High School Series #1
Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya.
"Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan"
~~~
Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
Menunggu memang bukan hal yang mudah, tapi siapa saja bisa melakukan jika cinta yang dia punya tulus
"Saat kamu suka seseorang, katakan saja dengan jujur. Setidaknya perasaan itu sampai pada seharusnya. Jika dia menolak, tinggal tutup aja tuh hati, lalu pindah ke hati yang mau menerima. Sederhana kan?"
***
Sekarang Melan sudah tahu tentang apa yang telah terjadi dengan Kayla, pikirannya cukup membuatnya terganggu. Sisi lain dia sangat takut kehilangan Kayla, jika sampai penyakit itu merengut nyawanya tiba-tiba. Perhatiannya ke Kayla tidak pernah berkurang, sekalipun dia tahu kekasihnya tidak lagi sehat seperti wanita lainnya, dia masih mencintai Kayla sama seperti saat pertama kali dia mengenal dan jatuh cinta kepada Kayla. Hingga detik ini, perasaan itu selalu dia jaga dengan baik meskipun ada banyak wanita yang menyukainya di sekolah.
Setelah mengantar Kayla ke kelasnya, ia kemudian kembali ke kelasnya.
"Ada yang lagi berbunga-bunga nih, yang semalem kencan", Melan terkekeh.
" Apaan sih Lan, semalem kita cuma makan doang. Bukan kencan", tangkis Deva.
"Terus apa namanya, kalo dinner bareng cewek, terus nganterin dia pulang ke rumahnya, terus ketemu orang tuanya. Kamu mau bilang, itu cuma kebetulan", ejek Melan.
"Kamu nih ada ada aja", tangkis Deva. Pipinya memerah.
"Kamu tau Kolis kan, dia cewek yang selama ini buat aku jatuh cinta. Dia unik dan berbeda dari semua cewek yang ada di sekolah ini. Aku benar-benar menyukainya", jawab Deva.
Dia tersenyum saat menjelaskan tentang perasaannya ke Kolis. Namun ekspresi Melan berubah, dia tahu bahwa orang tua Kolis telah menjodohkan Kolis dengannya, sementara sahabat terbaiknya menyukai Kolis juga.
Memang saat ini Melan belum menyukai Kolis, Mereka telah menyepakati untuk menjadi teman. Tapi sepengetahuan Melan, Kolis menyukai seseorang di sekolah yang sama. Bukankah itu akan menyakiti perasaan Deva, tapi Melan tidak mungkin memberi tahu Deva tentang hal ini, karena itu akan membuat hati Deva terluka.
"Bagus dong Dev, aku setuju jika kamu suka sama dia. Dia cewek yang baik juga manis", ujar Melan.
"Idihhh...gak usah lebai deh. Sejak kapan kamu kenal Kolis Lan? Kamu selalu aja muji orang berlebihan", Deva tertawa setelah menyelesaikan ucapannya.
"Gak usah nunggu kelamaan, kalo kamu suka seseorang. Katakan saja dengan jujur, setidaknya perasaan itu sampai pada seharusnya, tapi jika dia menolak, tutup aja tuh hati lalu pindah ke hati yang mau menerima. Sederhana kan?", ujar Melan.
"Kamu pikir milih hati yang cocok, terus bisa buat kita suka, itu kayak milih sepatu di toko, kalo gak pas terus pindah ke sepatu yang lain. Ini hati Lan, sekali dia suka seseorang, akan selalu menyukainya. Kecuali hati itu sendiri yang meminta aku untuk meninggalkannya", jelas Deva.
"Gileee, kata-katamu kayak penulis novel aja. Gak usah baper kali, perjalanan kita masih panjang Dev, belum kuliah. Nanti bakal ketemu orang baru terus yang lama pasti terlupakan, percaya deh", Melan berusaha membuka pikiran Deva, supaya dia tidak terlalu mengharapkan Kolis. Dia hanya tidak ingin sahabatnya terluka.
"Tenang aja, aku gak bakal seburuk itu menyukai wanita. Kamu pikir aku bakal bunuh diri kalo di tolak Kolis, iya gak lah. Aku juga sadar, saat kita berani menyukai seseorang, saat itu juga kita siap untuk patah hati", kata-kata Deva kali ini benar-benar puitis, entah kenapa setiap ucapannya punya makna yang dalam sekali. Apa begitu rasanya jatuh cinta, mengubah cowok kaku jadi puitis.
"Benar banget Dev, kali ini aku benar-benar salut sama quote kamu", puji Melan.
Dia berharap apa yang diucapkan Deva benar adanya. Deva tertawa mendengar pujian itu, dia juga tidak sadar kenapa kata-kata sehebat itu bisa keluar dari bibirnya. Mereka kemudian sama-sama tertawa dengan candaan masing-masing.
***
Seperti biasanya, surat tanpa nama terpampang di kursi Kolis. Tempat paling rutin surat itu berada. Kolis yang baru saja sampai bersamaan dengan siswa lainnya, langsung menuju bangkunya. Sorotan bola matanya langsung tertuju pada amplop berwarna biru itu, dia tidak menunggu lama dan mengambilnya. Segera dia membuka amplop dan membaca kertas yang ada di dalamnya.
Masih disini, menunggumu dengan rasa bahagia. Sekalipun rasa ini tak pernah meminta jawaban, tapi aku dan hatiku bahagia mencintaimu
"_"
Kolis masih tersenyum bahagia dengan apa yang dia baca, surat dari pengagum rahasia itu seolah memberinya sebuah kebahagian baru. Hingga dia berpikir untuk bertemu dengan seseorang itu, tapi dia bingung harus menghubungi siapa untuk menyampaikan keinginannya itu.
Dia tak henti tersenyum sendiri melihat barisan kalimat dari kertas itu, ia berkali-kali membacanya. Dia menghela napas seraya berucap pelan.
"Tanpa kamu tahu, ada rasa yang membuatku nyaman tiap kali membaca tulisanmu, terima kasih telah menyukaiku," batin Kolis.
Entah siapapun penulis surat itu, Kolis telah menyukai tulisan-tulisannya. Dia berpikir, seandainya Melan adalah penulis surat itu, hatinya pasti akan sangat bahagia. Hingga detik ini, dia tidak berhenti menunggu perasaannya bisa dirasakan oleh Melan.
Menunggu memang bukan hal yang mudah, tapi siapa saja bisa melakukannya jika cinta yang dia punya tulus. Surat yang ada di tangannya itu, dia masukan ke dalam saku tasnya.
Kolis kemudian duduk di bangkunya, sambil menunggu guru fisikanya datang. Dia mendengar lagu favoritnya dari ponselnya, tidak lama Mendi mencabut headset yang ada di telinga kanannya secara tiba-tiba.
"Nanti malam kita race sama Gilang, ada pembalap baru juga yang nantangin kamu sama Gilang. Mereka pembalap yang cukup terkenal, kamu harus ikut. Demi repotasi seorang Kolis di dunia balap mobil", jelas Mendi.
"Serius loh, berani juga tu bocah nantangin kita", ketus Kolis.
"Udah, jangan remehin mereka. Mereka bukan pembalap sembarangan, jadi kamu sam Gilang satu tim melawan tim mereka, kamu harus datang nanti malam jam 9 malam di tempat biasa", ujar Mendi.
"Okey, kita ketemu disana", jawab Kolis seraya mengangguk-ngangguk mendengar musik favoritmya itu.
"Harus menang ya, aku uda pasang taruhan gede", Mendi menyengir.
"Dasar loh, otakmu duit aja, percaya sama aku. Kita pasti menang", ucap Kolis yakin.
"Sip deh", Mendi kemudian kembali ke bangkunya. Dia senang karena Kolis sudah menyutujui race nanti malam.
Beberapa menit kemudian, gurunya masuk, semua siswa berhamburan menuju bangku masing-masing. Suasana gaduh berubah jadi teduh, tidak ada yang berani dengan guru super killer seantero sekolah.
* * *
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
TBC...
Hobi yang aneh dari seorang Kolis, ternyata tidak membuat banyak cowok ilfil. Termasuk pengagum rahasia itu. Lalu siapa pengagum rahasia itu? Melan, Deva atau mungkin saja Gilang.
Siapapun dia, Kolis menyukai tulisan-tulisannya.
Salam cinta dari Melan dan Kolis Jangan lupa vote dan komentnya ya guys. Thanks. Follow ig saya ya, untuk lihat quote-quote baper dari Cerita Melan dan Kolis ig : @satriawan_heri