Cinta Gilang adalah cinta paling tulus yang pernah Mora temui selama hidupnya
"Kamu pikir ini romantis? hujan-hujanan cuma buat nyari perhatian aku. Nanti kalo kamu sakit, siapa yang repot, siapa yang sedih, dan siapa yang bakalan aku perhatiin diam-diam"
* * *
Suasana sore masih mendung, sama seperti hati Mora saat ini, semenjak Gilang memutuskan untuk menjauhinya, ia merasa ada hal yang hilang dalam hidupnya, sesuatu yang berbeda di hari-hari sebelumnya. Jam pelajaran terakhir telah berakhir, bel telah berbunyi sejak lima menit yang lalu. Namun, Mora belum juga bangkit dari bangkunya, ia masih menunggu Gilang. Tidak lama Gilang kembali dari kamar mandi, lima belas menit sebelum pelajaran matematika berakhir ia memang berpamitan ke belakang. Gilang tiba di bangkunya dan mengambil tas ranselnya dan berniat untuk keluar kelas, dia memperhatikan Mora namun dia sengaja tidak menghiraukan keberadaan Mora di kelas itu. Sebelum kaki Gilang melewati pintu kelas, Mora tiba-tiba bangkit dan memanggilnya.
"Lang...!" teriak Mora. Gilang berhenti dan menoleh kearahnya. Tapi Gilang sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Kenapa kamu tidak mau menyapaku lagi Lang, aku salah apa?" tanya Mora lagi.
"Aku tidak kenapa-napa, hanya ingin sendiri aja," jawab Gilang santai. Mora kemudian menghampirinya.
"Lang, aku minta maaf jika aku salah selama ini, jangan cuekin aku. Aku gak terbiasa melihatmu seperti itu Lang," seru Mora dengan nada sendu.
"Lalu? Aku harus gimana Ra, saat aku selalu ada di sampingmu, kamu gak pernah menganggapku ada, sekarang saat aku menjauh kamu bilang kamu gak terbiasa, aku bingung sama jalan pikiranmu Ra," ujar Gilang.
"Iya aku akui, selama ini aku jahat, selama ini aku gak pernah memperdulikan cinta yang tulus darimu, aku mohon kasih aku kesempatan Lang, aku rindu kamu yang dulu, yang selalu perhatian dan selalu jagain aku, selalu buat aku ketawa, selalu buat aku senang. Aku gak peduli gimanapun sikap kamu ke aku, tapi tolong jangan hilangan perasaanmu ke aku Lang, aku sayang kamu," jelas Mora. Ia merasa menyesal dengan apa yang telah dia lakukan selama ini kepada Gilang. Ia berharap Gilang akan berubah pikiran dan kembali bersamanya lagi.
"Maaf Ra, semua telah berlalu, aku bukan Gilang yang dulu lagi, perasaanku udah terkikis, gak utuh seperti dulu lagi. Maafin aku Ra," ucap Gilang kemudian dia beranjak meninggalkan Mora yang tengah bersedih, sejak tadi genangan air matanya telah memenuhi kelopak matanya, dan siap untuk tumpah. Mora tidak ingin menyerah, ia yakin bahwa Gilang sedang berbohong dengan hatinya, ia tahu cinta gilang masih untuknya. Mora kemudian berlari dan mengejar Gilang seraya memanggil Gilang seperti orang gila, dia memang harus melakukan itu. Mungkin hal ini belum sepadan dengan apa yang dilakukan Gilang untuknya saat itu.
"Lang, jangan tinggalin aku. Aku gak ingin kamu hilang dari hidup aku, hari-hariku sepi tanpa kamu, aku butuh kamu Lang, Pliss," pinta Mora, air matanya sudah tidak tertahan lagi. Memang sudah sering Gilang melihat Mora meneteskan air matanya untuk memperjuangkan cinta, tapi sekarang bukan cinta Melan melainkan cintanya. Ia sama sekali tidak tega melihat Mora seperti ini, ia hanya ingin mengembalikan rasa yang sempat hilang kepada Mora selama ini, dia pikir jika dia pergi Mora akan bahagia, tapi kenyataannya tidak.
"Aku harus pergi Ra, sebaiknya kamu pulang, lupain semua tentang kita. Sekarang udah gelap banget, hujan deras mungkin akan turun," pintanya, ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu sama Mora jika harus berada di sekolah dalam keadaan seperti ini. Gilang pun beranjak meninggalkan Mora yang tengah menangis.
Tiba-tiba hujan mengguyur mereka, bahkan sangat deras. Sementara Mora tidak juga beranjak, ia bairkan tubuhnya diterpa hujan yang deras itu. Air matanya seolah tidak terlihat lagi karena air hujan yang telah membasahinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
Teen FictionHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
