Secangkir Latte Untuk Mora

135 10 0
                                        

Sekalipun Kayla telah pergi, tapi di hati Melan, Kayla masih hidup. Sampai kapanpun, Melan tidak akan pernah melupakan Kayla

"Terima kasih atas kehangatan yang selalu kamu kasih, untuk secangkir latte, dan senyummu"

* * *

Hari ini Melan sangat sibuk dengan aktifitas kuliahnya, banyak waktu dia habiskan di kelas dan perpustakaan. Impiannya untuk kuliah di jepang telah terpenuhi sekarang, sekalipun ia harus jauh dari orang tua yang sangat dia cintai, dan juga meninggalkan banyak hal di rumah, di Indonesia. Salah satunya, semua fasilitas yang selalu dia gunakan selama ini, mobil kesayangannya yang dianggapnya sebagai kisah terindahnya bersama Kayla.

Sekarang ia coba menikmati kesendiriannya tanpa Kayla, meskipun dia sama sekali tidak pernah mengubah hatinya untuk melupakan Kayla dalam hidupnya. Tapi bagaimana pun ia harus menjalani kehidupan tanpa rasa kehilangan, maupun luka masa lalu yang pernah membuatnya terpuruk.

Di negara mata hari terbit ini, ia berniat untuk bisa mendamaikan hatinya dan juga membahagiakan hari-harinya yang pernah rumit. Di sini dia bersama Mora, yang tanpa sengaja melanjutkan kuliah di kampus yang sama. Hampir setiap akhir pekan mereka selalu menghabiskan waktu bersama, bagaimana pun hanya Mora yang dia miliki di kota ini. Baginya, mora adalah sahabat terbaik yang pernah dia miliki, sekalipun sikapnya terkadang membuat Melan kecewa, tapi hingga saat ini mereka tetap sahabat.

"Disini ada sepi yang tak bisa ku maknai, dan disini juga ada rindu yang tak mampu ku jelaskan, hanya dua hal itu yang selalu setia untukku," ucap Melan seraya tangannya menulis tiap kata yang keluar dari bibirnya.

Tidak lama berselang, sebuah pesan dari Mora masuk ke whatsappnya.

~~~
Lan, aku ada di taman. Aku ingin cerita
~~~

Melan langsung membalas pesan itu.

~~~
Aku kesana sekarang
~~~

Setelah pesan itu terkirim, ia bergegas mengambil jaket dan sarung tangannya, ia pun menghampiri Mora yang telah menunggunya di taman tempat mereka sering bertemu. Sekarang sedang musim dingin di jepang, tapi ia ingin menemani dan mendengar apapun keluh kesah Mora. Melan tahu hubungannya dengan Gilang sedang bermasalah, jarak memang membuat Mora dan Gilang tak lagi merasakan kenyamanan seperti dulu.

Tidak lupa earphone selalu menempel di telinganya mendengar lagu kesukaannya bersama Kayla dulu, ia sadar bahwa Kayla telah pergi selamanya, tapi bukan dari pikirannya, juga kenangan-kenangannya. Melan pun tiba di taman itu, setelah beberapa menit menempuh perjalanan dengan kereta cepat.

"Hot greentea latte sedikit gula," sapa Melan ketika tiba di belakang Mora yang sedang duduk di bangku panjang sekitar taman itu. Mora tersenyum dan menerima minuman yang Melan berikan.

"Makasih ya Lan, selalu membuat hari-hatiku menyenangkan. Sekalipun sebenarnya, hatiku selalu merasa kesepian," ujar Mora seraya melirik Melan yang duduk di sebelahnya.

"Sama-sama, jangan pernah merasa sepi, karena aku ada disini untukmu," ucap Melan sambil mengacak poni mora.

"Kamu tidak pernah berubah seperti Melan yang aku kenal, selalu membuatku merasa nyaman, bahkan disaat aku merasa sedih sekalipun," ucapan Mora seolah ingin mengembalikan kisah mereka di masa lalu.

"Udah ah, jangan baper. Nikmati aja masa-masa kuliah kita disini, oiya katanya kamu mau cerita? Apaan? Gilang lagi?" tanya Melan.

