TigaPuluhSembilan

1K 56 2
                                        

"Assalamualaikum!! Mama!!" Nafa berteriak,tumben sekali mamanya tidak terlihat diruang tamu ketika Nafa menapakkan kakinya.

"Mama!! Sepeda!!" Terdengar suara panci yang jatuh dari arah dapur. Nafa langsung berlari kesana.

"Ya ampun,mama." Nafa mengelus dadanya sabar. Melihat keadaan dapur yang kacau.

"Apasih,Fa? Dateng bukannya salam malah teriak-teriak. Kamu pikir ini hutan?" Nafa sampai tak berkedip melihat dapurnya yang bisa dibilang seperti habis diterpa badai.

"Mama habis ngapain sih? Dapur kok gak ada bentuknya gini." Desi hanya menunjukkan cengirannya.

"Habis eksperimen,niatnya sih buat bolu panggang. Tapi yang jadi malah kayak gitu." Kata Desi,sambil melirik seenggok bolu yang berwarna kehitaman.

"Ya ampun,ma. Ini bolu?" Tanya Nafa sambil mengangkat bolu tersebut dan seketika ia tak berselera saat melihat bolu itu.

Desi mengangguk, "Kalo aja gak mama tinggal,pasti bolu itu jadi." Nafa kebingungan. Ia tahu,mamanya tidak akan pernah ceroboh pada hal apapun.

"Emangnya tadi mama kemana?"
"Ada film bagus di tv. Jadi tadi mama tinggal bentar. Eh gataunya mama kelupaan kalo lagi panggang bolu. Ya gini deh jadinya." Jelas Desi panjang.

Nafa yang mendengar penuturan itu langsung menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya, "Ya allah,gatau mau ngomong apa."

"Bantuin mama,yuk? Nanti mama buatin bolu terenak yang belum pernah kamu makan." Nafa harus pasrah,mau tidak mau ia juga membantu membereskan kekacauan yang dibuat mamanya ini.

"Mama habis mandi tepung? Kenapa dilantai banyak yang berserakan gini." Nafa langsung mengambil sapu yang tergantung didekatnya.

"Oh itu,tadi kesenggol terus jatuh semua deh."

Nafa menyapu pelan tepung yang berserakan di lantai dapurnya,belum selesai menyapu Desi sudah berkata lagi, "Ganti baju dulu dong,Fa. Biar gak bau keringat dipake besok."

"Nanggung,ma. Lagi dikit habis itu aku langsung ganti baju." Desi hanya mengangguk. Percuma ia buang-buang tenaga untuk berbicara pada Nafa jika pada akhirnya ia tetap melanjutkan pekerjaannya sampai selesai.

"Ma,aku ganti baju dulu ya. Nanti balik lagi." Desi hanya mengacungkan ibu jarinya. Dan setelah itu Nafa pergi ke kamarnya untuk berganti baju.

***

Di lain tempat,tampak Zidan yang sedang duduk santai di ruang tamu rumahnya sambil menikmati kue kering yang Safa beli di supermarket beberapa hari yang lalu.

"Dek?" Safa datang dari arah dapur membawa nampan yang berisi dua cangkir teh hangat.

"Repot-repot aja sih,bun." Kata Zidan sambil tersenyum tipis.

"Udah lama ya kita gak kayak gini?" Zidan mengangguk. Selama ini ia jarang sekali memiliki quality time berdua saja dengan bundanya.

"Lama gak denger kamu curhat. Biasanya kalo ada kakak kamu,dia rusuhin kamu terus." Safa terkekeh saat mengingat kedua anaknya yang tidak pernah bisa akur jika sedang bersama.

"Ziva emang gak pernah bisa lihat aku seneng sebentar."

Plak..

"Aduh,bun,sakit ih." Zidan mengusap pahanya yang terkena pukulan maut dari Safa.

"Lagian gak sopan banget,masak manggil kakaknya cuma nyebut nama aja." Zidan memutar bola matanya kesal. Jadi gara-gara ini paha mulusnya sampai harus terkena amukan dari tangan bundanya.

"Iya iya,maaf deh. Tadi keceplosan." Zidan mengambil cangkir tehnya,dan menyesapnya perlahan. Membiarkan teh beraroma vanilla itu membasahi tenggorokannya dengan nikmat.

Silent Love✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang