Return 48

11.9K 524 41
                                    

Happy reading!

♡♡♡

"Apa yang akan kau lakukan? Kau gila!" sentak suara seorang laki-laki yang begitu familier bagi Shinta yang membuatnya segera mendongak menatap sosok itu.

"Jer...," lirihnya dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.

Sosok yang tidak lain Jeremy pun hanya bisa mengacak rambutnya kesal karena melihat wanita yang ada di hadapannya ini malah menangis tersedu. "Diamlah! aku tidak mau dituduh yang tidak-tidak!" kesalnya.

Namun Shinta masih bergeming dengan tangisannya yang membuat Jeremy semakin bersungut kesal. "Sudahlah jangan menangis. Lagi pula ini kesalahanmu sendiri. Berapa kali aku katakan! jangan berurusan dengan Jo tapi kau tetap keras kepala. Kau juga telah memanfaatkanku untuk menjebak Aika malam itu, dan sekarang kau mendapatkan balasannya bukan? Wanita licik sepertimu memang pantas mendapatkannya. Diamlah!" tutur Jeremy panjang lebar dengan nada marahnya.

Tidak. Jeremy tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya ini. Jeremy dan Shinta di pertemukan lewat situasi rumit yang membuat keduanya harus berurusan satu sama lain, dan siapa sangka wanita ini begitu ambisius sekaligus licik di waktu yang bersamaan.

Melihat Shinta yang masih menangis membuat Jeremy menghela nafasnya kesal.

"Diam atau aku tinggal sekarang juga?" desisnya, dan Jeremy pun memilih untuk membalikkan badannya hendak melangkah namun seseorang menahan tangannya yang membuatnya kembali menoleh.

"Tolong," lirih Shinta masih menggenggam lengan Jeremy tanpa menatap lelaki itu. Ia baru saja meruntuhkan sedikit egonya untuk tidak memohon pada siapa pun. Tapi kali ini dirinya benar-benar membutuhkan bantuan lelaki menyebalkan yang ada di hadapannya ini.

Untuk sesaat Jeremy hanya terdiam sambil mengalihkan tatapannya mulai jengah. Hingga tatapan Jeremy tertuju pada dua orang yang tengah berjalan ke arahnya dan Shinta tengah membawa sebuah kamera, dan Jeremy tahu mereka adalah seorang wartawan terlihat dari seragamnya yang terdapat logo salah satu stasiun TV. "Shit!" umpatnya.

Entah apa yang Jeremy lakukan tapi yang pasti lelaki itu sudah membuka jaket denim miliknya sambil berjongkok di hadapan Shinta dan menutupi kepala wanita itu.

"Diam, dan ikut saja aku. Ada wartawan di belakangmu," bisiknya sambil membantu Shinta berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.

Di sisi lain Shinta hanya menurut saja sekaligus terkejut. Sejak kapan lelaki brengsek tak tahu aturan seperti Jeremy berubah menjadi baik seperti ini? Shinta yakin ini tak gratis, dan dugaannya benar ketika ia mendengar ucapan Jeremy setelah lelaki itu sudah duduk di balik kemudi mobilnya.

"Kau harus membayar atas kebaikanku ini," ucap Jeremy dengan tatapan songongnya membuat Shinta memutar bola matanya jengah.

"Aku tahu. Dasar pamrih!" ketus Shinta sambil menghapus sisa air matanya, dan memakai jaket milik Jeremy untuk membungkus tubuhnya yang sedikit kedinginan.

"Ayolah. Di dunia ini tidak ada yang gratis."

♡♡♡

"Ternyata kau ada di sini."

Jo memasuki ruangan melukisnya dan menemukan Aika yang ia cari ternyata tengah membereskan alat-alat lukis yang belum sempat ia bereskan.

"Bukankah sudah kubilang biarkan aku saja yang membereskannya nanti. Kau tidak usah cape-cape seperti ini. Minumlah!" omel Jo sambil menyodorkan susu kehamilan yang sudah ia buat untuk Aika yang sudah menjadi kebiasaan Jo belakangan ini.

"Aku hanya sedang mencari kegiatan dari pada menganggur tidak jelas, dan lagi aku tidak suka melihat ruangan berantakan seperti ini, Jo." jawab Aika sambil menerima segelas susu rasa coklat dari Jo dan langsung duduk di sofa.

Return (Completed✔)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang