Setelah lebih dari duabelas jam berada di atas pesawat, akhirnya ia tiba bersama kakaknya di New York.
"Kita menginap di mana?" tanya Jena pada kakaknya yang sedang mengetikkan sesuatu di atas layar ponselnya.
Saat ini, mereka sedang mengantri di antrian taksi.
"Apartemenmu saja, aku lupa membooking hotel," jawab Seokjin acuh tak acuh sambil terus memainkan ponselnya.
Jena menghembuskan nafasnya pelan.
Itu artinya ia akan melihat benda-benda miliknya dan Jungkook ya- Ah sudahlah, ia seharusnya bersyukur karena kakaknya sudah membawanya kembali ke New York.
Seokjin berkata bahwa mereka akan tinggal di New York untuk seminggu, karena banyak yang harus Jin lakukan di sana.
Dan itu artinya Jena memiliki waktu yang sangat banyak di New York
"Oppa, giliran kita, simpan dulu ponselmu," ucap Jena pelan sambil menyeret kopernya ke arah taksi, hendak memasukannya ke dalam bagasi.
Seokjin memasukkan ponselnya ke dalam saku lalu membantu Jena menaikkan koper mereka.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam taksi.
"To Empire State Building, please," ucap Seokjin kepada sang supir taksi.
Supir taksi tersebut mengangguk pelan lalu mulai menjalankan taksi tersebut meninggalkan bandara.
"Mengapa kau ke sana?" tanya Jena penasaran pada Seokjin yang sudah membuka ponselnya kembali.
"Aku ada urusan sebentar. Nanti, setelah taksi menurunkanku, kau langsung pergi ke apartemen saja," jawab Seokjin.
Jena menangguk mengerti.
Ia tak pernah tertarik dalam dunia bisnis kakaknya dan juga mendiang ayahnya tersebut.
Lagipula, menurutnya Seokjin sudah bekerja dengan baik tanpa harus diawasi lagi.
Setelah tiba di tujuannya, Seokjin langsung memberikan beberapa lembar dollar pada Jena dan keluar dari taksi dengan membawa tas kerjanya.
Setelah Seokjin melihat taksi yang ditumpanginya telah menjauh darinya, ia segera mengeluarkan ponselnya kembali, lalu menelpon orang yang sedaritadi ia kirimkan pesan.
"Taehyung-ah, apa kau sudah sampai?"
● Autumn White Lies ●
Jena menyeret koper miliknya dan juga kakaknya ke dalam apartemen setelah membuka pintu masuk apartemennya dengan menggunakan kunci yang sengaja ia taruh di pot sebelah pintu masuk.
Ia kemudian menutup pintu kembali dan menguncinya.
Jena berjalan pelan memasuki tempat tinggalnya selama beberapa tahun belakangan ini.
"Aigoo, ternyata aku tak membereskan ini semua saat aku pergi."
Jena menatap pecahan piring dan juga sofa yang penuh dengan serpihan makanan ringan.
"Kalau oppa melihat ini, bisa mati aku."
Jena kemudian menyeret kopernya ke dalam kamar, lalu mengambil vacuum cleaner yang ada di rak kamarnya.
Ia kemudian mulai membersihkan rumahnya tersebut.
Setelah selesai, Jena langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang di kamarnya.
"Ah, rasanya pinggangku mau lepas," keluhnya.
Jena menatap langit-langit kamar, berusaha mengingat kembali aktivitasnya di tempat itu sebelum semuanya berubah berantakan.
Dahulu, siang hari seperti ini, ia baru pulang dari kampusnya. Dan hampir setiap hari Jungkook menjemputnya.
Jadwalnya dengan Jungkook hampir serupa, tetapi karena berbeda gedung, Jungkook selalu menjemputnya menggunakan motor besar milik pria itu.
Jena menghembuskan nafas berat setelah mengingat kebiasaannya tersebut.
"Ah, ada apa denganku, jinjja," gumamnya sambil terkekeh pelan dan mengelap air mata yang sudah sedikit membasahi wajahnya.
Ia kemudian mengambil ponselnya untuk mengecek apakah kakaknya tersebut menghubunginya atau tidak.
Setelah tak melihat ada pesan yang masuk, Jena menggelengkan kepalanya perlahan lalu melempar ponselnya ke belakangnya.
Ia kemudian bangkit berdiri dan hendak ke dapur untuk mengisi perutnya yang sudah meronta-ronta meminta makan.
Lalu, seperti teringat akan sesuatu, Jena membalikkan punggungnya dan dengan cepat mengambil ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.
Ia kemudian menelpon seseorang yang ada di kontak ponselnya.
Jena dengan semangat menyapa orang itu saat orang yang di seberang sana mengangkat panggilannya.
"Hi, Hanna! I've just landed in New York. Let's grab some coffee!"
Aye, another chapter for all of you!
Thanks for your support all this time♡
Thankyou for your vote and comments!
Enjoy reading!
-Berryl
KAMU SEDANG MEMBACA
AUTUMN WHITE LIES
FanfictionSaat musim gugur, semua orang mempunyai kisahnya masing-masing. Begitu pula dengan Jena, yang kisahnya entah berakhir bahagia atau bahkan terlupakan. ©seoulatnight 2017
