. Bajuku jadi basah lagi, tu anak benar-benar nyari masalah sama aku", dia kemudian melirik sekeliling. Semua mata memandangi kejadian yang barusan terjadi. " Woii. Ngapain liatin aku, bubar", teriaknya.

MELAN & KOLISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang