Bagaimanapun Melan tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Kolis
"Hingga detik ini, aku berusaha untuk memperjuangkan hatiku agar selalu menyukaimu. Karena tiap kali kamu ada, aku merasa terjaga"
* * *
Melan mempersiapkan diri untuk berangkat ke rumah Kayla, Melan ingin memberi kejutan untuknya, karena itu Melan tidak membuat janji apapun dengan Kayla. Bagi Melan, tidak ada salahnya memberi kejutan sederhana untuk orang yang dicintai, sekalipun hanya mengajaknya keluar makan malam. Sudah lengkap dengan sepatu ketsnya, kemeja putih dan tidak ketinggalan jaket hitam yang selalu dia kenakan setiap berpergian. Setelah siap, dia langsung turun dari kamarnya dan berpamitan dengan mamanya yang sedang mempersiapkan sebuah bungkusan untuk dititipkan ke Monika, mama Kolis.
"Ma, aku mau ke rumah teman dulu, ada acara", seru Melan menghampiri mamanya untuk berpamitan.
"Iya sayang. Mama mau minta tolong sekalian bawain ini ke rumah Kolis ya. Tante Monika tadi pengen dibuatin bolu, bisa kan?", tanya Reina.
"Bisa Ma, lagi pula acaranya juga santai kok. Yaudah, aku pamit dulu ya ma, assalamualaikum", ucap Melan seraya mencium punggung tangan mamanya.
"Walaikumsalam, hati-hati ya sayang", jawab Reina.
Melan beranjak dari rumahnya menuju rumah Kolis, dengan santai dia mengendarai mobilnya menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai. Sesekali dia melirik ponselnya yang ada di sebelah kirinya. Ia berharap ada pesan dari Kayla, namun pesan yang dia kirim sedari tadi belum juga mendapat balasan dari Kayla. Melan ingin mengajaknya jalan-jalan, hanya sekedar menikmati kebersamaannya bersama Kayla. Dia mencoba menelpon Kayla lewat whatsapp, hanya ada terlihat tulisan "bendering" namun tidak juga mendapat jawaban dari Kayla. Dia kemudian mengembalikan ponselnya ke tempat semula, seraya mendengar lagu kesukaannya di USB yang terpasang di mobilnya.
Dia telah sampai di rumah Kolis, dia menghentikan mobilnya tidak jauh dari pintu rumah. Dia membawa bungkusan yang telah dititipkan mamanya, dia mengetuk pintu. Seseorang kemudian membukanya, tidak lain itu adalah Monika.
"Malam tante, ini ada titipan dari mama", sapa Melan dan menyerahkan bungkusan di tangannya.
"Waduh, jadi merepotkan. Mamamu memang gak pernah lupa kesukaan tante. Gak masuk dulu Lan, tapi Kolisnya baru aja pergi, katanya ada acara sama teman-temannya. Biasanya bareng Mendi, kenal kan?", tanya Monika.
"Gak apa-apa, aku juga buru-buru kok tante, kalo Mendi aku kenal. Temen sekelas kolis kok tan", jawab Melan.
"Tante minta tolong, hubungi dia ya. Soalnya perasaan tante tidak enak semenjak dia pergi, takut dia kenapa-napa", pinta Monika.
"Iya tan, aku coba hubungi dia", jawab Melan. "Yaudah, aku pamit dulu ya tante", lanjutnya.
"Hati-hati di jalan", ujar Monika.
"Iya tan", ucap Melan. Dia langsung masuk mobilnya dan menyalahkan mesinnya dengan segera, ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Kolis.
Dia mengambil ponselnya dan mencari kontak beratas namakan "KOLIS". Dia langsung menghubungi nomor itu, dia menunggu beberapa saat. Hanya tulisan berdering, panggilannya tidak terjawab. Melan kemudian mencoba menghubungi Mendi, beberapa saat telponnya langsung diangkat sama Mendi.
Hallo Men, kamu sama Kolis?
Iya Lan, gimana?
Aku samperin kesana, di tempat biasa kan
Iya Lan. Balapan sudah dimulai soalnya
Balapan? Siapa?
Kolis dan Gilang lawan club mobil dari Bandung
KAMU SEDANG MEMBACA
MELAN & KOLIS
Teen FictionHigh School Series #1 Part masih utuh, jangan lupa membaca sampai bab 3, baru beri vomentnya ya. "Karena tanpa kamu sadari, mencintaimu adalah hal yang paling menyenangkan" ~~~ Bagi cewek sepopuler dan secantik Kolis, mungkin hal aneh jika dia hanya...
