[Kolis memang populer, tapi tetap saja hatinya hanya bisa mengagumi, hanya bisa memendam]
"Bagi aku, menyukaimu adalah hal yang menyenangkan. Sekalipun aku tahu, entah sampai kapan ku hanya bisa memendamnya"
* * *
Seperti biasanya, Melan selalu ke kantin sekolah sebelum masuk pelajaran pertama dimulai. Dia selalu menyempatkan diri membeli bolu kukus kesukaan Kayla, setelah mendapati apa yang dia cari, Melan kembali ke kelasnya dan menunggu guru pelajaran matematika masuk. Kebetulan PR-nya sudah selesai ia kerjakan semalam, dia duduk tenang di bangkunya. Tidak lama berselang, Deva masuk kelas. Dia baru saja datang, dan langsung duduk di sebelah Melan.
"Lan, buatin aku kata-kata lagi dong!", pinta Deva. Melan hanya meliriknya. " Pliss Lan, kamu kan jagonya", tambahnya.
"Iya aku buatin, emang buat siapa sih tu kata-kata? Jangan-jangan suka anak kelas 10 yang keganjenan itu kan, yang kemarin ngasih kamu coklat tanpa sebab, siapa sih namanya tu anak, si Yuna, iya kan", terka Melan.
"Bukan, bukan dia. Bukan tipe aku, pokoknya cewek ini unik Lan. Agak-agak tomboi sih, tapi manis, aku suka sama dia. Tolong buatin aku kata-kata yang bagus banget ya", pinta Deva memadukan kedua telapak tangannya.
"Iya, Iya. Semoga kali ini kamu bener-bener gak salah pilih cewek lagi. Gak kayak yang kemaren, uda rambutnya dikepang dua terus ganjen lagi. Parah", seru Melan mengejek sahabatnya.
"Kali ini gak salah pilih, dia pas banget buat aku deh, dijamin 80%", jawab Deva.
"Idihh, 80%. Kayak diskon aja, 20% kemana tuh?", sindir Melan.
"20% nya kalo uda jadian", jawabnya. Mereka terkekeh bersamaan.
Melan kemudian menuruti kemauan Deva, kali ini ia membuat dengan sangat dalam. Sekalipun dia tidak tahu siapa cewek yang Deva kejar, setidaknya dia bisa membuat sebuah kalimat yang mewakili perasaan Deva. Aneh, zaman sehebat ini, masih saja pakai surat, tidak pakai nama lagi.
"Nih udah Dev, semoga beruntung", ucap Melan.
"Thank you ya, jangan bosen aja", Deva menerimanya dengan sangat bahagia.
"Bismillah dulu, biar suratnya keterima. Jangan asalan ngasih aja, ada aturannya. Apapun yang diawali dengan Bismillah, hasilnya pasti baik", ujar Melan mengingatkannya.
"Oke", Deva melingkari telunjuk dan jempolnya. "Pasti", lanjutnya.
Deva langsung meninggalkan Melan dan berlari menuju kelas 11. Dia langsung memberikan kertas itu ke sepupunya yang sekelas sama cewek incarannya, kemudian menaruhnya di bangku cewek itu, kemudian dia kembali ke kelasnya setelah memastikan sudah oke.
Deva belum berani menampakan diri untuk menyatakan yang sebenarnya kepada cewek itu, entahlah. Pikiran laki-laki susah ditebak maksudnya, mungkin dia berpikir belum waktunya dia menyatakan yang sebenarnya.
Tidak lama kemudian, guru matematika muncul. Ia langsung meminta siswanya untuk mengumpulkan PR. Seluruh siswa akhirnya mengumpulkan buku latihannya ke hadapan guru matematika itu.
"Gimana? Uda ngasih? Tanggapannya?", cecar Melan setelah selesai mengumpulkan PR.
"Aku uda kasih, aku taro di kursinya. Tapi aku gak ketemu dia", jawab Deva.
"Kok gak ketemu, emang dia tahu yang ngasih siapa kalo kamu gak kasih langsung, dev, dev", Melan menggeleng kepala keheranan.
"Belum waktunya Lan, nanti aja", jawabnya datar.
"Gak semua cewek suka sama cara klasik kayak gitu, mau sampai kapan jadi pengagum rahasia Dev, buruan, entar kalo dia suka sama cowok lain gimana, zonk", ejek Melan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
Novela JuvenilHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
