Ada kalanya hati memang harus menerima kenyataan, dengan begitu mungkin hati yang sempat terluka akan segera membaik
"Hati yang udah berpenghuni tidak mungkin menerima hati lain di dalamnya"
* * *
Semenjak Deva tahu perasaan Kolis sebenarnya, dia berusaha untuk bisa menerima kenyataan bahwa hati Kolis tidak akan mungkin berpindah. Meskipun demikian, dia ingin selalu menjadi teman Kolis seperti halnya Melan. Karena menurutnya perasaan yang dia punya tidak mesti memaksakan untuk dibalas Kolis. Lagipula Deva belum menyampaikan perasaannya kepada Kolis, sehingga dalam hal ini ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa.
Terkadang rasa yang ada, tak mengharuskannya memiliki Kolis. Tapi setidaknya, dia ingin Kolis tahu tentang perasaannya, meskipun sudah pasti akan ditolak. Dia masih saja melamun di bangkunya, menatap papan tulis putih yang tidak bertulisan, pandangannya seolah kosong.
"Yaelah, pagi-pagi bengong, kesambet hantu sekolah tau rasa. Gak ada PR juga hari ini, slow," sapa Melan saat tiba di bangkunya.
"Kalo pun beneran ada tu hantu, aku pengen tau cara dia ngerayu aku," ucap Deva.
"Kalo secantik Kolis?" tanya Melan meledeki Deva. Ia pun tertawa mendengar gurauan Melan.
"Kalo secantik dia, aku maulah. Tapi dianya mau gak sama aku?" tanya Deva.
"Nah kalo itu tanya sendiri ya Dev, daripada kamu mendam terus," ujar Melan.
"Aku mau tanya sesuatu sama kamu Lan?"
"Apaan?"
"Kamu tau gak kalo Kolis suka sama kamu?" tanya Deva menatap Melan. Ia terkejut dengan pertanyaan Deva yang baru saja terlontar.
"Aku? Aku sama sekali gak paham. Maaf ya Dev, aku hanya tau dia suka sama seorang cowok di sekolah ini, dan dia merahasiakannya sama aku," jelas Melan.
"Iya, dan cowok yang dia maksud itu kamu Lan, dia suka sama kamu," ucap Deva mencoba memberitahu Melan.
Sepertinya Melan memang benar-benar tidak mengetahui tentang hal itu, selama bersama Kolis, ia juga tidak pernah melihat sikap Kolis yang menunjukan rasa suka kepadanya. Mereka hanya tahu bahwa hubungan mereka teman, meskipun keduanya telah dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing.
"Aku gak paham Dev, selama ini aku menganggapnya teman, tidak lebih," jawab Melan.
"Tentang perjodohan kalian, apa itu tidak benar juga?" tanya Deva lagi, ia mencoba menggali pengetahuannya tentang Melan dan Kolis. Karena dia yakin, hubungan mereka bukanlah sekedar teman biasa.
Melan terkejut, tatapannya tiba-tiba mengarah kepada Deva. Dia hanya keheranan, kenapa Deva bisa mengetahui hal ini.
"Benar, kedua orang tua kami menjodohkan aku sama Kolis. Tapi kamu tau sendiri kan aku punya pacar yag sangat aku cintai. Tidak mungkin aku menghianati Kayla, sangat tidak mungkin. Aku sama Kolis juga pernah membahas ini, kita menjalani masing-masing dengan orang yang kami sayangi. Dan dia menyetujuinya, masalah perasaan Kolis, aku benar-benar tidak tau, Sungguh!"
Melan mencoba membuat Deva yakin, dia hanya tidak ingin salah paham kemudian merusak hubungan pertemanan mereka.
"Aku ngerti Lan, aku tidak marah sama kamu kok, ini hanya soal perasaan aja," Deva terkekeh, ia mencoba mencairkan keadaan yang sempat tegang, persahabatan mereka tidak akan rusak hanya karena masalah seperti itu.
Dia tahu, Melan sangat setia kepada Kayla, "Tapi kasihan juga ya jadi Kolis, dia harus berpura-pura bahagia tiap kali melihatmu sama Kayla, seperti kemarin di rumah sakit. Dia menangis Lan, tapi syukurlah dia tipe orang yang ceria sehingga dengan cepat ia kembali tenang," jelas Deva melanjutkan perkataannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
JugendliteraturHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
