Happy reading!
♡♡♡
"Nath!"
"Hmmm.!
"Nath!"
"Hmmm!"
"Nathan!" teriak Jessi yang merasa panggilannya terabaikan. Lihatlah! seseorang yang ia panggil malah masih sibuk berkutat dengan komputernya dan tidak memedulikan panggilannya sama sekali.
Jo yang memang sejak tadi fokus dengan komputernya pun akhirnya mengalihkan pandangannya, dan menatap Jessi yang tengah tiduran di sofa di ruangan kantornya tanpa melakukan apa pun. Jika dilihat dari raut wajah Jessi yang tengah bersungut-sungut kesal karena diabaikan olehnya itu berarti ada sesuatu yang ingin Jessi ucapkan padanya.
"Ada apa? Kau tahu aku sedang sibuk," ucap Jo akhirnya seraya bangkit dari kursi meja kerjanya dan menghampiri Jessi kemudian duduk di sofa yang sama samping Jessi.
Jessi masih diam dengan wajah kesalnya sedangkan tatapannya ia alihkan ke langit-langit ruangan berusaha mengabaikan Jo yang ada di sampingnya. Melihat itu senyum jahil kemudian muncul di bibirnya. Ia mengangkat tangannya dan ia pun menggelitiki perut Jessi yang membuat tubuh Jessi terlonjak dan ia tertawa dengan histerisnya karena kegelian.
"Ada apa, heum? Kau tidak pernah berhasil untuk mendiamkanku," ujar Jo masih terus menggelitiki perut Jessi tanpa henti.
"Nath! Ampun! Berhenti!" teriak Jessi dengan nafas terengah-engah berusaha mengenyahkan tangan jahil Jo yang masih bermain-main dengan perutnya. "Iya-iya! Berhenti! Aku tidak akan mendiamkanmu lagi," pasrah Jessi yang membuat Jo langsung menghentikan aksinya .
Jessi bangkit dari posisinya kemudian duduk di samping Jo masih dengan nafas terengah-engah. Ia menyeka air mata yang menggenang di matanya karena terlalu banyak tertawa.
"Kau membuat rambutku berantakan bodoh! Dasar adik laknat!" gerutu Jessi sembari menyisir rambutnya menggunakan tangan.
"Well, kita hanya selisih 10 menit kalau kau lupa. Aku bukan adikmu!" ucap Jo enteng seraya menyandarkan punggung tegapnya ke sandaran sofa.
Jessi yang mendengar itu pun langsung melayangkan toyoran di pelipis Jo. "Tetap saja aku yang lahir lebih dulu, seharusnya kau lebih hormat kepadaku."
"Ah! benar juga. Kalau begitu apa yang ingin kau ucapkan pada adikmu ini kakakku yang tercinta. Adikmu ini sedang sibuk." Dengan gaya bicara semanis mungkin Jo menanyakan apa maksud kedatangan Jessi kemari dengan sopannya mencoba menjadi adik yang baik sekarang.
Jessi yang melihat cara bicara Jo malah menyengit jijik dengan tatapan anehnya, dan lihatlah raut wajah Jo yang di buat semanis mungkin dengan kadar paksaan di sana. "Menjijikkan! Jangan lakukan itu!" kesal Jessi yang membuat Jo tidak bisa lagi menahan tawanya.
"Jadi kenapa kau malah datang kemari di jam kerja seperti ini?" tanya Jo berubah serius setelah berhasil menghentikan tawanya.
"Itu—"
"Dan pastikan apa yang kau ucapkan itu penting, Jess!" sela Jo memotong ucapan Jessi begitu saja.
Jessi berdecap kesal di buatnya. "Jangan memotong ucapanku!" ucapnya seraya kembali merebahkan dirinya di sofa dengan kaki yang ia selonjorkan di atas paha Jo dengan seenaknya.
Jessi menghela nafasnya. "Alex pergi," gumamnya yang langsung menarik perhatian Jo.
"Pergi? Ah! apa dia pergi darimu? Apa dia menyakitimu? Dia menghianatimu kan? Katakan! dia tidak akan lolos dariku jika laki-laki brengsek itu melakukannya!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Return (Completed✔)
RomantizmHighest rank #5 Romance Aika, Gadis cantik yang dulu memiliki sifat yang ceria, percaya diri, berasal dari keluarga kaya dan populer di sekolahnya kini kehidupannya berubah 180 derajat karena semua hal itu terenggut darinya dalam waktu yang hampir b...