"Iya, sudah beberapa hari ini, dia gak ada kabar. Bahkan aku udah berusaha untuk menghubunginya lewat whatsapp, lewat email, tapi tidak ada balasan. Aku cuma khawatir Lan sama dia," ucapnya sendu di tengah dinginnya kota Osaka. Sesekali ia menyeruput latte yang ada di tangannya, berharap hatinya akan membaik, namun tetap saja dingin itu tak mampu membekukan hatinya yang menangis.

"Mungkin dia sedang sibuk Ra, dan belum sempat melihat chatmu, positif thinking, berdoa semoga dia baik-baik saja," ucap Melan mencoba membuat Mora berpikir tenang. Dia sangat memahami perasaan wanita, wajar saja jika Mora sangat mengkhawatirkan Gilang, itu semua karena Mora sangat mencintai Gilang.

"Semoga saja Lan, aku hanya takut dia berubah,"

"Memang tidak mudah menjalani cinta jarak jauh, bahkan sudah cukup lama kalian tidak bertemu. Tapi percayalah, Gilang tidak seburuk itu, dia tahu siapa yang harus di bahagiain, tunggu saja kabarnya," pinta Melan, kemudian menyeruput lattenya.

"Thanks ya Lan," ia menghentikan ucapannya, kemudian menyeruput lattenya. "emm... Kolis baik-baik aja kan?" lanjutnya.

"Iya Ra, dia baik-baik saja. Masih sibuk sama balapan mobilnya, dasar cewek aneh," ujar Melan tersenyum.

"Tapi kamu beruntung memilikinya, hobinya aja yang aneh, tapi dia bener-bener tulus menyayangimu Lan. Bahkan saat di bandara, dia begitu sedih melepas kepergianmu, aku melihat sorotan matanya penuh ketulusan, seperti cinta Kayla kepadamu," jelas Mora.

Melan menoleh ke arah Mora setelah ucapannya selesai, ia memberikan senyuman yang penuh kehangatan. Cukup lama ia menatap Mora, hingga wajah merona terpampang di wajah Mora. Melan masih saja memperhatikan wajah Mora, tidak bisa dipungkiri Mora memang cantik, tapi mereka tetaplah sebagai sahabat, tidak akan ada yang berubah dari hubungan mereka.

Sementara Mora hanya terdiam menikmati tatapan itu. Ia merasa nyaman tiap kali di dekat Melan, entah ini adalah sebuah perasaan biasa atau rasa nyaman yang pernah dia alami di masa remaja saat ia bersama Melan dan Gilang saat itu.

"Terima kasih atas kehangatan yang selalu kamu kasih, untuk secangkir latte, dan senyummu," batin Mora.

Setelah itu Melan pun berencana untuk kembali ke apartemennya, sudah hampir gelap, masih banyak tugas yang harus ia selesaikan. Seperti biasanya, ia hanya ingin setiap tugas-tugas mendapat hasil yang sempurna. Oleh karena itu, ia akan bekerja keras untuk bisa mendapatkan nilai terbaik di salah satu kampus terbaik di Jepang ini, itulah tekad dan impiannya.

Setelah berpisah dengan Mora, ia pun menaiki kereta yang sama untuk kembali ke apartemennya. Baginya, pertemuan dengan Mora adalah sesuatu yang selalu dia syukuri. Setidaknya, ia bisa menikmati masa-masa sulitnya selama ini karena kehadiran Mora yang selalu mendengar ceritanya, bahkan tentang kerinduannya terhadap Kolis. Mora bukan hanya sahabat baginya, tapi ia merasakan seperti bersama Kayla.

* * *


TBC...

Persahabatan Mora dan Melan telah terjalin baik lagi.

Sekalipun Mora sempat mencintai Melan dengan sangat dalam, tapi Gilang telah mampu mengisi hatinya saat ini. Mampukah mereka mempertahankan persahabatan mereka lagi, sementara Gilang tidak pernah memberi kabar?

Ada apa dengan Gilang? sampai ketemu di part berikutnya ya. See You.


MELAN & KOLISTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang